Minggu, 18 Januari 2009

Filosofi Begalan

FILOSOFI BEGALAN

1. Wangking/pikulan adalah mengisyaratkan simbol mikul dhuwur mendhem jero. Artinya wong urip jejodohan selalu ada yang abot dan ada yan g enteng. Oleh karenanya segala perkara harus di rengkuh bareng atau diembat bareng.
2. Ian atau ilir yaitu dapat bermakna jagad besar dan jagad kecil. Orang berumah tangga baru memasuki jagad cilik. Jagad dalam ilir itu ada 4 sudut, yang berarti bahwa pengantin harus bisamemberikan kesejukan kepada pojok papat yaitu bapak, ibu dan mertua laki-laki dan perempuan. Fungsi ilir adalah dapat ngadem-ngademi sesama pasangan jika telah terjadi kekisruhan. Selain itu ilir juga bersifat mendatangkan angin untuk mengusir bau yang tidak sedap dalam kehidupan berumah tangga.
3. Cheting berarti wadah nasi. Artinya manusia hidup berada dalam wadah (dunia) yang memiliki aturan-aturan tertentu. Aturan-aturan itu berarti syariat islam.
4. Kukusan, kaku pisan/kakune mung sepisan. Orang hidup harus kaku atau kokoh dalam memegang 5 M yakni metu yakni harus keluar untuk bebrayan dengan tetangga tepalih. Mengkurep berarti eling dumateng kekalih tiang sepah. Mlumah berarti eling kepada dzat yang maha kuasa. Modot berarti modot pemikirane. Atau ayo mbangun katresnan lan mencapai cita-cita kalian pemikirane ingkang modot dan berkembang.
5. Centong berarti keadilan dalam rumah tangga. Karena centong selalu digerakan kekanan dan kekiri. Yang menggambarkan kedua pengantin laki-laki dan perempuan perlu adil dan seimbang dalam segala gerakan.
6. Irus berarti tumindake sing lurus anggone jejodohan. Irus juga bermakna singkatan: i: iman, r: rukun, u: usaha, s: sekalian. Hal ini berarti: ayo pada usaha bebarengan kanthi rukun lan guyub di dasari keimanan. Fungsi irus adalah untuk mencicipi makanan. Artinya laki-laki hendaknya tidak selingkuh dan mencicipi istri orang.
7. Siwur artinya asihe ojo diawur-awur artinya seseorang pengantin jangan selingkuh.
8. Tampah. Berfungsi kanggo nyunggi. Artinya seorang istri atau suami harus bisa nyunggi atau menjaga aib dan kekurangan kedua belah pihak. Selain itu tampah juga berfungsi untuk menseleksi mana beras dan mana kotoran yang bukan beras. Oleh karenanya perkataan dan perbuatan perlu diseleksi mana yang baik mana yang buruk.
9. Pari berarti mapar tur keri artinya harus memperhatikan bobot,bebet, bibit dan kalau sudah tua hendaknya pandai merunduk.
10. Ciri dan mutu. Ciri dan mutu harus seimbang cara memakainya. Jika tidak seimbang maka terjadi musibah.
11. Suket ; suwe luwih raket
12. Suluh; kanggo mbakar-mbakar. Jadi jangan sampai kebakar antara kedua pengantin.
13. Kendil ;ken dadi lancer. Artinya sakinah, mawadah dan warohmah.

Kreativitas Pustakawan

PENGEMBANGAN KREATIVITAS PUSTAKAWAN
“Tinjauan Secara Psikologis”
Oleh: Safrudin Aziz S.Pd.I, S.IPI.[1]
Abstract

The Library is an institution administering collections of paper work, and record work by professional manner to support education, research, information, and recreation for users. To develop the library and the reading society is needed the creative librarian who can improving theirselve and their creativity by 4-P strategic (person, process, press and product).
Keyword: creativity, librarian,

Pendahuluan
Apabila dilakukan pengamatan sederhana terhadap kebiasan hidup sehari-hari masyarakat, baik anak maupun orang dewasa, tampaknya kegiatan membaca masih belum menjadi suatu kebiasaan. Apakah keadaan yang demikian ini dapat dikatakan sebagai suatu cerminan dari masyarakat yang kurang berminat membaca?. Akan tetapi disatu sisi bilamana dicermati tentang perkembangan yang terjadi selama 10 tahun terakhir pada bidang penerbitan Koran dan majalah, ternyata jumlah penerbitan terus menunjukan peningkatan yang tinggi. Keadaan yang demikian semestinya juga mencerminkan peningkatan minat baca pada masyarakat.
Secara konkrit diakui, bahwa terjadinya kapasitas minat baca masyarakat mengalami peningkatan tetapi hanya terbatas pada membaca Koran dan majalah. Sedangkan minat baca untuk buku yang memuat pengetahuan yang menyebabkan masyarakat menjadi cerdas dan mampu bersaing diberbagai bidang dengan masyarakat lain didunia internasional masih memprihatinkan (http://www.cybertokoh.com/mod).
Bahkan menurut beberapa catatan dari hasil penelitian tentang pemetaan kondisi minat baca masyarakat yang dilakukan Departemen Pendidikan Nasional bersama Perpustakaan Nasional RI tahun 1997 adalah (1) masyarakat Indonesia memiliki minat baca tergolong rendah dibandingkan dengan beberapa Negara ASEAN, dan (2) dominannya budaya tutur sebagai salah satu faktor penyebab rendahnya kebiasaan dan kegemaran membaca masyarakat Indonesia (Dokumen 2008 belum dipublikasikan). Lebih jauh harian kompas juga mengemukakan bahwa rendahnya minat baca disebabkan oleh faktor budaya/kultur masyarakat yang senang berkumpul untuk mengobrol, menariknya acara-acara yang ditayangkan oleh media elektronik dan langkanya bahan bacaan yang bermutu dan relevan dengan kebutuhan pembaca (Kompas, 5 Mei 1997, hal: 11).
Kebiasaan membaca masyarakat Indonesia yang masih relatif lebih rendah juga sering diperbincangkan, baik dalam berbagai pertemuan ilmiah ataupun yang dipublikasikan melalui berbagai media cetak. Bahkan minat dan kebiasaan membaca masyarakat Indonesia relatif lebih rendah dibandingkan dengan kebiasaan membaca masyarakat di Malaysia dan Singapura. Sebagaimana kapasitas perbandingan pembaca Koran dan jumlah penduduk Indonesia 1:40. Artinya bahwa satu surat kabar di Indonesia dibaca oleh 40 orang. Di Malaysia, rasio pembaca surat kabar adalah 1:8, (satu surat kabar hanya dibaca oleh 8 orang) dan Singapura rasionya 1:3 (satu surat kabar hanya dibaca oleh 3 orang) (Purwoko, 1997: 15).
Selain rendahnya minat atau kebiasaan membaca masyarakat Indonesia, menurut Hieronymus Budi Santoso, budaya baca msyarakat Indonesia juga dipengaruhi oleh perbedaan kemampuan membaca peserta didik dengan peserta didik dibeberapa Negara tetangga. Kemampuan membaca peserta didik Indonesia hanya 51,7% yaitu jauh lebih rendah dibandingkan dengan kemampuan membaca peserta didik di Thailand (65,1%), Singapura (74,0%), dan Hongkong (75,5%) (Kompas, 25 September 1996, hal: 11).
Rendahnya budaya baca masyarakat Indonesia khususnya pada dunia akademik juga terletak dari para pustakawan dan perpustakaan. Padahal pustakawan merupakan ujung pokok dari operasional perpustakaan. Artinya perpustakaan sebagai jantung sekolah atau perguruan tinggi sedangkan pustakawan sebagai urat nadi yang ikut menentukan kehidupan pemikiran ilmiah pada dunia pendidikan. Akan tetapi perpustakaan dan pustakawan yang berposisi penting pada kenyataannya belum dapat dijadikan “ruh pendidikan” ditiap-tiap lembaga pendidikan. Sehingga kiprah pustakawan belum terpercaya dan belum maksimal dalam pelaksanaan pencerdasan bangsa. Dengan perihal tersebut pustakawan dituntut harus mampu berfikir higher order thingking (HOT) dan dapat mengembangkan kepribadian secara kreatif guna membantu pelaksanaan program budaya baca bagi masyarakat.

Kreativitas dan Ciri-cirinya
Kreativitas merupakan bagian yang penting, pokok serta tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia. Karena berfikir dan bersikap secara kreatif menjadikan seseorang mampu melihat berbagai kemungkinan dalam pemecahan masalah, serta menjadi kunci dalam peningkatan kualitas dan taraf hidup individu. Disisi lain, kreativitas merupakan bagian dari aktifitas mental yang dimiliki seseorang. Pada umumnya kreativitas hanya diartikan sebatas sebagai daya cipta atau kemampuan untuk menciptakan hal-hal baru. Padahal sesungguhnya apa yang diciptakan seseorang tidak perlu hal-hal yang baru sama sekali, tetapi merupakan gabungan (kombinasi) dari hal-hal yang sudah ada sebelumnya. Menurut Moreno, yang penting dalam kreativitas itu bukanlah penemuan sesuatu yang belum pernah di ketahui orang sebelumnya, melainkan produk kreativitas itu merupakan sesuatu yang baru bagi diri sendiri dan tidak harus merupakan sesuatu yang baru bagi orang lain atau dunia pada umumnya (Munandar, 1992: 21).
Definisi sederhana juga dikemukakan Guilford (dalam Munandar, 1992: 35) bahwa kreativitas atau berfikir kreatif merupakan kemampuan untuk melihat bermacam-macam kemungkinan penyelesaian terhadap suatu masalah. Selanjutnya Seto (2004: 22), bahwa berfikir kreatif adalah kemampuan untuk menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah berdasarkan data atau informasi yang tersedia, dimana penekanannya didasarkan pada kualitas, ketepatgunaan dan keragaman jawaban.
Sund (dalam Munandar 1987: 37) menyatakan bahwa individu dengan potensi kreatif memiliki ciri-ciri berikut: (a) hasrat ingin tahu yang besar, (b) bersikap terbuka terhadap pengalaman baru, (c) panjang akal, (d) keinginan untuk menemukan dan meneliti, (e) cenderung lebih menyukai tugas yang berat dan sulit, (f) cenderung mencari jawaban yang luas dan memuaskan, (g) memiliki dedikasi bergairah serta aktif dalam melaksanakan tugas, (h) berfikir fleksibel, (i) menanggapi pertanyaan yang diajukan serta cenderung member jawaban lebih banyak, (j) kemampuan membuat analisis dan sintesis, (k) memiliki semangat bertanya serta meneliti, (l) memiliki daya abstraksi yang cukup baik, dan (m) memiliki latar belakang membaca yang cukup luas.
Secara definitif dapat ditarik sebuah benang merah bahwa kreativitas dirumuskan sebagai kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan dan orisinalitas dalam berfikir, serta kemampuan untuk mengelaborasi (mengembangkan, memperkaya, memperinci) suatu gagasan. Ciri-ciri kreativitas seperti ini merupakan ciri-ciri yang berhubungan dengan kemampuan berfikir seseorang dengan kemampuan berfikir kreatif. Sehingga semakin kreatif seseorang, Ciri-ciri tersebut semakin dimiliki. Tetapi ciri-ciri tersebut belum menjamin perwujudan kreativitas seseorang. Sedangkan ciri-ciri lain yang berkaitan dengan perkembangan afektif seseorang sama pentingnya agar bakat kreatif seseorang dapat terwujud. Diantara ciri-ciri afektif dari kreativitas yang menyangkut sikap dan perasaan seseorang antara lain motivasi dari dalam untuk berbuat sesuatu, pengabdian atau penglihatan diri terhadap suatu tugas dan sebagainya.
Menurut Munandar (1987: 36), bahwa ciri-ciri afektif yang sangat esensial dalam menentukan prestasi kreatif seseorang yaitu (a) rasa ingin tahu, (b) tertarik terhadap tugas-tugas majemuk yang dirasakan sebagai tantangan, (c) berani mengambil resiko untuk membuat kesalahan atau untuk dikritik orang lain, (d) tidak mudah putus asa, (e) menghargai keindahan, (f) mempunyai rasa humor, (g) ingin mencari pengalaman-pengalaman baru, dan (h) dapat menghargai dirinya sendiri maupun orang lain.
Dari kedua bentuk sikap kreatif baik secara kognitif maupun afektif bagi pustakawan perlu dikembangkan. Hal ini dilatar belakangi pustakawan sebagai pengemas dan penyaji informasi yang bekerja secara aktif dan efektif.
Berdasarkan uraian di atas, kreativitas pustakawan yang menjadi fokus dalam tulisan ini adalah bagaimana aplikasi pengembangan berfikir dan bersikap kreatif yang perlu dikembangkan pustakawan dalam mengelola perpustakaan sebagai pusat informasi.

Aplikasi Kreativitas Bagi Pustakawan
Pada era informasi saat ini, pustakawan dituntut bekerja secara kreatif. Tuntutan ini dikarenakan perkembangan informasi telah berkembang pesat, berubah dalam skala perhitungan detik. Bahkan menurut Beg Dikin (dalam Ziadudin Sardar, 1990: 54), bahwa informasi kini berperan sebagai ruh dari revolusi teknologi. Bilamana teknologi telah memperoleh ruh berupa informasi, maka masyarakat teknologi akan mencapai kematangan secara pola pikir maupun sikap.
Seiring dengan realitas zaman, pustakawan harus mampu mengubah struktur paradigma yang strategis. Karena revolusi informasi mengubah dan mempunyai pengaruh yang lebih menentukan terhadap masyarakat ketimbang revolusi tenaga yang di cetuskan oleh mesin uap. Sehingga revolusi informasi merubah akan pekerjaan yang tadinya dilakukan oleh manusia digantikan oleh teknologi secara otomasi. Bahkan teknologi informasi membuat pekerjaan yang tidak pernah dilakukan sebelumnya oleh manusia bisa dilakukan oleh manusia sehingga berdampak pada inovasi sistem, yakni struktur-struktur sosial ekonomi yang ada digantikan oleh sistem-sistem sosial dan ekonomi yang baru.
Mengembangkan kreativitas sebagai pustakawan dapat dilakukan melalui pendekatan psikologis, yaitu pendekatan secara person, process, press, dan product (Kak Seto, 2004: 15).
Aspek Person
Menurut UU No 43 Tahun 2007, Pustakawan adalah seorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pekerjaan perpustakaan. Istilah kompetensi biasa diukur dengan latar belakang pendidikan sehingga memiliki kemampuan secara profesional dalam mengelola dan mengembangkan perpustakaan.
Tuntutan ke-profesionalan dan kreativitas pustakawan menjadi ujung tombak berhasilnya program-program sebuah perpustakaan sebagai jantung lembaga pendidikan. Hal ini diketahui bahwa perpustakaan bertujuan memberikan layanan kepada pemustaka, meningkatkan kegemaran membaca, serta memperluas wawasan dan pengetahuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan demikian pustakawan era kini perlu menerapkan dan mengembangkan prinsip kepribadian (person) dalam melayani pemustaka.
Prinsip person sebagai pustakawan minimalnya mampu memberikan layanan kepada pemustaka secara prima dan berorientasi bagi kepentingan pemustaka yang dikembangkan melalui pemanfaatan sumber daya perpustakaan serta pemberian layanan secara terpadu yang diwujudkan melalui kerja sama antar perpustakaan (networking).
Diantara pengembangan pribadi (person) secara kognitif bagi pustakawan dalam meningkatkan pelayanan prima antara lain: pertama, pustakawan harus memiliki hasrat ingin tahu yang besar akan kemajuan perkembangan sains dan teknologi. Hal ini diperoleh melalui pengayaan intelektual dan informasi dari berbagai media cetak maupun elektronik. Pentingnya pustakawan menguasai berbagai informasi seacra detail maupun general dimaksudkan agar kebutuhan pemustaka dapat terpenuhi dan terpuaskan sehingga pemustaka berkehendak untuk selalu memanfaatkan jasa pustakawan dan informasi dapat tersebar secara dinamis.
Kedua, pustakawan harus bersikap terbuka terhadap pengalaman-pengalaman baru. Artinya seorang pustakawan tidak bersikap fanatik terhadap berbagai informasi ataupun terhadap informan. Sikap semacam ini akan berdampak pada pengayaan diri, fleksibel, dan cenderung disukai oleh berbagai pemustaka sehingga pustakawan benar-benar berperan dan dibutuhkan masyarakat yang berpola pikir komplek.
Ketiga, keinginan untuk menemukan dan meneliti. Pustakawan sebagai penemu dan peneliti jarang terlihat. Secara realita, sebagian besar pustakawan Indonesia hanya lebih menitik beratkan pada bidang pelayanan dan penyajian informasi semata. Padahal melalui kedua bidang tersebut, penelitian dan berbagai temuan dapat diperoleh hingga dipikirkan solusi, evaluasi, serta pada akhirnya mampu memunculkan berbagai ragam teori ilmiah. Untuk itu, berbagai kegiatan penelitian secara kualitatif dan kuantitatif perlu dilakukan secaar berkala dengan membentuk tim yang saling belajar dan bekerja sama sehingga pustakawan benar-benar mengetahui kondisi dan kebutuhan pemustaka pada perpustakaan.
Selain hal tersebut, perpustakaan perlu memberikan pembekalan baik melalui kursus ataupun pelatihan tentang penelitian perpustakaan kepada pustakawan ahli, madya dan utama. Disamping sebagai evaluasi juga diperlukan dalam pengumpulan angka kredit.
Keempat, pustakawan perlu mengembangkan kreativitas dalam kemampuannya menyusun sintesis, analisis hingga cenderung dapat memberikan jawaban yang luas dan memuaskan. Kemampuan ini dapat diperoleh secara baik bilamana pustakawan memiliki semangat bertanya, bersikap tanggap, berdedikasi dan aktif dalam melaksanakan tugas. Kelima, kepribadian membaca perlu diterapkan dalam keseharian hingga pustakawan memiliki daya abstraksi yang cukup baik.
Dari kelima poin tersebut, pengembangan kreativitas dari aspek person akan membawa perubahan pada pribadi pustakawan dalam memberikan pelayanan secara kreatif sehingga pustakawan memiliki kelancaran (fluency), keluwesan (flexibility), orisinalitas (originality) dalam berfikir serta mampu mengelaborasi (mengembangkan, memperkaya, memperinci) berbagai informasi yang diperlukan pemustaka.
Suud dalam harian Suara Merdeka menyatakan, bahwa pengembangan pribadi kreatif secara kognitif sebagai tenaga fungsional seperti pustakawan dan dosen dapat dilakukan dengan beberapa tahapan: (1) mentoring yaitu pustakawan memberikan bimbingan kepada pemustaka terkait dengan user education, short course (kursus kilat penelusuran informasi), bimbingan penelitian ilmiah bagi mahasiswa dan sebagainya. Mentoring dapat pula diberikan oleh pustakawan senior terhadap pustakawan yunior dalam bentuk sharing. (2) exploring/researching yakni pustakawan menyelenggarakan kajian ilmu ataupun penelitian lapangan. (3) publishing; menulis dan menerbitkan buku atau tinjauan masalah maupun hasil penelitian. (4) reaching beyond the world; berbicara dalam seminar atau menghadiri seminar. (5) change the world; memiliki kepedulian terhadap perkembangan dunia dengan ilmu yang terkini. (6) till the truth; memiliki sikap sebagai ilmuwan dalam membantu pembangunan peradaban dunia yaitu kejujuran. (7) reading; merupakan sikap ilmuwan lain sebagai manivestasi keingintahuan akan perkembangan dunia dan keilmuan serta, (8) discussing; merasa perlu mendiskusikan berbagai hal dengan berbagai pihak, baik mahasiswa, sesama pustakawan ataupun guru dan dosen pada tiap-tiap lingkungan pendidikan (7 Januari 2009, hal 07).
Pengembangan pribadi kreatif secara afektif perlu mendapatkan perhatian. Sebab hal tersebut berkaitan erat dengan manajemen pelayanan hati, sikap dan moralitas pustakawan. Adapun sikap kreatif dari segi afeksi yang perlu dikembangkan antara lain: pertama, bersemangat, sabar, dan tertarik terhadap tugas dan majemuk yang dirasakan sebagai tantangan. Kedua, pustakawan berani untuk dikritik oleh pemustaka dan memiliki keberanian dalam mengambil resiko. Ketiga, mampu menghargai dirinya sendiri maupun orang lain.
Dari pengembangan kreativitas aspek person secara intelektual maupun moral, pustakawan akan berperan ganda. Satu sisi bergerak pada wilayah pelayanan (service) yang menyajikan informasi secara tepat dan akurat. Sedangkan di sisi lain sebagai peneliti atau penemu yang mengetahui perkembangan keilmuan dan perubahan berbagai kebutuhan pemustaka.
Aspek Process
Dalam rutinitas kegiatannya, perpustakaan merupakan sebuah wadah yang mengelola berbagai koleksi baik koleksi karya tulis, karya cetak maupun karya rekam secara professional, guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi dan rekreasi para pemustaka (UU No 43 Th. 2007).
Sebuah kata kunci dari pengertian di atas adalah dalam hal pengelolaan. Artinya sebuah proses yang dilakukan pustakawan dalam mengelola sebuah perpustakaan benar-benar perlu mempertimbangkan secara cermat jenis koleksi apa yang dibutuhkan pemustaka. Untuk itu berbagai jenis koleksi perlu diseleksi, diolah, disimpan, dilayankan dan dikembangkan secara kreatif sesuai kepentingan pemustaka dengan memperhatikan perkembangan teknologi informasi dan kamunikasi.
Kreativitas pustakawan terletak pada prosesnya. Dalam proses kreatif tersebut, pustakawan perlu mencoba berbagai kegiatan manajemen perpustakaan dari pekerjaan yang ringan sampai dengan pekerjaan yang berat. Bahkan memerlukan konsentrasi pemikiran. Kita bisa lihat kreativitas yang tumbuh pada anak prasekolah. Anak prasekolah berkreasi dengan mencoba, menelusuri hingga mendapatkan sebuah hasil. Dalam proses mencoba, tidak semua anak lancar dan berhasil dalam melakukan sesuatu, tetapi sering kali dihadapkan pada kegagalan, rintangan dan kecelakaan. Dalam proses kreatif tersebut minimalnya anak-anak memperoleh pengalaman, belajar mencoba secara mandiri, bereksperimen, tanpa ada beban. Sebagaimana menurut De Bono (dalam Champhel 1984: 10) kreativitas dicapai dengan pola berfikir dihutan melalui tahap pencarian, percobaan hingga penyelesaian terhadap kegagalan.
Ketika berproses kreatif, pustakawan bisa melihat bagaimana kegiatan kreatif dari anak-anak. Kemudian semestinya berani mencoba berbagai kegiatan lapangan mengenai perihal “bagaimna sistem pengadaan yang efektif dan efisien”?, “bagaimana strategi melayani pemustaka agar dapat terpuaskan”?, bagaimana promosi yang perlu dilakukan dan sebagainya”. Sehingga dengan proses mencoba tersebut, pustakawan akan mampu mempertimbangkan dan mengambil sebuah tindakan melalui analisis aspek kekuatan yang dimiliki, jenis kekurangan dan hambatannya sehingga terpikirkan apa solusi yang perlu diambil dalam pengembangan perpustakaan.
Aspek Press
Press adalah sebuah dorongan atau motivasi guna memberikan semangat. Press dapat diberikan oleh lembaga terhadap pustakawan, pustakawan kepada pemustaka, ataupun pemerintah yang ditujukan secara konkret kepada masyarakat (mahasiswa, pemustaka) khusus dalam membudayakan gemar membaca.
Pada hakikatnya dorongan bisa berasal dari berbagai sumber dengan tanpa melihat dari sudut usia, pendidikan dan kedudukan. Pemberian dorongan dikemukakan dalam UU Perpustakaan No. 43 Th. 2007 pasal 48, bahwa pemerintah telah memfasilitasi buku murah dan berkualitas sebagai wujud menggerakan budaya baca bagi masyarakat serta menyediakan sarana perpustakaan ditempat-tempat umum yang mudah dijangkau, murah dan bermutu.
Pengembangan kreativitas bagi pustakawan tentunya sangat membutuhkan unsur dorongan. Sebagaimana dorongan dapat berkriteria materi seperti pemberian tunjangan fungsional, pemberian honor dan masa kerja mencapai 60 tahun. Dorongan non materi bagi pustakawan dapat berupa pemberian piagam penghargaan dari lembaga, pengiriman diklat, kerjasama antara pustakawan dengan dewan guru atau dosen sehingga menumbuhkan keakraban dan suasana kekeluargaan.
Dalam menyebarkan informasi, pustakawan juga memerlukan press yang diberikan kepada pemustaka guna menumbuhkan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan. Adapun beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain: pertama, pustakawan pada unit perpustakaan mengadakan gerakan nasional gemar membaca secara rutin. Kedua, mempromosikan seputar pemanfaatan dan fungsi perpustakaan bagi masyarakat. Ketiga, perpustakaan mengadakan lomba penyusunan karya ilmiah, artikel, paper serta bedah buku secara rutin. Keempat, membiasakan siswa atau mahasiswa yang lulus untuk meninggalkan kenangan buku khusus pada perpustakaan. Kelima, biasakan pustakawan memberikan kado hadiah berupa buku terhadap peminjam terbanyak. Dengan demikian peran press akan mampu menghidupkan perpustakaan sebagai pusat informasi pendidikan dan rekreasi.
Aspek Product
Product atau hasil karya merupakan bentuk akhir dari kreativitas. Untuk dapat menghasilkan sebuah produk kreatif, pustakawan perlu membekali diri dengan 3-P (person, process, press). Sebab ke-3 P tersebut merupakan kawah chandradimuka dalam pembelajaran dan pengembangan diri.
Pustakawan yang kreatif dituntut mampu menghasilkan produk. kriteria produk tidak mesti harus mengandung unsur kebaruan, orisinal sebagaimana belum pernah diciptakan oleh seseorang, tetapi produk kreatif bisa bersifat kombinasi dari beberapa unsur sehingga dapat berfungsi sebagai problem solving maupun sesuatu yang dapat mengembangkan perpustakaan.
Pustakawan dalam menghasilkan produk memiliki berbagai maksud dan tujuan. Produk-produk kreatif selain berguna terhadap diri pribadi pustakawan tentunya juga bernilai guna sebagai bentuk promosi serta mempermudah dalam penelusuran informasi. Sebagai penghasil produk, pustakawan terutama madya dan utama dituntut melakukan berbagai penelitian ilmiah seputar perpustakaan dan kepustakawanan. Sehingga produk kreatif bentuk karya ilmiah yang terpublikasikan dapat dihasilkan. Hal ini menjadi sangat penting melihat hingga saat ini pustakawan mengalami kemandulan dalam bidang penelitian sehingga koleksi buku tentang keilmuan perpustakaan masih jarang dihasilkan sehingga berdampak referensi perkuliahan pada jurusan ilmu perpustakaan sebagian besar masih menggunakan buku-buku produk lama, meskipun sebagian pakar telah menerbitkan hasil penelitian terbaru dalam jumlah kecil.

Kesimpulan
Budaya baca masyarakat dan perkembangan perpustakaan pada hakikatnya sangat dipengaruhi oleh peran kreatif dari pustakawan. Di era sekarang pustakawan dituntut untuk menjadi peneliti guna mengetahui seberapa besar selera masyarakat terhadap budaya baca dan kecintaannya pada perpustakaan. Selain itu, pustakawan perlu mengembangkan kreativitasnya pada bidang pengelolaan perpustakaan yang meliputi unsur 4 P yakni pengembangan pada aspek person, process, press dan product.
Dengan dikembangkannya kreativitas dari 4 P tersebut maka diharapkan pustakawan akan mampu mengembangkan perpustakaan dan pemustaka akan merasa nyaman dengan sistem pelayanan prima guna mendapatkan informasi yang tepat dan akurat.




DAFTAR PUSTAKA

Arixs. 2006. Enam Penyebab Rendahnya Minat Baca. Sumber: http://www.cybertokoh.com/mod. yang diakses selama tahun 2008
Champhel, David. 1984. Mengembangkan Kreativitas. Jakarta: Kanisius.
Departemen Pendidikan Nasional dan Perpustakaan Nasional RI. (2008). Hasil Penelitian yang Belum di Publikasikan.
Harian Umum Kompas. 1997. Buku Pelajaran Tidak Tingkatkan Minat Baca. Jakarta: Harian Umum Kompas. Tanggal 5 Mei 1997.
Seto, Mulyadi. 2004. Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak. Jakarta: Gramedia.
Munandar, SC Utami. 1992. Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah. Petunjuk bagi para guru dan orang tua. Jakarta: PT GramediaWidiaswara Indonesia.
Purwoko, Dwi. 1997. Minat Baca Rendah Terkait Masalah Psikologis. Artikel yang dimuat di harian kompas. Terbitan Tanggal 21 Juni 1997.
Santoso, Hieronymus Budi. 1996. Mewujudkan Keluarga Gemar Membaca. Jakarta: Harian Umum Kompas Tanggal 25 September 1996.
Suud, Abu. 2009. Kembalikan Guru Besar ke Kampus. Semarang: Harian Umum Suara Merdeka Tanggal 7 Januari 2009.
[1] Penulis adalah Pustakawan pada Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Purwokerto sekaligus alumni Fakultas Ilmu Perpustakaan Universitas Yarsi Jakarta.

Jumat, 20 Juni 2008

Kreativitas Anak Usia Prasekolah

Penelitian Ilmiah
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Manusia merupakan makhluk terbaik dan paling sempurna yang memiliki akal dan fikiran. Dalam hal ini Ibn ‘Arabi misalnya melukiskan hakikat manusia dengan mengatakan bahwa tidak ada makhluk Allah yang lebih bagus dari pada manusia, yang memiliki daya hidup, mengetahui, berkehendak, berbicara, melihat, mendengar, berfikir, dan memutuskan (Samsul Nizar, 2004: 1). Manusia adalah makhluk kosmis yang sangat penting, karena dilengkapi dengan semua pembawaan dan syarat-syarat yang diperlukan untuk mengemban tugas dan fungsinya sebagai makhluk Allah di muka bumi.
Potensi, akal dan kecerdasan manusia merupakan bagian paling vital untuk mengaktualisasikan peran manusia sebagai khalifah. Agar akal serta kecerdasan manusia dapat berfungsi dan berfikir secara kreatif, maka daya pikir dan nalar seseorang perlu dikembangkan dengan berbagai latihan, bimbingan, pengajaran serta berbagai pendekatan dan kasih sayang dalam proses pendidikan.
Pendidikan pada dasarnya adalah transfer of knowledge and transfer of values. Dalam arti luas, pendidikan merupakan proses untuk mengembangkan potensi diri seseorang yang meliputi tiga aspek kehidupan, yaitu pandangan hidup, sikap hidup dan keterampilan hidup. Menurut Benjamin S Bloom, bahwa tujuan pendidikan adalah menciptakan manusia yang berkualitas baik dari segi kognitif, afektif maupun psikomotorik (Soemiarti Patmonodewo, 2003: 7). Artinya harus ada kemampuan otak (head), pengembangan kemampuan hati (heart), dan pengembangan kemampuan otot (hand).
Sumber daya manusia yang berkualitas perlu disiapkan melalui sistem pendidikan ideal. Artinya bahwa sistem pendidikan kita memiliki tujuan kedepan dengan mengharmonikan tujuan teknis, humanistis, dan induktif (Imam Tholkhah dan Ahmad Barizi, 2004: 4). Tujuan teknis berarti pendidikan diorientasikan kepada kemahiran dan keahlian (skill), seperti halnya kerajinan tangan dan kesenian, menulis dan membaca, aritmetika dan hal-hal yang lain yang terkait dengan kemampuan mengolah otak, kritis dan kreatif serta kemampuan anak didalam menggunakan alat-alat dengan cekatan. Tujuan humanistik yaitu sikap disiplin, dapat mengolah partisipasi dan integrasi didalam pergaulan sosial, dan pemanfaatan secara maksimal semua potensi manusia secara individual dan sosial. Sedangkan tujuan induktif adalah bagaimana upaya membangun peserta didik kearah kesadaran akan tradisi dengan melapisi diri melalui kesadaran religius dan dapat melek terhadap teknologi serta informasi. Ketiga aspek tersebut merupakan kesatuan totalitas yang melekat pada diri seseorang, yang tidak boleh dipisah-pisah antara satu dengan yang lain untuk mencipta manusia yang cerdas dan kreatif.
Setiap anak yang lahir normal, baik fisik maupun mentalnya, berpotensi untuk menjadi cerdas dan kreatif. Hal ini sesuai dengan ungkapan Abdul Hamid Al Hasyimi (2001: 46) bahwa:
Manusia dibekali dengan fitrah Allah seperti: Indera, pengetahuan, kecerdasan dan kemampuan-kemapuan nalar yang tinggi, hingga dapat membantunya memahami sesuatu. Selain itu, pada diri manusia, sebagaimana ditetapkan dalam studi-studi psikologi, membawa persiapan-persiapan, potensi dan juga motivasi-motivasi yang menggerakannya untuk berjalan dan menjelajah”.

Secara fitri manusia dibekali potensi kecerdasan oleh Allah SWT. Bahkan menurut berbagai riwayat yang patut dipercaya dinyatakan bahwa sebelum Allah SWT menciptakan segala sesuatu, terlebih dahulu menciptakan kecerdasan (intelek atau intelegenci).
Orang-orang cerdas dan kreatif banyak sekali jasanya dalam kemajuan dan memajukan umat manusia. Melalui hasil karyanya dan pandangan-pandangannya yang ilmiah, telah mampu membebaskan masyarakat dari kebodohan dan kebiadaban, menuju tatanan yang lebih baik dan beradab. Karya-karya orang cerdas pula, yang memungkinkan umat manusia mendapatkan fasilitas teknologi modern, dalam memberikan berbagai kemudahan.
Masa kecil manusia adalah masa yang ajaib. Kita dapat bayangkan tatkala anak lahir, ia tidak mempunyai kemampuan apapun. Aktifitasnya kebanyakan hanya tidur, makan dan menangis. Tetapi tiga tahun kemudian, perkembangan fisik dan motorik pada anak prasekolah sudah terlihat hingga mampu bergerak lebih meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Selain itu kreativitas yang dimilikinya mulai terlihat dengan jelas melalui berbagai kegiatan yang dilakukannya. Menurut Marian Borden, Kita dapat menyaksikan berbagai perubahan drastis pada anak-anak mulai sejak bayi yang masih merangkak dan tidak bisa berbicara sama sekali menjadi manusia sungguhan yang bisa berbicara dan bisa berjalan (Ary Nilandari, 2001: 3).
Pada hakikatnya, setiap individu mempunyai potensi untuk menjadi Kreatif (Nursito, 1999: 5). Individu yang kreatif sebenarnya sudah mulai terlihat jelas disaat seorang anak tumbuh mencapai usia prasekolah yaitu sekitar 2-6 tahun. Didalam usia ini anak sering bersikap kritis dan melakukan sesuatu dengan kehendaknya sendiri seperti halnya memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap sesuatu hal, sehingga melontarkan berbagai pertanyaan, senang berimajinasi, senang menjelajah, bebas dalam berfikir, tidak takut salah, berani mengambil resiko, senang akan hal-hal yang baru, dan pada masa ini anak sangat peka dalam pengamatan, menyukai terhadap pengalaman-pengalaman yang baru dan sebagainya.
Mengembangkan kreativitas anak sejak kecil penting dilakukan. Karena anak masih mempunyai pikiran yang bersih, suci, tidak memiliki beban pikiran yang komplek serta memiliki semangat yang tinggi seperti kertas tanpa noda. Menurut Keith Osborn Puncak kecerdasan anak terjadi sejak dilahirkan sampai usia 5 tahun. Dan hampir 50% potensi kecerdasannya diyakini sudah terbentuk diusia 4 tahun. Sedangkan kreativitasnya mulai meningkat pada usia 3 tahun dan mencapai puncaknya pada usia 4,5 tahun... (Andang Ismail, 2006: 263).
Menurut Utami Munandar (2004: 10), Kreativitas perlu dikembangkan sejak usia prasekolah karena:
Pertama, dengan berkreasi anak dapat mewujudkan dirinya dan ini merupakan kebutuhan pokok manusia. Hal ini sangat penting sebab manusia yang sehat jasmani dan rokhaninya akan mampu mengekspresikan diri, dengan menggunakan semua kemampuannya sehingga akan memperkaya hidupnya. kedua, kreativitas atau cara berfikir kreatif, dalam arti kemampuan untuk melihat berbagai kemungkinan dalam pemecahan masalah, masih kurang diperhatikan dalam pendidikan formal. Anak didik dalam pembelajarannya disekolah lebih menekankan pada cara berfikir secara konvergen yaitu kemampuan berfikir menuju satu-satunya jawaban yang benar. ketiga, bersibuk diri secara Kreatif memberikan kepuasan pada diri anak. Hal ini sering terlihat pada anak-anak yang bermain dengan permainan konstruktif. Sehingga mereka terkadang lupa terhadap kegiatan yang lain. keempat, kreativitas mampu meningkatkan kualitas manusia dan taraf hidupnya.

Kreativitas berperan untuk membuat ide-ide, penemuan-penemuan, atau teknologi baru yang dapat meningkatkan kesejahteran masyarakat secara luas. Oleh karena itu kreativitas perlu dirangsang perkembangannya sejak masa prasekolah. Rangsangan yang diberikan pada tahun-tahun pertama dari kehidupannya akan memberikan hasil yang paling besar dalam peningkatan potensinya. Akan tetapi untuk mengembangkan anak menjadi kreatif tidaklah semudah membalik telapak tangan. Diperlukan semangat, kepedulian, kerja keras, pengorbanan orang tua dan pendidik serta pemahaman yang baik tentang pendidikan. Karena pemberian pendidikan yang baik akan memungkinkan seorang anak dapat tumbuh dan berkembang, baik sisi mental, kecerdasan maupun kreativitasnya.
Proses mengembangkan kreativitas bagi anak usia prasekolah dibutuhkan peran serta berbagai pihak dan lingkungan khususnya orang tua. Orang tua adalah tokoh panutan dalam keluarga. Orang tua dirumah berusaha merawat, mendidik, mengasihi dan menyayangi anak-anaknya. Oleh karenanya tidaklah mengherankan bila anak mencontoh orang tuanya dan menganggap mereka sebagai pendidik yang paling baik, setidaknya sampai mereka memasuki lingkungan pergaulan yang lebih luas. Apapun bentuk perilaku yang ditunjukan orang tua kepada anaknya akan berdampak pada kepribadian anak. Untuk itu pola asuh yang diterapkan orang tua terhadap anaknya adalah pola asuh yang baik agar dampak yang dimunculkan baik pula. Menurut Kamrani (2003), “Pendidikan keluarga betul-betul menjadi basis bagi pendidikan disekolah dan masyarakat, sehingga sekolah dan masyarakat hanyalah bagian pelimpahan dan tanggung jawab sebuah keluarga”.
Orang tua hendaknya mampu berperan sebagai pengembang kreativitas. Seperti halnya suami dan istri menerapkan pola kerja sama yang serasi, selaras dan seimbang dalam rangka mengembangkan kreativitas anaknya dengan cara memberikan kesempatan bermain tanpa pembatasan waktu yang ketat, memberikan dorongan dan sarana yang terbaik, mengkondisikan lingkungan yang kurang kondusif, menghindarkan sikap orang tua yang tidak permisif (otoriter) dan senantiasa memberikan pengetahuan yang banyak terhadap anak. Selain itu orang tua juga sedini mungkin mendorong anaknya untuk menggunakan panca inderanya untuk mengenal dan menjelajah apa saja yang ada dilingkungan sekitarnya. Selanjutnya anak dirangsang untuk dapat berfikir sendiri sehingga bebas mengungkapkan pikiran dan perasaannya.
Keluarga dalam mengembangkan kreativitas anak prasekolah sangat penting peranannya. Tetapi pengembangan kreativitas dalam keluarga masih kurang mendapatkan perhatian dari orang tua. Seperti halnya orang tua yang mendidik anak-anaknya menggunakan sikap dan pendekatan tradisional. Yakni orang tua membiarkan anaknya berkembang sendiri tanpa memberikan rangsangan kognisi ataupun keterampilan. Akan tetapi sikap yang diterapkan orang tua terlalu melindungi anaknya (over protection), eksplorasi anak dibatasi, pengaturan waktu yang sangat ketat sehingga orang tua selalu menguasai anak (dominant), membatasi khayalan serta sikap orang tua yang terlalu konservatif. Selain itu pola pendidikan yang diterapkan dalam keluarga tradisional sudah memiliki frame atau bingkai tentang pola pendidikan anak tanpa melihat hasil dari pola asuhnya tersebut, sehingga pengembangan krativitas sejak kecil dirasa cukup diabaikan.
Model pendidikan dan pengasuhan terhadap anak usia prasekolah hendaknya diperlukan strategi dan pemahaman. Karena tidak jarang model pendidikan dan pengasuhan yang diterapkan lepas dari strategi, pendekatan, apalagi pendidik justru membunuh kreativitas dan tidak mengembangkan bakat ataupun talenta anak.
Pengembangan kreativitas memang sudah menjadi tanggung jawab orang tua semenjak anak berusia prasekolah. Para ahli juga menegaskan demikian, seperti halnya Kak Seto sebagai tokoh pendidikan dan kreativitas anak. Beliau mengungkapkan bahwa kreativitas merupakan usaha/aktifitas anak dengan melalui sebuah proses untuk beraktifitas kreatif dan senantiasa menghasilkan karya-karya bernilai original sehingga anak mampu memiliki kepribadian fluency, fleksibility, elaborasi dan originality dalam berfikir.
Kak Seto adalah salah satu tokoh pendidikan anak yang bergerak dan mengkonsep strategi pengembangan kreativitas. Baik dalam bentuk permainan, bercerita ataupun bernyanyi. Oleh karena itu disadari bahwa mengembangkan kreativitas tidak berarti membiarkan anak sesuai keinginan dan kepuasannya, tetapi diperlukan strategi jitu untuk mencapai sebuah hasil yang maksimal.
Kreativitas yang menjadi bagian dari spektrum otak kanan relatif lebih mudah dikembangkan dari pada intelegenci (Wawancara dengan Kak Seto, 20 Januari 2007). Hal ini disebabkan karena kreativitas dapat berkembang dengan baik manakala dipengaruhi dan ditunjang oleh lingkungan disekitar anak. Berbeda dengan IQ yang memerlukan kemampuan khusus, hafalan dan dipengaruhi juga oleh faktor genetik.
Selain itu proses untuk mengembangkan kreativitas juga membutuhkan press dari motif instrinsik maupun berbagai lingkungan disekitarnya. Berbentuk motif instrinsik adalah sesuatu keinginan/hasrat yang muncul dari pribadi anak. Sedangkan bersifat eksternal seperti keluarga, sekolah maupun masyarakat. Dalam proses kreatif, seorang anak perlu diperhatikan agar dirinya selalu dalam keadaan semangat dan senantiasa berfikir kreatif. Menurut Kak Seto pemberian perhatian orang tua maupun pendidik terhadap anak prasekolah dilakukan dengan strategi 4P (person, process, press and produk)
Yang pertama adalah person, yakni diyakini bahwa tiap-tiap anak adalah memiliki kepribadian kreatif. Artinya segala apa yang dilakukan anak usia prasekolah adalah merupakan sebuah gerak menuju kreativitas. Hal ini sering diistilahkan bahwa “a person refers to the abilities that are charactheristics of creative people”. Yang kedua adalah kreativitas diwujudkan dengan sebuah proses. Karena dilihat secara psikologis, kreativitas yang dimiliki anak prasekolah lebih ditekankan pada sebuah proses yang pada taraf selanjutnya akan menambahkan berbagai pengalaman dan pengetahuan bagi diri anak. Dengan berproses kreatif itulah anak akan mampu menjadi dirinya sendiri untuk memiliki kelancaran, kelenturan, keorisinilan dalam berfikir. Ketiga, press yaitu suatu motivasi atau dorongan yang diberikan kepada anak untuk bergerak dan mampu beraktifitas kreatif. Apabila ketiganya telah mendapatkan perhatian dengan baik, maka kreativitas akan mampu menunjukan sebuah hasil atau produk yang bernilai original.
Dengan pentingnya kreativitas dalam segala bidang kehidupan, maka pengembangan kreativitas memerlukan berbagai teori dan strategi pengembangannya. Serta diterapkan sesuai dengan kemampuan anak dan tingkat usia.
Dari paparan diatas, pengembangan kreativitas dipandang penting untuk diperhatikan. Selain lebih mudah untuk dikembangkan melalui lingkungan, kreativitas berguna membekali anak semenjak usia prasekolah dengan berbagai pengalaman dan pengetahuan melalui sebuah proses kreatif, sehingga mampu mencapai masa depan dan pendidikan yang lebih baik.
Berdasarkan uraian diatas, penulis bermaksud mengadakan penelitian tentang Kreativitas anak usia prasekolah yang menitik beratkan pada ide-ide Kak Seto dengan judul : PENGEMBANGAN KREATIVITAS ANAK USIA PRASEKOLAH MENURUT KAK SETO.

B. Penegasan Istilah
Untuk memperoleh gambaran yang jelas dan menghindari adanya interpretasi yang berbeda sekaligus sebagai pijakan dalam pembahasan selanjutnya, maka terlebih dahulu penulis menjelaskan dari judul skripsi di atas.
1. Pengembangan Kreativitas
a. Pengembangan
Pengembangan adalah suatu proses perubahan secara bertahap ke arah tingkat yang berkecenderungan lebih tinggi dan meluas serta yang secara menyeluruh dapat tercipta suatu kesempurnaan dan kematangannya ( HM. Arifin, 1981: 77).
b. Kreativitas
Secara etimologi, kreativitas berasal dari kata benda (noun) “creativity” yang berarti daya cipta. Menurut Komite Penasehat Nasional bidang Pendidikan kreatif dan Pendidikan Budaya, kreativitas adalah suatu bentuk aktifitas imajinatif yang mampu menghasilkan sesuatu yang bersifat original, murni, asli dan bermakna (Anna Craft, 2004: 1). Sedangkan pengertian yang lain, istilah kreativitas diartikan:
Suatu kemampuan seseorang untuk menghasilkan komposisi, produk atau gagasan apa saja yang pada dasarnya baru dan sebelumnya tidak dikenal pembuatnya. Dapat pula berupa kegiatan imajinatif atau sintetis pemikiran yang hasilnya bukan hanya perangkuman. Kreativitas bisa juga mencakup pembentukan pola baru dan gabungan informasi yang diperoleh dari pengalaman sebelumnya dan pencangkokan hubungan lama ke situasi baru sehingga menghasilkan tujuan. Kreativitas dapat berupa produk seni, kesusasteraan, produk ilmiah atau metodologi (Tim Pustaka Familia, 2006: 252).

Melihat pengertian di atas, maka kreativitas dipahami sebagai suatu kegiatan otak yang teratur dan imajinatif untuk mampu menghasilkan sebuah karya yang orisinal ataupun tidak mesti hasil yang baru, mampu mengemukakan, merespon, mewujudkan ide atau mampu menanggapi masalah serta tidak dapat dinilai berdasarkan hasil fisiknya semata, tetapi proses kreatifnya perlu mendapat perhatian.
Dalam pemahaman yang sederhana, pengembangan kreativitas didefinisikan sebagai suatu usaha bagaimana mencetak anak-anak sebagai calon generasi kreatif dengan strategi tertentu agar kreativitasnya dapat dikembangkan sejak dini. Sehingga mampu hidup kreatif dan menghasilkan karya, baik baru ataupun karya yang bersifat ulang (tidak murni baru).
2. Anak Prasekolah
Menurut Papalia dan Old, masa kanak-kanak pertama yaitu rentang usia 3-6 tahun (Reni Akbar, 2001: 3). Masa ini dikenal juga dengan masa prasekolah. Sedangkan menurut EB. Hurlock, usia prasekolah atau prakelompok yaitu anak-anak yang berumur 2-6 tahun (Sri Harini, 2003: 55).
Menurut Syamsu Yusuf, fase anak prasekolah (usia TK) adalah 2-6 tahun. Sedangkan Johan Amos Comenius, membagi usia anak 0-6 tahun adalah periode masa ibu (Sri Harini, 2003: 55).
Mencermati pembagian umur tentang anak usia pra sekolah diatas, dapat kita lihat bahwa banyak para pakar yang memberikan batasan umur yang berbeda. Oleh karena itu, dalam skripsi ini dimaksud dengan anak prasekolah adalah anak yang berusia 2-6 tahun. Dengan asumsi bahwa anak tersebut belum masuk sekolah dasar namun sudah bisa dimasukan ke tempat Pendidikan Anak Usia Dini seperti Taman Kanak-Kanak (TK), Play Group atau Tempat Penitipan Anak (Day Care). Dan ia lebih banyak membutuhkan pendidikan dalam lingkungan keluarganya. Karena pada masa ini, anak berusaha mengendalikan lingkungan, dan belajar menyesuaikan diri secara sosial. Sehingga penulis akan menggunakan istilah anak prasekolah dalam menyebutkan anak yang berusia 2-6 tahun.
Pengembangan kreativitas anak prasekolah merupakan suatu usaha bagaimana mencetak anak usia prasekolah sebagai calon generasi kreatif dengan berbagai strategi ataupun trik tertentu, khususnya yang ditawarkan oleh pakar maupun praktisi pendidikan anak, dalam hal ini Kak Seto adalah salah satu tokoh pendidikan anak yang bergerak pada bidang pendidikan, perlindungan serta pengembangan kreativitas.
Oleh karena itu, Pengembangan Kreativitas Anak Usia Prasekolah Menurut Kak Seto adalah sebuah studi dan penelitian terhadap ide-ide praktis bagaimana upaya mengembangkan kreativitas anak khususnya usia prasekolah (2-6 tahun) yang telah dihasilkan oleh Kak Seto baik dalam buku-bukunya, maupun karya ilmiah yang lainnya.

C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka masalah yang menjadi fokus penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
Bagaimana kreativitas anak usia prasekolah menurut Kak Seto?
Bagaimana pengembangan kreativitas anak usia prasekolah menurut Kak Seto?

D. Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dibahas diatas, maka tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui tentang kreativitas anak usia prasekolah menurut Kak Seto.
2. Untuk mengetahui pengembangan kreativitas anak usia prasekolah menurut Kak Seto.

E. Kegunaan Penelitian
Diharapkan menjadi media pengembangan terutama pada wilayah pengembangan kreativitas anak usia prasekolah baik bagi penulis maupun yang membacanya.
Memberikan kontribusi bagi siapapun yang akan mengkaji pemikiran Kak Seto khususnya tentang pengembangan kreativitas anak usia prasekolah.
Sebagai pedoman bagi keluarga dalam pembentukan dan pengembangan kreativitas anak usia prasekolah.
Sebagai pedoman bagi pendidik dalam melaksanakan kewajibannya dalam kegiatan belajar mengajar yang senantiasa berinteraksi dengan anak didiknya untuk mengapresiasikan momen belajar.
5. Memperkaya Wacana keilmuan tentang Pengembangan Kreativitas Anak Usia PraSekolah

F. Tinjauan Pustaka
Pembicaraan tentang Pengembangan Kreativitas Anak Usia Prasekolah sebetulnya sudah sangat banyak dikemukakan oleh para ahli, baik yang muncul dalam bentuk buku-buku, makalah, jurnal dan sebagainya. Semua itu muncul sebagai upaya mempersiapkan generasi yang unggul dengan berbagai pendekatan dalam pendidikan anak sejak usia dini atau usia prasekolah.
Hal yang cukup meresahkan penulis sehingga munculah ide penulisan skripsi ini adalah kepedulian penulis terhadap anak-anak usia prasekolah akan keberhasilan pendidikan, khususnya dalam pengembangkan kreativitas, dimana Kak Seto dapat dikatakan sebagai seorang praktisi yang bergerak dalam bidang kreativitas anak. Pengembangan Kreativitas anak usia prasekolah penting dilakukan. Karena kreativitas merupakan bekal yang menempel pada diri individu yang bermanfaat bagi kehidupannya kelak, sebagai motor bagi pendidikan anak dan juga sebagai penjemput hari depan bangsa agar lebih gemilang.
Mengingat salah satu tujuan dari pendidikan anak usia pra sekolah adalah pengembangan kreativitas. anak-anak hendaknya diarahkan dan dilatih agar mampu mengembangkan kreativitas pada dirinya sendiri, menumbuhkan sikap kritis dan bebas berbuat sesuai dengan etika sehingga mampu mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Berbicara mengenai anak prasekolah, para ahli mendefinisikan batasan-batasan umur mereka antara yang satu dengan yang lain berbeda, seperti contoh yang telah ditulis pada penegasan istilah. Dengan adanya perbedaan pendapat itu, menyebabkan kesulitan dalam usaha untuk menghubungkan antara batasan umur dan kecakapan anak. Sebab, perkembangan anak selain dipengaruhi oleh faktor intern juga dipengaruhi oleh faktor ekstern. Akan tetapi, penulis mencoba untuk menarik benang merah mengenai batasan umur anak pra sekolah yaitu 2-6 tahun dengan maksud agar ada sebuah kejelasan tentang batasan umur yang dimaksudkan dalam skripsi ini.
Penggunaan istilah anak prasekolah ini tidak hanya untuk anak-anak yang memasuki Taman Kanak-Kanak atau Play Group. Akan tetapi semua anak yang berusia 2-6 tahun, baik yang berada di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat tetap disebut sebagai anak prasekolah.
Penelitian yang secara khusus mengkaji pengembangan kreativitas anak usia prasekolah menurut Kak Seto khususnya di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Purwokerto kiranya belum pernah dilakukan. Akan tetapi skripsi yang bertemakan tentang pendidikan anak khususnya usia prasekolah sudah banyak diteliti, diantaranya pernah dilakukan oleh Deni Sawaludin, yaitu sebuah skripsi yang berjudul “Konsepsi Pendidikan Islam tentang Upaya Pengembangan Kreativitas Manusia”. Ia seorang alumni Jurusan Tarbiyah STAIN Purwokerto tahun 1999. namun kajian yang dilakukan oleh Deni Sawaludin hanya mengupas metode dan arah pengembangan manusia secara umum menuju kesempurnaan manusia serta membahas pula proses terjadinya kreativitas pada manusia.
Dalam Skripsi Ita Wahyuningsih (2006) yang berjudul “Menumbuhkan Sikap Religius Pada Anak Prasekolah (tinjauan secara psikologis)”. mahasiswi Jurusan Tarbiyah STAIN Purwokerto, meneliti cara menumbuhkan dan mengembangkan sikap religius terhadap anak usia 2-6 tahun (prasekolah). Tetapi skripsi ini hanya menyinggung faktor yang mempengaruhi tumbuhnya sikap religius pada anak pra sekolah semata serta berbagai strateginya.
Nasrulloh pada tahun 2001 juga meneliti tentang “Tanggung Jawab Keluarga Muslim dalam Pembentukan Kepribadian Keberagaman Anak (Tinjauan Sosiologi Pendidikan)”. Di dalamnya menerangkan bahwasanya keluarga adalah inti tempat berinteraksi yang pertama dan utama bagi anak. Dalam hal itulah, berkembangnya individu anak dan disitu pulalah tahap-tahap awal proses pembentukan kepribadian anak melalui internalisasi nilai-nilai yang terpantul dari emosi, sikap dan perilaku orang tua.
Skripsi yang di teliti oleh Irfan Tinzila tahun 2000 berjudul “Faktor Orang Tua dan Bakat Anak dalam Pendidikan menurut Perspektif Islam”, membahas tentang pentingnya bakat anak sebagai faktor penting dalam pendidikan kaitannya dengan fitrah serta pengaruh dari orang tua dalam pengembangan bakatnya.
Walaupun ada sedikit kesamaan dalam penelitian ini yakni terkait dengan anak prasekolah ditinjau secara psikologi, tetapi masalah yang penulis angkat berbeda. Yang membedakan penelitian skripsi ini dengan yang lainnya adalah skripsi ini akan memaparkan berbagai gambaran kreativitas anak prasekolah beserta strategi mengembangkannya menurut Kak Seto. Dalam hal ini yang menjadi fokus utama adalah mengetahui bagaimana sebenarnya cara mengembangkan kreativitas pada usia anak prasekolah menurut Kak Seto yang usianya 2-6 tahun. Dan sepengetahuan penulis, belum pernah ada judul yang sama sehingga penulis ingin meneliti lebih jauh.
G. Metode Penelitian
1. Sumber Data
a. Sumber Primer
Sumber primer ini secara umum adalah karya ilmiah mengenai ide dan pemikiran Kak Seto. Sumber ini bisa berupa buku-buku karangan beliau, disertasi atau makalah-makalah yang tertuang dalam jurnal, majalah serta media yang lain. Diantara buku dan karyanya tersebut adalah sebagai berikut:
1) Kak Seto. 1998. Memacu Bakat dan Kreativitas. Jakarta: Gramedia.
2) _________. 2004. Bermain dan Kreativitas: Upaya Mengembangkan Kreativitas Anak Melalui Kegiatan Bermain. Jakarta: Papas Sinar Sinanti.
3) _________. 2004. Membantu Anak Balita Mengelola Amarahnya: Buku Inspiratif Bagi Orang Tua dalam Membantu Mengelola Emosi Secara Positif. Yogyakarta: Erlangga
4) _________. 2005. Mengoptimalkan Perkembangan Kecerdasan Pada Anak Sejak Usia Dini. hlm. 1-4.
5) _________. 2005. Kreatif Sains 4-6 Tahun. Jakarta: Erlangga.
6) Mulyadi, Seto. “Hidupkan Kembali Tokoh Komo”. Suara Karya. 24 Juli 2006. hlm. 18.
b. Sumber Sekunder
Untuk memperluas kajian serta memperdalam pembahasan, penulis juga menggunakan beberapa karya tulis yang lain yang memiliki relevansi dengan obyek kajian yang sedang diteliti, antara lain adalah :
1) Munandar, Utami. 1999. Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat . Jakarta: Rineka Cipta.
2) ________________. 2002. Kreativitas dan Keberbakatan:Strategi Mewujudkan Potensi Kreatif dan Bakat. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
3) Nursisto. 1999. Kiat Menggali Kreativitas. Yogyakarta: Mitra Gama Widya.
4) Wahyudin. 2003. Menuju Kreativitas. Jakarta: Gema Insani.
5) Hasan, Maimunah. 2001. Membangun Kreativitas Anak Secara Islami. Jakarta: Bintang Cemerlang.
6) Craft, Anna. 2004. Merefresh Imajinasi dan Kreativitas Anak-Anak. Jakarta: Cerdas Pustaka.
7) Campbell, David. 1986. Mengembangkan Kreativitas. Jakarta: Kanisius.
8) Boulden, P, George, 2002. Mengembangkan Kreativitas Anda. Yogyakarta: Dolphin Books.
9) Ayan, E, Jordan. 1997. Bengkel Kreativitas: 10 Cara Menemukan Ide-ide Pamungkas Melalui Pergaulan Lingkungan, Perjalanan, Permainan, Bacaan, Seni, Teknologi, Berfikir, Alam Bawah Sadar, Jiwa Kreatif. Bandung: Kaifa.
10) Alkhalili, A, Amal, 2005. Mengembangkan Kreativitas Anak. Jakarta: Pustaka Alkautsar.
Disamping itu penulis juga mencari data dengan wawancara yang dilakukan langsung kepada Kak Seto untuk mendapatkan informasi yang diperlukan.
2. Pengumpulan Data
Pada langkah ini penulisan menggunakan; pertama metode dokumentasi, yaitu mengumpulkan data yang relevan dengan fokus penelitian yang penulis laksanakan ini. Kedua, menggunakan metode wawancara, yaitu untuk memperoleh data tambahan yang berupa penjelasan dari pihak terkait (tokoh) dan berfungsi sebagai cross check terhadap akurasi pemahaman penulis terhadap data yang berasal dari karya tulisnya. Berbagai data akan penulis kumpulkan meliputi:
a. Data mengenai biografi Kak Seto. Data ini bisa berupa karya tulis atau dokumen yang membahas biografi Kak Seto atau bisa juga berbagai informasi verbal dari Kak Seto sendiri.
b. Data mengenai ide atau pemikiran Kak Seto. Data ini berupa berbagai karya tulis Kak Seto, baik berupa buku maupun makalah. Mengenai masalah ini penulis mencoba mencari tulisan Kak Seto yang relevan dengan fokus penelitian yang peneliti lakukan yaitu berkenaan dengan pengembangan kreativitas anak usia prasekolah. Selain berasal dari berbagai karya tulis Kak Seto data mengenai ide atau pemikiran Kak Seto juga penulis peroleh dari hasil wawancara dengannya ataupun sumber yang lainnya.
Analisis Data
Setelah data terkumpul dan tersistematis, maka langkah selanjutnya adalah melakukan analisa data, yaitu:
a. Analisa isi teks (content analitys), dimana analisa isi teks yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah analisa isi teks yang melibatkan olahan filosofis dan teoritis. Pada dasarnya ada 3 syarat didalam analisa isi teks ini, yaitu obyektifitas, sistematis dan generalis (Noeng Muhadjir, 1989: 70).
b. Analisa Komparatif, yaitu suatu jenis analisa yang berorientasi pada penemuan hubungan kausalitas. Analisa ini menggunakan pendapat-pendapat kemudian dibandingkan dengan yang lainnya (Moleong, 2006:288). Dengan analisa ini diupayakan pencarian berbagai faktor yang berhubungan dengan situasi dan fenomena yang diteliti.
Menarik Kesimpulan
Setelah Langkah-langkah tersebut dilakukan, selanjutnya penulis menyimpulkan hasil akhir dari penelitian ini, dimana isi dari kesimpulan tersebut mampu mencapai tujuan dari dilaksanakannya penelitian ini.

H. Sistematika Penulisan
Untuk memudahkan tulisan hasil penelitian yang runtut, sistematis dan mudah dipahami penulis menyusun skripsi ini dengan sistematika sebagai berikut
Bab I berisi pembahasan tentang berbagai hal yang menjadi kerangka awal penelitian ini, yang karenanya diberi judul Pendahuluan, yang meliputi Latar Belakang Masalah, Penegasan Istilah, Rumusan Masalah, Tujuan dan Kegunaan Penelitian, Tinjauan Pustaka, Metode Penelitian dan Sistematika Penulisan.
Bab II berisi pembahasan tentang Biografi Kak Seto, yang meliputi: Riwayat Hidup dan Pendidikannya, Karir dan Pengabdiannya, serta Karya-karya yang telah dihasilkan.
Bab III berisi pembahasan tentang Konsep Kreativitas Anak Usia Prasekolah yang meliputi: Pengertian Kreativitas Anak Usia Prasekolah, Ciri-ciri Kepribadian Anak yang Kreatif, Urgensi Kreativitas Bagi Anak Prasekolah, Faktor-Faktor Pengaruh Dari Proses Pengembangan Kreativitas Anak Usia Prasekolah.
Bab IV, berisi pembahasan tentang Kreativitas dan Strategi Mengembangkannya pada Anak Usia Prasekolah menurut Kak Seto yang meliputi: Pengertian Kreativitas Anak Prasekolah Menurut Kak Seto, Strategi Pengembangan 4 P menurut Kak Seto, Strategi 4 P Dalam Bermain Menurut Kak Seto, serta Identifikasi Pemikiran Kak Seto.
Bab V, yaitu Penutup yang berupa Simpulan serta Saran-saran dan diakhiri dengan Daftar Pustaka.


























BAB II
BIOGRAFI KAK SETO

A. Riwayat Hidup dan Pendidikan
DR. Seto Mulyadi S.Psi yang lebih dikenal dengan sebutan Kak Seto terlahir sebagai putra kembar dengan Kresna kembarannya dari pasangan Mulyadi Efendi dan ibu bernama Maryati di Klaten (jawa tengah) pada tanggal 28 Agustus 1951 Kak Seto, 2002: 64). Ayah “tong”, sapaan Seto dikala kecil, adalah seorang direktur pada perusahaan perkebunan Negara di Klaten yang cukup mampu dalam hal ekonomi. Akan tetapi disaat ayahnya meninggal dunia kondisi ekonomi di keluarganya menjadi kembang kempis dan kurang dapat memenuhi serta mencukupi biaya sekolah anak-anaknya. Hingga akhirnya Kak Seto dan saudaranya bekerja keras untuk tetap melanjutkan sekolahnya serta dititipkan ke rumah bibinya di Surabaya (Kak Seto,http://www.tokohindonesia.Com.ensiklopedi/setomulyadi/index.shtml).
Pada tahun 1987, dan diusianya yang ke 36 tahun, Kak Seto mengakhiri masa lajangnya dengan menikahi Deviana gadis yang dicintainya yang usianya terpaut 20 tahun. Tepat pada hari pernikahan, di saat tamu berdatangan, pengantin baru Seto-Devi melaksanakan nazarnya: mendongeng di panti asuhan. Dari hasil pernikahannya tersebut, Kak Seto dikaruniai dikaruniai empat orang anak yaitu, Eka Putri Duta Sari, Bimo Dwi Putra Utama, Shelomita Kartika Putri Maharani, dan yang terakhir Nindya Putri Catur Permatasari (Kak Seto, 2005: 62).
Kak Seto mengawali pendidikannya pada sekolah dasar SD Ngepos, Klaten dan lulus tahun 1963, ketika itu baru berusia 12 tahun. Kemudian melanjutkan ke SMP Klaten dan lulus pada tahun 1966 (Kak Seto, http://www.tokohindonesia.Com.ensiklopedi/setomulyadi/index.shtml.Download 26 Maret 2007). Dengan kondisi ekonomi keluarga yang kekurangan karena meninggalnya ayah Kak Seto, akhirnya Kak Seto dan Kembarannya (Kresna) pindah ke Surabaya dan menetap di rumah bibinya untuk melanjutkan sekolah di SMA St. Louis Surabaya yang tepatnya usia Kak Seto menginjak 14 tahun, dan lulus tahun 1969.
Demi meringankan beban bibinya dan juga untuk memenuhi biaya sekolah, Kak Seto pernah berprofesi sebagai pedagang asongan di jalan-jalan selepas sekolah. Disamping menjadi pedagang asongan Kak Seto mulai aktif mengisi sebuah rubrik untuk anak-anak di majalah terbitan Surabaya, dan sejak saat itulah saya mulai memakai nama Kak Seto, ujarnya. Hingga sampai sekarang panggilan akrab dikalangan manapun adalah Kak Seto.
Walau sekolah sambil bekerja, Kak Seto tetap bisa aktif di OSIS bersama kembarannya (Kresna), Bahkan rapornya selalu bagus. Setelah Lulus dari SMA, ia bercita-cita untuk melanjutkan studinya di Fakultas Kedokteran. Tetapi, cita-citanya menjadi dokter kandas dan tidak diterima di fakultas kedokteran, baik di Universitas Airlangga maupun Universitas Indonesia. Sementara Kresna diterima di kedokteran dan kakaknya, Ma’ruf masuk AKABRI.
Dengan kekecewaan yang dialaminya, menjadikan ia tertekan, hingga akhirnya Kak Seto memutuskan meninggalkan rumah dan pergi ke Jakarta, tuturnya, waktu subuh, 27 Maret 1970. Kak Seto pun berangkat tanpa pamit, hanya meninggalkan sepucuk surat kepada ibunya (Wawancara 20 Januari 2007).
Setiba di Jakarta Kak Seto menjadi pengangguran yang luntang-lantung karena tidak memiliki saudara dan biaya hidup. Tetapi untuk beristirahat dimalam hari, Kak Seto menumpang di garasi milik keluarga temannya, yang dikenal sewaktu berkenalan di kereta. Tidur dengan beralaskan dua keset yang digabung tanpa selimut dan kasur.
Untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-harinya Kak Seto bekerja sebagai tukang batu, serta sesekali menulis di majalah Si Kuncung. Sembari bekerja serabutan dia kemudian mendaftar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, tahun berikutnya. Tapi, seperti halnya tatkala di Surabaya, kali ini pun kegagalan kembali menyertainya.
Waktu baru di Jakarta, saya mulai dari bawah, ia merasakan bekerja jadi pembantu rumah tangga, jadi tukang batu, jadi tukang semir sepatu di Blok M,” kenang Kak Seto (Wawancara 20 Januari 2007). “Berat sekali keadaan waktu itu, dibentak-bentak dan dimarahi oleh tuan saya,” lanjut pria yang merasa tenang bila dekat ibunya ini. Hingga suatu ketika, di rumah tempatnya menumpang, ia tertarik pada acara yang diasuh ibu Kasur di TVRI.
Ketertarikannya pada acara yang diasuh oleh ibu Kasur, sehingga ia berusaha mencari ibu Kasur dengan niat untuk berguru (ngenger). Pak Kasur, yang menerimanya, dan membawanya ke Taman Kanak-Kanak Situ Lembang, Jakarta Pusat. Akhirnya Kak Seto dijadikan asistennya Pak Kasur, tutur Kak Seto. Bersama Pak Kasur, Kak Seto bisa menumpahkan “obsesi” masa kecilnya, karena kecintaan terhadap anak-anak merupakan sesuatu yang berawal dari kerinduan datangnya seorang adik yang telah meninggal diusia tiga tahun. Pilihannya pun makin mantap di saat mengasuh acara Aneka Ria Taman Kanak-Kanak di TVRI sebagai ajakan Bu Kasur, bersama Henny Purwonegoro. Kak Seto mendongeng, belajar sambil bernyanyi, bermain sulap bersama anak-anak.
Pengalaman bersama Bu Kasur adalah merupakan salah satu unsur dari faktor keberhasilan Kak Seto dalam dunia anak hingga saat ini. Karena bu Kasur adalah salah satu tokoh pendidikan anak yang lahir di Jakarta pada tanggal 16 Januari 1926. beliau bernama lengkap Sadiah yang menjadi seorang istri dari Soerjono (dikenal pak Kasur) dengan dikaruniai 5 orang anak dan 11 cucu. Dari kelima anaknya adalah Sursantio, Suryaningdiah, Suryo Prabowo, Surjo Prasojo dan Suryo Pranoto (www.figurpublik.com)
Pak Kasur dan bu Kasur adalah pahlawan dan tokoh pendidikan anak. Dengan bukti ia adalah seorang seorang pencipta lagu-lagu bernuansa pendidikan anak, bahkan lebih dari 140 lagu pendidikan anak sedangkan bu Kasur tidak lebih dari 20 lagu (www. Pikiranrakyat.com). unsur pendidikan yang ada dalam lagu-lagu kedua tokoh tersebut adalah bahwa lagu merupakan proses bermain. Disamping itu lagu anak dimaksudkan untuk menanamkan jiwa kasih sayang dan kecerdasan kognitif. Hal ini disampaikan bu Kasur, lagu seperti sayang semua misalnya mengandung unsur pembelajaran sekaligus pendidikan meskipun sederhana (www.figurpublik.com). Selain itu anak-anak dalam bernyanyi bersama juga dapat melatih empati terhadap teamnnya sebab mereka akan tau kapan harus bersuara atau kapan giliran temannya bersuara serta belajar disiplin dan dilatih untuk mengenal irama. Oleh karenanya lagu yang diciptakannya terhindar dari huruf “R” dengan maksud agar bisa dinyanyikan oleh anak balita (www.pikiranrakyat.com).
Hasrat besar dalam mendidik anak juga diobsesikan Bu Kasur dan Pak Kasur dengan mendirikan Taman Kanak-Kanak. TK yang didirikannya terbagi dalam 3 jenjang yaitu: Parkit untuk anak usia 3 tahun, Kutilang untuk anak usia 4 tahun dan Cenderawasih untuk anak 5 tahun. Dengan peran beliau dalam dunia pendidikan anak, beliau juga pernah mendapatkan penghargaan antara lain: Bintang Budaya Parama Dharma tingkat nasional, Penghargaan Pembawa Acara Anak-anak Legendaris di televisi, Women of the year dari Italia (www.figurpublik.com).
Berproses dari kegagalan menjadi seorang dokter serta saran dari pak Kasur dan bu Kasur, akhirnya ia memutar haluan dengan meneruskan kuliah di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Disamping membantu pak Kasur mengelola Taman Kanak-kanaknya di Situ Lembang Jakarta Pusat, Kak Seto juga dipercaya untuk membantu dan mengasuh anak-anaknya Soeksmono Martokoesoemo, seorang Direktur Bank Indonesia, hingga akhirnya dapat memperoleh gelar sarjana psikologi (S.Psi) pada tahun 1981 (Kak Seto, http://www.tokohindonesia.Com.ensiklopedi/setomulyadi/index.shtml).
Setelah menyelesaikan kuliahnya (Strata Satu), ia memperdalam kajian keilmuannya dibidang Psikologi dengan melanjutkan Program Strata Dua di Universitas Indonesia sambil mengetuai pelaksanaan pembangunan Istana Anak –anak di Taman Mini Indoneia Indah, Jakarta pada tahun 1983 atas mandat dan kepercayaan dari Ibu Tien Soeharto. Pelaksanaan pembangunan Istana Anak-anak di TMII itu akhirnya dapat berkembang dan menyebar diberbagai cabang di Jakarta dan Bandung di bawah yayasan Mutiara Indonesia karena memiliki peminat yang cukup banyak. Dengan kerja kerasnya dan kecintaanya kepada dunia anak, Kak Seto akhirnya dapat berhasil menyelesaikan program Strata Dua (S2) pada tahun 1989 dan berlanjut sampai meraih gelar Doktor dalam bidang Psikologi pada tahun 1993 (KakSeto,http://www.tokohindonesia.Com.ensiklopedi/setomulyadi/index.shtml.Download 26 Maret 2007).
Kepiawaian dan kecintaanya kepada dunia anak, maka beliau patut mendapatkan julukan Pakar Pendidikan dan Psikologi anak Indonesia dengan mottonya : “bangsa yang besar adalah bangsa yang mencintai anak-anak dan berharap supaya semua orang menganggap setiap hari adalah hari anak”.

B. Karir dan Pengabdian
Pertama kali merantau di Jakarta, Kak Seto mengalami kegagalan dan penderitaan dengan menjadi kuli, pedagang asongan dan pembantu di hotel-hotel.akan tetapi setelah ia bertemu dengan ibu Kasur dan pak Kasur, ia diterima bekerja di Taman Kanak-Kanak Situ Lembang, Jakarta Pusat, yang akhirnya Kak Seto menjadi asisten Pak Kasur. Selain bertugas menjadi asistennya Pak Kasur Kak seto juga bekerja menjadi pembantu dan pengasuh anak di rumah Direktur Bank Indonesia, saat itu, Soeksmono Martokoesoemo hingga selesai kuliah S1 (Kak Seto, www.tokohindonesia.com)
Sejak tahun 1983, Kak Seto mulai bekerja menjadi orang kepercayaannya Ibu Tien Soeharto untuk mengetuai pelaksanaan pembangunan Istana Anak-Anak di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta dan kelompok bermain Istana Anak-anak di yang dikembangkannya sambil menyelesaikan kuliah Strata Dua di Universitas Indonesia Fakultas Psikologi.
Setelah diselesai Program S3-nya dan sebagai pakar Pendidikan Anak dan Psikologi, Kak Seto bekerja menjadi dosen di Universitas Tarumanegara, Jakarta. Selain menjadi tenaga pengajar beliau juga aktif dan kerap menjadi pembicara dalam seminar, menulis artikel, dan buku – buku tentang Pendidikan anak hingga akhirnya menjadi Dekan Fakultas Psikologi Universitas Tarumanegara Jakarta pada tahun 1994 sampai 1997 (Wawancara 20 Januari 2007).
Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah Kak Seto memiliki berbagai aktifitas selain sebagai tenaga pengajar atau Dekan diperguruan tinggi. Aktifitas yang dimaksud adalah aktifitas di lembaga sosial dengan mendirikan sekolah Taman Kanak - Kanak Mutiara Indonesia. Pada tahun 1982 sampai dengan sekarang dan juga membentuk dan mengetuai Yayasan Nakula-Sadewa yang menghimpun anak-anak kembar yang berasal dari keluarga kurang mampu semenjak tahun1984 sampai sekarang.
Praktisi yang digeluti Kak Seto pada dunia anak merupakan aktifitas yang berasal dari didikan pak Kasur. Selain Beliau juga sebagai bisnismen, artis baik dilayar lebar maupun acara anak-anak diberbagai tempat seperti mall, Taman Mini, Ancol, Play group, dan sebagainya. Hal ini dilakukan karena Kak Seto memiliki sebuah prinsip dalam berKreativitas yakni Kak Seto sebagai “SEBOA” (saintic, educator, bisnismen, organisatoris dan sekaligus menjadi artis) (Wawancara 20 Januari 2007).
Kak seto adalah tokoh pemerhati anak-anak dan giat membela anak-anak, baik menyangkut tindak kekerasan terhadap anak ataupun penindasan dan pelecehan. Untuk itu aktivitas yang diperankan Kak Seto menjadikan dirinya dinobatkan sebagai ketua Komnas Perlindungan Anak (KPA) pada tahun 1998 hingga sekarang dan bersama dengan pemerintah merealisasikan pembentukan Trauma Center di Aceh, Yogyakarta dan tempat lain yang terkena bencana alam.
Pendirian Trauma Center ini ditujukan untuk menangani gangguan traumatis pada anak-anak Aceh yang menjadi korban bencana alam Sunami yang dahsyat tersebut. Selain bergerak dilembaga nasional, Kak Seto juga merambah ke dunia internasional dalam aktifitas pengabdiannya terhadap dunia anak, dengan bukti antara lain beliau pernah menjabat sebagai:
1. Sekretaris Jenderal Ikatan Sarjana Psikologi Indonesia pada tahun 1983- 1985,
2. Director at-large International Council of Psychologists tahun 1985
3. Anggota International Society for Twins Studies sejak tahun 1985 sampai sekarang.
4. Anggota Creative Education Foundation semenjak tahun 1993 sampai sekarang.
5. Anggota World Council for Gifted & Talented Children semenjak tahun 1994 sampai dengan sekarang, dan masih banyak jabatan yang pernah dipegangnya hingga penulis tidak mampu melacaknya secara detail (Kak Seto, 2005: 62-63).
Atas pengabdian dan kecintaan Kak Seto pada dunia anak-anak sampai kapan pun akan terus dilakukannya. Dunia anak yang digeluti Kak Seto merupakan keniatan dan kemantapan hati semenjak ia bertemu dengan Pak Kasur. Yang kemantapan itu makin terlihat di saat mengasuh acara Aneka Ria Taman Kanak-Kanak di TVRI, bersama Henny Purwonegoro. Kak Seto mendongeng, belajar sambil bernyanyi, bermain sulap bersama anak-anak.
Dengan menciptakan beberapa lagu anak-anak dan memerankan bonekanya (Si Komo) sehingga ia pun makin lekat dengan anak-anak. Kehidupan yang dijalaninya dengan keoptimisan yang luar biasa, hingga akhirnya Kak Seto dapat menggondol gelar sarjana Psikologi. Dengan membaiknya keadaan ekonomi dari hasil jerih payahnya, Kak Seto mengundurkan diri dari keluarga Soeksmono dan membangun tempat tinggal di daerah Cireundeu serta memanfaatkan tanah seluas 2000 meter persegi untuk dibangun sarana bermain anak-anak seperti halnya perosotan atau ayunan, kolam renang mini, ruang kelas, ruang permainan anak dan semua ruangan didekorasi dengan berbagai warna yang ceria dan benar-benar membuat anak merasa dialam fantasi mereka. Itulah wujud peran Kak Seto dalam menjalin kecintaannya terhadap dunia anak, sehingga beliau mendapatkan berbagai penghargaan dari dalam dan luar negeri. Diantara berbagai penghargaan yang pernah diraihnya antara lain :
1. Sebagai Orang Muda Berkarya.
Penghargaan ini merupakan wujud kategori Pengabdian Kak Seto pada dunia anak-anak yang diberikan dari Presiden RI pada tahun 1987.
2. The Outstanding Young Person Of The World, kategori Contribution to World Peace dari Jaycess International yang diberikan pada tahun 1987.
3. Peace Messenger Award, New York,
Penghargaan ini diberikan oleh Sekjen PBB Javier Perez de Cuellar pada tahun 1987.
4. The Golden Balloon Award, New York; kategori Social Activity dari World Children’s Day Foundation & Unicef pada tahun 1989.
5. Ketua Komnas Perlindungan Anak (KPA) pada tahun 1998.
6. Ketua Yayasan Nakula dan Sadewa.
7. Ketua Yayasan Asah Pena Indonesia.
8. Pendiri Sekolah Rumah (homeschooling) dan sekaligus sebagai ketua Assosiasi Homeschooling sampai sekarang. Dan masih banyak lagi penghargaan yang tidak dapat diuraikan pada penelitian ini (Kak Seto, 2005: 63).


C. Karya-Karya Kak Seto Mulyadi
Aktifitas yang telah dilakukan oleh Kak seto berkaitan dengan pengabdian, perhatian, dan pembelaan kepada anak-anak banyak sekali dilakukan. Sehingga dalam pengabdiannya itu mendapatkan berbagai pengalaman mengenai perilaku dan berbagai corak kepribadian anak.
Melalui aktifitas tersebut, Kak Seto juga aktif terhadap kegiatan penelitian yang telah dilakukannya sekitar tahun 1981 sampai dengan sekarang. Diantara hasil karya tulisnya yang pernah dipublikasikan dan yang dapat penulis temukan, terkait dengan pendidikan dan cara mengasuh anak antara lain sebagai berikut:
1. Memacu Bakat dan Kreativitas
Buku ini merupakan usaha penulis yang telah diterbitkan pertama pada tahun 1998. Naskah buku ini memberikan gambaran yang lebih mudah dimengerti mengenai konsep Bakat dan kreativitas yang tersusun dalam cerita anak – anak yang disertai dengan berbagai contoh pribadi anak yang kreatif serta pola pengembangan kreativitas anak ditinjau dari strategi 4 P.
2. Bermain dan Kreativitas : Upaya Mengembangkan Kreativitas Anak Melalui Kegiatan Bermain yang terbit tahun 2004.
Naskah buku ini berisi beberapa konsep tentang kreativitas, anak pra sekolah dan kegiatan bermain. Selain itu buku ini juga memberikan penajaman dan kelanjutan dari buku yang berjudul memacu bakat dan kreativitas anak.

3. Panduan Perkembangan Anak.
Berisi tentang psikologi perkembangan anak yang menjelaskan tentang perkembangan fisik otak dan intelektual anak/tahapan perkembangan usia anak ( 0-12) tahun. Disertai tips memperkenalkan pengetahuan kepada anak.
4. Membantu Anak Balita Mengelola Amarahnya, Buku Inspiratif bagi semua orang tua untuk membantu anak mengelola emosi secara positif.
Buku ini tidak hanya memaparkan tips dan strategi mengelola amarah pada anak, akan tetapi juga menawarkan prinsip dan berbagai strategi di dalam mencerdaskan emosi anak.
5. Anakku, Sahabat dan Guruku.
6. Kreatif Sains 4-6 tahun. Buku ini merupakan cara kreatif untuk memperkenalkan sains/ilmu pengetahuan kepada anak-anak usia 4-6 tahun dengan menampilkan benda-benda atau kegiatan anak-anak dalam keseharian hidupnya.
7. Kreatif Matematika 4-6 tahun. Buku ini juga memaparkan belajar Matematika dengan model kreatif anak-anak. Selain dipublikasikan dalam bentuk buku, aktifitas tulis menulis Kak Seto juga telah di publikasikan diberbagai surat kabar, majalah, jurnal serta telah diseminarkan diberbagai lembaga pendidikan baik Taman Kanak-Kanak hingga perguruan tinggi. Tulisannya dalam bentuk artikel atau makalah dalam majalah, internet dan berbagai Koran antara lain :
1. Home Scooling, http://www.jurnalnet.com, 05 mei 2006.
2. Mengoptimalkan Perkembangan Kecerdasan pada Anak Usia Dini, makalah, Erlangga, 27 November 2005.
3. Sekolah Bukan Tempat yang Menyenangkan (Kurikulum Sekolah Terlalu Memberatkan), Pikiran Rakyat, Senin, 05 Desember 2005.
4. Bila Anak SD Menulis Buku, Suara Merdeka, Selasa 18 Mei 2004.
5. Joging Sambil Berlatih Bicara, Suara Karya, Minggu 7 Agustus 2005.
6. Cerdas Bukan Hanya Pintar Matematika, Suara Karya, Jum’at 09 September 2005.
7. Lampu Hijau Untuk Homeshcoolling, Hidayatullah,p 8-10, Juni 2006.
8. Membesarkan Anak dengan Senyum, Kompas. Com.
9. Anak Bukan Untuk Guru, Tetapi Guru Untuk Anak, Gerbang, Juli 2003, p17-20.
10. Sekolah Jadi Penjara Bagi Anak, Hidayatullah. Com.
11. Homescholling sebagai Pendidikan Alternatif, http://www.jurnalnet.com, 08 Mei 2006.
12. Hidupkan Kembali Tokoh Komo, Suara Karya, 24 Juli 2006, hal 18.
13. Rangsang si Kecil Untuk Aktif Berkreasi dengan PC http://www.komputeraktif.com. 08 Mei 2006.
Sebagai praktisi pendidikan dan kreativitas, Kak Seto juga menciptakan berbagai hasil karya non tulis baik untuk media pembelajaran terhadap anak usia prasekolah maupun yang bersifat komersial. Diantara hasil non tulis yang dimaksud adalah Boneka besar Sikomo, serta pengembangan cerita dan penambahan tokoh baru yaitu Komi sebagai komodo berwarna hijau, Kimi komodo berwarna kuning, serta Kimo yang memiliki warna merah muda yang ketiganya disingkat menjadi KOMIMO (Suara Karya, 24 Juli 2006: 18). Tokoh Sikomo memiliki beberapa teman yang merupakan hewan-hewan Indonesia, seperti Ano yang berbentuk Anoa, Beki yang merupakan ayam Bekisar, Cendi yaitu Cenderawasih dari Papua, Datu yang merupakan Badak bercula satu, Ebo adalah Elang bondol dari Jakarta yang semua nama disingkat menjadi ABCDE. Kesemua nama dan cerita Sikomo tersebut ditayangkan guna memberikan pendidikan karakter positif untuk anak karena tokoh-tokohnya adalah anak yang riang gembira, bersahabat, hidup sederhana dan saling menolong. Selain itu Kak Seto juga memproduk beberapa bentuk dongeng yang beragam dan berbagai bentuk mainan anak-anak seperti kereta kayu mainan, jam kayu Kreatif, serta berbagai lagu anak anak seperti sikomo lewat, banjir lagi, dan sebagainya. (www.suaramerdeka.com).










BAB III
KREATIVITAS ANAK USIA PRASEKOLAH

Kreativitas merupakan bagian yang penting, pokok serta tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia. Karena dengan kreativitas seseorang mampu memberikan solusi dan kemajuan hidup. Selain itu, kreativitas juga dapat menjadikan seseorang mampu melihat berbagai kemungkinan dalam pemecahan masalah serta memungkinkan manusia untuk meningkatkan kualitas dan taraf hidupnya.
Kontribusi kreativitas bagi pembentukan karakter dan kualitas masa depan peradaban umat manusia tidak bisa dipungkiri, apalagi dinafikan. Lebih lanjut Utami Munandar (1992: 45), mengemukakan bahwa kreativitas penting dalam kehidupan serta perlu dipupuk dan dikembangkan sejak usia anak-anak. apalagi pola berfikir kreatif merupakan bentuk pemikiran sampai saat ini masih kurang mendapatkan perhatian dalam pendidikan formal. Dengan bukti bahwa sekolah lebih mengedepankan aspek berfikir reaktif dan mengesampingkan model berfikir proaktif (Edward De Bono, 1993: 28) Berfikir reaktif disekolah dapat dilihat dari aktifitas sekolah yang lebih mudah meletakan dan memberikan lembar kerja siswa, buku teks dan tulisan dipapan tulis yang dihadapkan murid-murid, kemudian meminta mereka memberikan “reaksi” terhadap apa yang ada dihadapan mereka. Atau berfikir ini juga dapat dianalogikan dengan menikmati makanan direstoran yang semuanya sudah dihidangkan didepan kita tanpa susah dan berfikir untuk membeli bahan makanan atau minumannya, mengolah bahan, memanagement pengeluaran proses memasak, hingga menyajikannya. Tetapi berfikir proaktif yang berarti anak didik disekolah harus keluar kedunia nyata dan bertindak secara langsung sangat jarang sekali dilakukan. Padahal berfikir proaktif tentunya akan akan mampu menambah suatu pengalaman tertentu bagi anak
Selain itu kreativitas perlu dikembangkan karena dilatarbelakangi bahwa dengan berkreasi seorang anak dapat mewujudkan dirinya sendiri untuk mandiri dan perwujudan diri termasuk salah satu kebutuhan pokok dalam hidup manusia. Bila seorang anak melakukan aktifitas kreatif untuk dapat mewujudkan diri, maka secara langsung anak akan mencoba berfikir kreatif. Artinya bahwa seorang anak akan memiliki kemampuan untuk melihat bermacam-macam kemungkinan penyelesaian terhadap suatu masalah, hingga akhirnya anak-anak akan mendapatkan kepuasan dan selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas hidupnya.
Selain manfaat kreativitas yang telah ditawarkan Utami Munandar diatas, Torrance juga berpendapat bahwa daya imajinasi, rasa ingin tahu, dan orisinalitas dari subyek yang kreativitasnya tinggi dapat mengimbangi kekurangan dalam daya ingatan pada diri seseorang hal ini sebagaimana yang dikutip oleh Utami Munandar ( 2002: 10).
Menurut Kak Seto, kreativitas atau creativity quotion (CQ) merupakan aktifitas yang dimiliki oleh otak kanan yang lebih mudah dikembangkan dari pada IQ (wawancara, 20 Januari 2007). Sebab IQ sangat dipengaruhi oleh faktor pembawaan, belajar, kerja keras dan genetik. Sedangkan kreativitas dapat dikembangkan melalui dorongan dan kondisi lingkungan disekitar anak.
Oleh karena itu, adalah hal yang wajar bahkan merupakan suatu keharusan, apabila kreativitas dirangsang, ditumbuhkan dan dikembangkan semenjak anak usia prasekolah. Selain usia anak prasekolah yang tergolong masih suci, rangsangan yang diberikan ditahun-tahun pertama kehidupannya akan memberikan hasil yang paling besar dalam peningkatan potensinya.
Para ahli juga mengungkapkan, bahwa didalam otak anak-anak terdapat suatu mekanisme (sikap kreatif) yang hanya dapat dihidupkan dalam satu masa tertentu saja (Kak Seto, 2004: 11). Apabila mekanisme tersebut tidak dirangsang oleh lingkungannya pada saat yang tepat maka akan sulit dihidupkan kembali di masa-masa berikutnya meskipun dengan menggunakan rangsangan yang sama. Akibatnya, anak tersebut akan mengalami kerugian seumur hidupnya seperti tidak percaya diri, rasa malu yang berkelanjutan, bentuk aktifitasnya hanya menunggu komando, sehingga hidup hanya bersifat statis, pasif serta tidak memiliki inisiatif untuk maju dan berkembang.
Upaya mengembangkan kreativitas bagi anak prasekolah, Kak Seto memiliki ide-ide yang tema sentralnya adalah mengembangkan kreativitas anak ditinjau dari strategi 4 P, yaitu mengembangkan kreativitas anak ditinjau dari aspek pribadi (person), proses (process), pendorong (press), produk (product).
Pada bab ini akan penulis paparkan terlebih dahulu mengenai konsep kreativitas anak usia prasekolah dan ciri-ciri anak yang kreatif, sebelum lebih lanjut membahas tentang upaya pengembangan kreativitas anak usia prasekolah ditinjau dari strategi 4 P.

A. Kreativitas Anak Usia Prasekolah
1. Pengertian Kreativitas
Pendidikan mempunyai peranan yang sangat menentukan bagi perkembangan dan perwujudan individu, terutama bagi pembangunan masa depan bangsa dan negara. Kemajuan suatu bangsa bergantung kepada cara kebudayaan tersebut mengenali, menghargai, dan memanfaatkan sumber daya manusia dan hal ini berkaitan erat dengan kualitas pendidikan yang diberikan kepada anggota masyarakatnya atau peserta didik.
Pendidikan pada umumnya bertujuan untuk menyediakan lingkungan yang memungkinkan anak didik guna mengembangkan bakat dan kemampuannya secara optimal. Dengan pendidikan, seseorang mampu mewujudkan dirinya dan berfungsi sepenuhnya terhadap kebutuhan diri sendiri dan masyarakat. Selain itu pendidikan juga bertanggung jawab untuk memandu, membina, mengembangkan dan meningkatkan bakat serta kreativitas seseorang.
Di dalam segala aspek kehidupan, berfikir kreatif sangatlah dibutuhkan. Apalagi dengan bermacam-macam tantangan, baik dalam bidang pendidikan, ekonomi, kesehatan, politik maupun dalam bidang sosial dan budaya, secara otomatis kreativitas manusia diperlukan guna menjawab bahkan sekaligus sebagai alternatif dalam mengembangkan ide dan memecahkan persoalan dalam berbagai hal kehidupan.
Berawal dari konsepsi tersebut, bahwa kreativitas memiliki definisi yang majemuk dan multidimensional serta tidak dibatasi dengan suatu pengertian yang sangat sempit. Tetapi spektrum kreativitas memiliki cakupan yang luas. Menurut David Chambell (1986: 11), kreativitas adalah kegiatan yang mendatangkan hasil yang sifatnya baru (novel), berguna (useful) dan dapat dimengerti (understandable).
Kreativitas sebagai hasil karya baru (novel) berarti sesuatu yang bersifat inovatif, belum ada sebelumnya, segar, menarik, aneh dan mengejutkan. Berguna (useful), memiliki makna sesuatu yang bersifat lebih enak, lebih praktis, mempermudah, memperlancar, mendorong, mengembangkan, mendidik, memecahkan masalah, mengurangi hambatan, mengatasi kesulitan, mendatangkan hasil lebih baik/banyak. Sedangkan istilah dapat dimengerti (understandable) merupakan suatu hasil yang sama dapat dimengerti dan dapat dibuat dilain waktu.
Sedangkan Istilah kreativitas menurut JB. Sykes berasal dari kata sifat creative yang berarti creating, able to create, imaginative showing imagination, as well as routine skill, yang berarti pembuatan, mampu untuk berbuat, yang berdaya cipta, angan-angan, penunjukan angan-angan, keahlian sebagaimana biasanya (Semiawan, Conny, 1995: 12). Dari pengertian tersebut aktifitas kreatif tentunya merupakan sebuah kesengajaan yang dilakukan seseorang dari sebuah proses imajinasi, berfantasi (mengangan-angan sesuatu yang difikirkan) untuk mencipta suatu karya atau ide-ide tertentu.
Imajinasi dalam pengertian ini adalah suatu bagian dari pikiran yang berdaya. Artinya bahwa imajinasi dapat menjadikan seorang anak berkembang pemikiran dan penalarannya, sehingga mampu berfikir dan berkhayal yang diwujudkan dalam bentuk kerja keras untuk memperoleh sesuatu. Menurut Anna Craft (2004: 2) pikiran yang berdaya adalah suatu pikiran yang menghindarkan diri dari jebakan keadaan, namun menjadi imajinatif dalam upaya menemukan jalan keluar atas permasalahan yang ada. Maka dari itu imajinasi adalah bagian dari berfikir kreatif.
Proses berfikir kreatif dapat pula dianalogikan sebagaimana berfikir dihutan untuk menghasilkan sebuah pola berfikir divergen. Berfikir dihutan berarti berfikir kreatif yang mengandung perubahan arah dan situasi, mencari celah atau jalan keluar dengan berbagai jalan dan cara untuk memecahkannya hingga akhirnya memperoleh lubang keberuntungan. Berfikir di hutan menurut De Bono meliputi tiga hal pokok yakni pencarian, pemecahan kreatif dan lubang keberuntungan (David Cambell, 1986: 12-13).
Pencarian adalah suatu jalan untuk menemukan ide, gagasan, pemecahan masalah, penyelesaian perkara atau cara kerja baru. Sedangkan pemecahan kreatif merupakan ide, gagasan, pemecahan masalah secara khas yang akan mampu membawa seseorang kearah baru. Terkait dengan berfikir dihutan, pemecahan kreatif berada pada posisi disekeliling pencarian. Lubang keberuntungan merupakan lubang kecil pada jalan pencarian yang membawa langsung ke ide, gagasan, pemecahan, penyelesaian dan cara kerja baru.
Senada dengan pengertian kreativitas diatas, Halpern mengemukakan bahwa kreativitas merupakan suatu aktifitas kognitif atau proses berfikir untuk menghasilkan gagasan-gagasan yang baru dan berguna atau new ideas and useful (Suharnan, 2005: 373).
Apabila dilihat dari definisi tersebut maka ada dua hal yang penting yang perlu diberikan penjelasan, yakni: pertama suatu gagasan dikatakan kreatif apabila memiliki kriteria baru didalam beberapa aspeknya. Kriteria baru dapat mencakup dua perspektif, yaitu secara psikologis dan budaya. (Suharman, 2005: 373). Yang dimaksud kreatif dalam perspektif psikologis adalah suatu gagasan yang baru atau original apabila pemikir sendiri belum pernah menghasilkan gagasan itu, meski ditempat lain mungkin orang lain telah menghasilkan gagasan yang serupa namun hal itu terjadi secara kebetulan. Sedangkan menurut budaya sesuatu dianggap baru jika gagasan itu belum pernah dijumpai dilingkungan masyarakat.
Kreativitas bila dipandang dari aspek psikologis tentunya memiliki kemiripan dengan sifat Allah yang maha pencipta yang dinamakan dengan sifat Al-badi’ (Hasan Langgulung, 1991: 45-46). Makna kreativitas yang dimiliki manusia sesuai dengan sifat Al-badi’ berarti bahwa kreativitas manusia tidak bersifat sebagai pencipta murni tetapi kreativitas yang bersifat mengembangkan, meneruskan, mengkombinasikan dari sesuatu yang telah ada sebelumnya (Hasan Langgulung, 1991: 46). Hal ini dijelaskan dalamQS Al-An’am ayat 101 yang berbunyi:
بَدِ يْعُ السَّمَوَاتِ وَاْلاَرْضِ قلى اَنَّى يَكُوْنُ لَهُ وَلَذٌ وَلَمْ تَكُنْ لَّهُ صَا حِبَةٌ قلى

وَهُوَ بِكُلِّ شَيْئٍ عَلِيْمٌ (الانعام : 101)

“Artinya : Pencipta langit dan bumi, bagaimanakah ia bisa beranak padahal ia tidak beristri. Dan Ia mencipta segala sesuatu serta Ia mengetahui segala sesuatu” (QS. Al-An’am 101).
Akan tetapi kreativitas yang bermakna daya cipta yang baru/original serta belum pernah dihasilkan oleh manusia, namun hanya dimiliki oleh Allah semata dinamakan dengan sifat Al-Kholiq (pencipta), Al-Kholaq (pencipta) dan Al-Musowwir(pencipta/penggambar). Sebagaimana dijelaskan dalam Al-QS. Al- An’am 102, QS. Ya-sin 81, QS. Ali- Imron 6 sebagai berikut:
ذَ لِكُمُ اللهُ رَبُّكُمْ ج لآٰإِلَهَ اِلاَّ هُوَ خَالِقُ كُلِّ شَيْئٍ فَاعْبُدُوْهُ.

“Itulah Tuhanmu, tiada Tuhan kecuali Dia, Pencipta segala sesuatu. Dialaha pengurus segala sesuatu (QS. Al- An’am 102)”.

اَوَلَيْسَ الَّذِى خَلَقَ الشَّمَوَاتِ وَاْلاَرْضَ بِقَدَرٍ عَلىَ اَنْ يُحْلُقَ مِثْلَهُمْ قلى بَلَى

وَهُوَ الْخَلَّقُ الْعَلِيْمُ (يس : 81)


“Bukanlah yang menciptakan langit dan bumi sanggup mencipta seperti itu. Dialah maha pencipta dan maha mengetahui ( QS. Yasin 81).
هُوَ الَّذِي يُصَوِّرُكُمْ فِى اْلاَرْحَامِ كَيْفَ يَشَاءُ قلى لاٰاِلَهَ اِلاَّ هُوَ

الْعَزِيْز الْحَكِيْمُ (العران : 6)

Artinya: “Dialah yang menggambarmu didalam rahim sebagaimana is kehendaki. Tiada Tuhan kecuali Dia yang maha mulia dan bijaksana (QS. Ali Imron 6)”.
Berdasarkan berbagai pengertian diatas, dapat diambil suatu benang merah bahwa kreativitas tentunya memiliki pengertian yang tidak terlepas dari prinsip pribadi yang dimiliki oleh tiap-tiap individu. Sedangkan aktifitas atau proses kreatif digunakan untuk menghasilkan pikiran yang berdaya, terhindar dari jebakan, memiliki berbagai ide serta diperlukan dorongan dari berbagai lingkungan sehingga mampu menghasilkan sebuah produk tertentu baik baru ataupun kombinasi.
Sesuai dengan pengertian tersebut, didalam mendidik anak prasekolah yang memiliki daya imajinasi yang tinggi, mampu berkembang dan memiliki segudang ide dan gagasan yang produktif dan menghasilkan solusi, Maka kreativitas perlu dikembangkan sejak dini. Hal ini disebabkan berfikir kreatif sesungguhnya merupakan sebuah pemikiran yang melibatkan proses berfikir secara divergen (lebih dari satu jawaban), dengan ditandai oleh fluency (kelancaran), fleksibility (kelenturan), originality (baru) serta elaborasi (mengembangkan) dalam berfikir.
2. Ciri-Ciri Kepribadian Anak Kreatif
Menurut para ahli, ciri-ciri orang kreatif secara umum dikelompokan menjadi tiga kategori yakni ciri-ciri pokok, ciri-ciri yang memungkinkan dan ciri-ciri sampingan (David Chambell, 1986: 27). Ciri-ciri pokok merupakan sebuah kunci untuk melahirkan gagasan, pemecahan, cara baru dan penemuan. Yang termasuk ciri-ciri pokok yang dimiliki oleh anak yang kreatif antara lain: memiliki kelincahan mental untuk berpikir dari dan ke segala arah, fleksibilitas konseptual, orisinilitas, lebih menyukai kompleksitas dari pada simplisitas, memiliki kecakapan dalam banyak hal.
Sedangkan ciri-ciri yang memungkinkan merupakan sebuah ciri yang membuat seseorang mampu mempertahankan ide-ide kreatif yang telah dihasilkannya. Ciri-ciri ini bisa dilihat pada seorang anak yang memiliki kemampuan untuk bekerja keras, berpikiran mandiri, pantang menyerah, mampu berkomunikasi dengan baik, memiliki arah hidup yang mantap, memiliki keingintahuan intelektual yang besar serta kaya akan humor dan fantasi. Selanjutnya adalah ciri-ciri sampingan yakni tidak langsung berhubungan dengan penciptaan tetapi berupaya untuk menjaga agar ide-ide yang sudah ditemukan tetap hidup tetapi kerap mempengaruhi perilaku orang-orang kreatif. Yang termasuk ciri-ciri sampingan adalah individu yang tidak pernah mengambil pusing apa yang dipikirkan orang lain dan kekacauan psikologis.
Ciri-ciri pokok yang digunakan untuk melahirkan gagasan, pemecahan, cara baru dan penemuan diawali dengan kelincahan mental (mental agility) untuk senantiasa menerapkan pola berfikir divergen. Karena kelincahan mental merupakan salah satu kemampuan untuk bermain-main atau mencoba dengan ide-ide, gagasan-gagasan, konsep, lambang-lambang, kata-kata dan khususnya melihat hubungan-hubungan yang tak biasa antara ide-ide, gagasan, dan sebagainya ( David chambell, 1985: 28). Dari kelincahan mental yang dimiliki individu diharapkan akan mampu melihat masalah atau perkara dari berbagai arah, segi dan mengumpulkan berbagai fakta yang penting dan mengarahkan fakta itu pada masalah atau perkara yang dihadapi dengan cara memerankan hubungan antara ingatan, pikiran dan kegiatan panca indera.
Kelincahan mental untuk berfikir dari dan ke segala arah (divergent thinking) dapat dilakukan oleh tiap individu. Karena pada prinsipnya manusia hidup dapat dinyatakan dengan tiga kepribadian alami. Sebagaimana diungkapkan oleh Spearman bahwa: pertama, seseorang cenderung untuk mengtahui perasaan, kesadaran serta apa tujuannya. Kedua, apabila terdapat dua ide atau tanggapan, maka seseorang dapat mengetahui berbagai perhubungan diantara keduanya, ketiga, jika seseorang mengenali tanggapan dan hubungannya, maka akal dapat sampai kesuatu tanggapan lain yang memiliki hubungan itu juga (Cony Semiawan, 1995: 20). Dari hal tersebut dinyatakan bahwa tiap individu mampu berkembang dan berfikir kreatif.
Menurut Utami Munandar (2002: 56), pribadi kreatif yang dimiliki oleh anak prasekolah dicirikan dengan beberapa hal, antara lain: anak memiliki inisiatif dalam berfikir, imajinatif, memiliki minat yang luas, mandiri dalam berfikir, ingin tahu, senang berpetualang, percaya diri, bersedia mengambil resiko, berani dalam pendirian dan keyakinan.
Selain itu, Torrance sebagaimana dikutip Utami Munandar (2002: 56) juga mengatakan ciri-ciri individu yang kreatif dalam lingkungan masyarakat dapat ditunjukan dengan sifat berani dalam pendirian dan keyakinan, ingin tahu, mandiri dalam berfikir dan dalam memberi pertimbangan, bersibuk diri terus menerus apa yang disukainya, intuitif, ulet serta tidak bersedia menerima pendapat orang lain bila tidak sesuai dengan keyakinannya.
Berbagai ciri-ciri anak yang kreatif seperti dijelaskan diatas, maka anak yang memiliki kreativitas tinggi relatif aktif terhadap keadaan maupun stimulus yang ada sehingga berkeinginan untuk mencoba, memproses, membentuk dan menghasilkan sebuah produk tertentu serta tidak mudah menyerah dengan pekerjaan yang menantang/berpetualang.
3. Urgensi Kreativitas
Kreativitas sangat penting untuk dikembangkan sejak anak mencapai usia prasekolah. Anak usia prasekolah adalah individu yang mampu bergerak dan berfikir. Gerakan tubuh yang dilakukan anak sebagian besar tergantung dari peran motoriknya. Dengan menggunakan indera dan anggota tubuh lainnya, anak beraktifitas sesuai dengan apa yang diinginkannya.
Tahapan awal kehidupan anak merupakan tahapan penting, karena anak sudah mampu menerima keterampilan dan pengajaran sebagai dasar pengetahuan dan proses berfikir. Apalagi di usia sekitar 2-4 tahun separuh perkembangan intelektual anak telah berlangsung dengan baik. Oleh karena itu diusia 2 tahun ini biasa disebut sebagai masa keemasan (golden age) (Ali Khomsan, www. tabloid nova.com). Lebih lanjut Ali Khomsan juga menjelaskan bahwa ketika bayi baru lahir, jumlah sel otaknya sudah mencapai 66% dan beratnya 27% dari berat maksimal. Kemudian sel otak akan tumbuh sampai 90% dari berat maksimal. Jika berat otak dewasa rata-rata 1400 gram, maka diusia 2 tahun, berat otak anak sudah mencapai 1200 gram. Artinya diusia ini memang masa perkembangan otak sangat cepat.
Dengan demikian, kreativitas sangat perlu dikembangkan sejak usia dini dengan tidak terbatas pada bidang seni atau ilmu pengetahuan semata, tetapi kreativitas terdapat dalam seluruh jenis aktifitas kemanusiaan dan fisik (Amal Abdussalam Alkhalili, 2005: 380).
Melihat sisi penting perlunya kreativitas dikembangkan semenjak anak prasekolah, urgensi kreativitas menurut Hasan Langgulung (1991: 112) adalah: pertama, kreativitas sebagai gaya khas dalam hidup. Artinya bahwa seseorang anak akan mampu memandang sesuatu yang baru pada yang lama dan setiap harinya merupakan hari perubahan atau kelahiran baru baginya dalam segala hal serta memiliki gaya hidup yang dinamik. Kedua, kreativitas menjadikan anak mampu mencipta karya tertentu. Ketiga, kreativitas berperan sebagai proses intelektual, yakni kreativitas sebagai proses yang mengandung pengetahuan terperinci tentang bidang dan pengetahuan asas yang terkandung didalamnya, meletakan hipotesa-hipotesa, menguji hipotesa serta menyampaikannya kepada orang lain.
Selain hal diatas, kreativitas memiliki berbagai urgensi bagi anak prasekolah yaitu sebagai berikut:
a. Kreativitas sebagai jantung inovasi
Kreativitas sebagai jantung inovasi memiliki pengertian bahwa suatu inovasi tidak akan bergerak normal tanpa adanya kreativitas. Begitu sebaliknya, semakin tinggi kreativitas seseorang jalan kearah inovasi semakin lebar pula. Nursito (1999: 34-35) mengutip pendapat Getzels, Jackson serta Edwards dan Taylor (1961), bahwa siswa (anak) yang berkemampuan kreatif tinggi pada umumnya mampu melakukan tugas dengan sama baiknya dengan para siswa/anak yang ber-IQ tinggi dalam achievement test.
Utami Munandar (1992: 45) juga mengungkapkan bahwa kreativitas perlu dipupuk dan dikembangkan karena dengan berkreasi seseorang dapat mewujudkan dirinya. Artinya apabila seseorang yang mampu untuk berkreasi, secara otomatis organ tubuh berupa otak, kekuatan fisik dan hati akan bersatu untuk memperoleh: pertama, berprestasi, yaitu dorongan untuk mengatasi tantangan, untuk maju dan berkembang; kedua, berafiliasi yakni dorongan untuk berhubungan dengan orang lain secara efektif, ketiga berkompetensi, yaitu dorongan untuk mencapai hasil kerja dengan kualitas tinggi. Sehingga dari ketiga hal tersebut merupakan salah satu bagian penting dari kebutuhan manusia.
Kreativitas pada diri individu memiliki urgensi yang pokok bagi kehidupan. Karena menurut pembagian kerja tubuh, kedudukan kreativitas memiliki peran sepertiga dari bagian yang lain untuk mewujudkan bakat yang dimiliki seorang anak. Seperti diungkapkan Renzulli yang dikutip Cony Semiawan dkk (1990: 67) dalam bagan sebagai berikut:

Komitmen pd tugas

kemampuan rata rata

KreativitasKK



Bagan diatas menunjukan bahwa keberhasilan berprestasi seseorang dalam menjalani kehidupan manakala mampu menggabungkan antara kemampuan yang dimiliki oleh tiap individu, komitmen terhadap tugas serta mengembangkan kreativitas. Sedangkan bakat menduduki posisi kecil dari keberhasilan seseorang.
Kemampuan diatas rata-rata tidak berarti bahwa kemampuan itu harus unggul. Yang pokok ialah bahwa kemampuan itu harus cukup diimbangi oleh kreativitas dan tanggung jawab terhadap tugas. Karena kreativitas merupakan kemampuan yang dimiliki oleh individu untuk memberikan gagasan-gagasan dan menerapkannya dalam pemecahan masalah yang di lakukan berdasarkan ciri-ciri aptitude dan non aptitude. Sedangkan tanggung jawab/pengikatan diri terhadap tugas menunjuk pada semangat motivasi untuk mengerjakan dan menyelesaikan suatu tugas. Artinya bahwa pengikatan diri dari dalam yang berupa motivasi instrinsik untuk bertanggung jawab terhadap suatu tugas.
Dengan demikian anak yang berfikir kreatif akan mampu mengembangkan dan menggunakan semua bakat yang dimiliki, menggunakan waktu, kesempatan serta kemampuannya, sehingga mampu mencapai kepuasan dan kualitas hidup.
b. Dengan Kreativitas anak lebih terpacu untuk belajar.
Pemikiran kreatif adalah pemikiran yang menghargai pendapat anak. Belajar dengan menghargai pendapat anak akan membuka pengetahuan lebih luas dan berkembang. Karena anak akan lebih berani mengungkapkan gagasan kreatifnya. Disamping itu anak-anak yang dihargai cenderung akan terhindar dari berbagai masalah psikologis serta akan tumbuh dan berkembang secara optimal sehingga pada akhirnya mereka akan lebih siap dalam menghadapi berbagai masalah dan tantangan-tantangan dimasa depannya kelak.
Anak kreatif memiliki kemauan dan lebih terpacu dalam belajar. Belajar pada anak prasekolah dilakukan dengan berbagai bentuk kegiatan yang menyenangkan, diantaranya bermain, mencoba sesuatu, bereksperimen, bertanya, bernyanyi, dan sebagainya. Melalui kegiatan seperti ini, anak prasekolah mencoba menjadi dirinya sendiri, meskipun gerakan yang dilakukannya bernilai imitasi.
c. Kreativitas sebagai pemecah berbagai problem.
Memecahkan suatu permasalahan diperlukan berfikir secara kreatif. Berfikir Kreatif menurut para ahli merupakan proses berfikir secara divergen. Menurut Guilford sebagaimana yang dikutip oleh Suharnan (2005: 377) bahwa proses berfikir divergen (divergent thingking) adalah suatu proses berfikir yang berorientasi pada penemuan jawaban atau alternatif yang banyak.
Berfikir divergen tepat digunakan dalam menghadapi berbagai persoalan. Berfikir kreatif dalam menghadapi berbagai persoalan dan mengatasi problem solving diperlukan latihan dan pembiasaan bagi anak. Menurut Wallas, agar kreativitas muncul dalam proses mengatasi suatu permasalahan dan memunculkan ide baru diperlukan empat tahapan, yakni tahap persiapan, inkubasi, pencerahan dan pelaksanaan (Utami Munandar, 2002: 59).
Tahap persiapan menurut Wallas adalah suatu tahap berorientasi tugas ketika seseorang melakukan riset dengan membaca, mewawancarai orang, bereksperimen, bertualang atau mengumpulkan fakta dan ide seperti yang dikutip oleh Jordan (1997: 54-55). Dalam tahap persiapan ini, seseorang aktif mengolah informasi dengan belajar berfikir, mencari jawaban, bertanya untuk memunculkan ide baru/memecahkan persoalan, dan tentunya proses persiapan menjadi kreatif juga dipengaruhi oleh pengalaman yang dimiliki, pengetahuan dan pendidikan.
Tahap inkubasi merupakan tahap istirahat, masa menyimpan informasi yang sudah dikumpulkan, lalu berhenti dan tidak lagi merenungkannya. Tetapi pikiran bawah sadar berfungsi mengaitkan berbagai gagasan untuk menghasilkan sesuatu yang baru.
Tahap pencerahan/iluminasi yaitu tahap munculnya suatu gagasan baru dalam pikiran untuk menjawab tantangan kreatif yang sedang dihadapi yang seakan-akan ide tersebut berasal dari ketiadaan. Tahap pencerahan merupakan gagasan baru yang berpindah dari alam pikiran tidak sadar ke alam sadar. Untuk memunculkan ide melalui tahap pencerahan, seseorang hendaknya mampu mengkondisikan diri dalam keadaan santai dan bebas tekanan. Tahap yang terakhir adalah tahap pelaksanaan/verifikasi sebagai masa pembuktian seseorang memberi bentuk pada ide atau gagasan baru.
Berfikir divergen akan mampu mengembangkan kreativitas anak prasekolah. Melalui berfikir divergen, anak prasekolah diharapkan mampu mengatasi berbagai permasalahan dengan melibatkan kelancaran berfikir (fluency), yakni kemampuan seseorang untuk menghasilkan gagasan yang banyak, keluwesan berfikir, (flexibility) yakni kemampuan seseorang untuk menghasilkan gagasan-gagasan yang terdiri dari kategori-kategori yang berbeda-beda atau kemampuan memandang sesuatu (objek, situasi atau masalah) dari berbagai sudut pandang, originalitas yakni bentuk keaslian berfikir mengenai sesuatu yang belum difikirkan orang lain atau tidak sama dengan pemikiran orang-orang pada umumnya, serta elaborasi yakni kemampuan memerinci suatu gagasan pokok kedalam gagasan-gagasan yang lebih kecil.


d. Menumbuhkan kecerdasan sosial pada anak.
Sikap kreatif yang dikembangkan sejak masa prasekolah akan mampu menumbuhkan kecerdasan sosial. Kecerdasan sosial yang dimaksud adalah anak-anak cenderung untuk memahami dan mampu berinteraksi dengan orang lain atau teman-temannya, sehingga mudah dalam bersosialisasi dengan lingkungan disekelilingnya. Selain mampu memahami dan berinteraksi dengan baik, anak yang memiliki kecerdasan sosial akan terbiasa menjalin persahabatan yang akrab dengan teman-temannya, juga termasuk kemampuan seperti memimpin, mengorganisasi, menangani perselisihan antar teman, memperoleh simpati dari anak yang lain dan sebagainya.
e. Mampu memiliki kecerdasan intra personal
Anak usia prasekolah memiliki aktifitas pokok yaitu bermain. Dalam kelompok bermain, anak akan berusaha untuk memilih teman yang dianggap menyenangkan dan membantunya. Dalam berinteraksi dengan teman seusianya, anak usia prasekolah sudah cenderung berusaha untuk memahami kawannya dan biasanya memilih teman yang disukainya. Sejalan dengan berkembangnya pola pikir kreatif anak, anak usai prasekolah telah memiliki kecerdasan intra personal. Kecerdasan ini adalah suatu kecerdasan yang menunjukan kemampuan untuk peka terhadap dirinya sendiri.
Kecerdasan intra personal merupakan kemampuan anak untuk mengenali berbagai kekuatan maupun kelemahan yang ada pada dirinya sendiri. Melalui kecerdasan intra personal inilah anak-anak akan senang untuk melakukan introspeksi diri, mengoreksi kekurangan maupun kelemahannya, kemudian mencoba untuk memperbaiki diri.

B. Faktor Yang Mempengaruhi Pengembangan Kreativitas Anak Prasekolah
1. Faktor Internal.
a. Motivasi (Press)
Yang dimaksud motivasi dalam bahasan ini adalah motivasi intrinsik. Motivasi intrinsik adalah motiv-motiv yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam setiap diri individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu (Syaiful Bahri Djamaroh, 2002: 115).
Motivasi intrinsik merupakan motiv diri atau keinginan pribadi dari tiap individu sebagai suatu dorongan yang timbul dari dalam diri seseorang yang menyebabkan orang tersebut mau untuk bertindak melakukan sesuatu (Ngalim Purwanto, 2002: 71).
Motivasi intrinsik dalam mengembangkan kreativitas bagi anak prasekolah memiliki peran yang sangat penting. Melalui pembangkitan motivasi pada anak prasekolah menjadikan mereka memiliki keinginan dan keyakinan untuk mencoba melakukan sesuatu. Menurut Sardiman (1994: 84) motivasi memiliki tiga fungsi yaitu: mendorong manusia untuk berbuat, menentukan arah perbuatan, menyeleksi perbuatan yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan guna mencapai tujuan, atau pendorong prestasi
Pada diri setiap orang ada kecenderungan atau dorongan untuk mewujudkan potensinya, untuk mewujudkan dirinya, dorongan untuk berkembang dan menjadi matang, dorongan untuk mengungkapkan dan mengaktifkan semua kapasitas seseorang. Dorongan-dorongan ini merupakan motivasi primer untuk berkreativitas ketika individu membentuk hubungan-hubungan baru dengan lingkungannya dalam upaya menjadi dirinya sepenuhnya.
b. Ketenangan dan kesehatan
Setiap situasi menimbulkan perasaan yang disukai atau tidak disukai anak-anak. Perasaan yang tenang serta sehat akan jasmani dan rokhani dapat mempengaruhi proses berkembangnya kreativitas bagi anak. Sebab kreativitas dapat dilakukan manakala anak mampu mempersepsi dan mengaktifkan rangsangan melalui indra penglihatan, pendengaran, penciuman, peraba, dan pengecapan.
Sehat dan aktifnya indra pada anak-anak akan mampu memberikan nuansa mental dan psikologis yang berpengaruh pada perilaku dan suasana hati. Bahkan setiap indra bagi manusia merupakan suatu lingkungan mikro yang mempengaruhi pikiran, perasaan, produktivitas dan kapasitas kreativitas (Jordan Ayan, 2003: 101).
Kesehatan anak sangat dipengaruhi oleh pola asuh dan konsumsi bahan makanan. Pola asuh yang dimaksud adalah mendidik dan memelihara anak, mengurus makan dan minumnya, pakaiannya dan keberhasilannya dalam periode pertama sampai dewasa. Diantara pola asuh yang dimaksud antara lain: memberikan kecukupan ASI ekslusif selama 2 tahun, serta mengatur pola makan yang dikonsumsi agar tidak berlebihan. Mengkonsumsi makanan yang berlebihan akan berdampak pada kegemukan, malas berkreasi dan mempengaruhi proses belajar. Seperti pendapat Imam Ali bin Abi Thalib, bahwa banyaknya makanan didalam perut berakibat buruk pada intelegensi seseorang (Syafinudin Al Mandari, 2004: 95).
Selain kedua faktor diatas, mengembangkan kreativitas juga dipengaruhi oleh keinginan yang tinggi terhadap sesuatu serta cita-cita yang muncul dari pribadi anak.
2. Faktor Eksternal
Faktor eksternal yang dimaksud disini adalah faktor yang berada diluar diri anak prasekolah dimana dia hidup. Beberapa hal yang mempengaruhi berkembangnya kreativitas anak antara lain: lingkungan fisik, lingkungan sosial, pendidikan internal dan eksternal, dialog, suasana psikologis, sosio budaya, perilaku orang tua/pendidik, dan kontrol. (www.waspada online.com).
Mengembangkan kreativitas anak dipengaruhi oleh stimulus dari lingkungan maupun pengalaman yang diterimanya. Dalam pembahasan ini dipaparkan tiga hal yang mempengaruhi pengembangan kreativitas pada anak prasekolah yakni: keluarga, sekolah dan masyarakat.

a. Lingkungan Keluarga
Keluarga adalah lingkungan pertama dan utama bagi perkembangan anak. Pengaruh keluarga sangatlah besar bagi pembentukan sikap kreatif pada anak. Anak-anak sejak dilahirkan kedunia pertama kali sudah terlibat dalam pendidikan keluarga. Dalam lingkungan keluarga anak mendapatkan sentuhan pendidikan dari ayah dan ibunya, maupun kerabat disekelilingnya. Dengan hal itu keluarga merupakan bagian awal keberhasilan pendidikan terhadap anak-anak dirumah.
Rumah adalah tempat paling baik bagi anak (Nano Sunartyo, 2006: 30). Maksud dari pernyataan itu, karena dirumah anak bisa belajar lebih banyak pengetahuan dan merasa terpuaskan seiring dengan kemampuannya sendiri. Dalam kehidupan rumah pula anak tidak harus merasa bersaing dengan teman-teman sekelasnya disekolah, tidak perlu merasa ketakutan dalam menjawab soal yang diberikan orang tua, dan ia bisa langsung mendapat penghargaan jika berprestasi dan mendapat koreksi saat ia melakukan kesalahan. Syafinudin Al Mandiri (2004: 1) mengutip pendapat Kak Seto bahwa:
Di sekolah, umumnya anak-anak belajar tentang. Yaitu tentang: hitungan, alam semesta, hewan, manusia, tumbuh-tumbuhan, geologi dan sebagainya. Ditempat kursus, anak-anak umumnya belajar melakukan. Yaitu melakukan sesuatu keterampilan tertentu, seperti bermain piano, komputer dan sebagainya. Sedangkan dirumah, anak-anak belajar menjadi. Yakni menjadi dirinya sendiri sebagai manusia seutuhnya yang unik.

Kegiatan belajar dalam mengembangkan kreativitas anak prasekolah dirumah merupakan bentuk kegiatan yang sesungguhnya, yang membuat anak-anak bisa tumbuh dan berkembang secara lebih optimal sesuai dengan berbagai potensi unggul yang dimilikinya. Tetapi mengembangkan kreativitas anak usia prasekolah sangat dipengaruhi oleh pendidikan keluarga yang diterapkannya. Orang tua yang memiliki kesibukan dalam berkarir, kurangnya perhatian terhadap anak, sehingga komunikasi antara anak dan orang tua seakan luntur ditelan kepadatan kerja.
Peran ibu dalam keluarga merupakan pendidikan dasar yang tidak dapat diabaikan sama sekali (Nano Sunartyo, 2006: 70). Ibu yang merawat, mendidik dan bergaul dengan anak harus mampu melaksanakan suasana belajar dalam kondisi apapun. Peran ibu sebagai pendidik dasar sekaligus pengembang kreativitas dirumah dilakukan dengan berbagai sikap dan perbuatan, antara lain: ibu mampu menjadi sumber dan pemberi kasih sayang, sebagai pengasuh, pemelihara kesehatan serta bertanggung jawab terhadap perkembangan jasmani dan rokhani, sebagai tempat mencurahkan isi hati, sebagai pengatur kehidupan dalam rumah tangga, sebagai pembimbing hubungan pribadi, dan pendidik dalam segi-segi emosional.
Kondisi eksternal yang mendorong perilaku kreatif pada anak usia prasekolah dalam keluiarga hendaknya selalu memberikan keamanan dan kebebasan psikologis (Utami Munandar, 2002: 57). Memberikan keamanan secara psikologis dapat dilakukan dengan tiga proses yang saling berhubungan, yakni: menerima individu akan kelebihan dan kekurangannya, menguasahakan suasana yang didalamnya evaluasi eksternal tidak ada serta memberikan pengertian secara empatis. Sedangkan pemberian kebebasan psikologis berarti memberikan kesempatan kepada anak untuk bebas mengekspresikan secara simbolis pikiran ataupun perasaannya.
Peran keluarga dalam mengembangkan kreativitas anak bisa juga dilakukan melalui model pengasuhan ibunya Einstein, yakni dengan sikap memaafkan, membimbing dengan kasih sayang, dan kesabaran serta tidak membebani anaknya (Wahyudin, 2003: 12).
Model pengasuhan ibu Einstein sangat memungkinkan kreativitas anak berkembang. Berbekal dari sikap menerima anak apa adanya dengan tulus (genuine accapetance), tidak menjatuhkan harga diri anak meskipun memiliki banyak kekurangan, pada akhirnya Einstein bisa menerima kekurangan dan kelebihan dirinya sehingga ia mampu mengembangkan kreativitasnya. Sikap orang tua semacam ini juga diajarkan Rosululloh SAW melalui sabdanya yang artinya;
Sesungguhnya Allah merahmati orang tua yang membantu anaknya untuk berbakti kepadaya. kata Nabi Saw. Orang–orang disekeliling beliau bertanya, bagaimana cara orang tua mendidik anaknya ya Rasulullah? Nabi Saw menjawab; dia menerima yang sedikit darinya, memaafkan yang menyulitkannya, tidak membebaninya, tidak pula memakinya.” (Wahyudin, 2003: 13).

Hadits yang diriwayatkan dari Abi Abdillah tersebut mengajarkan kepada kita empat prinsip dalam menghadapi dan mengembangkan kreativitas anak, yakni menerima anak apa adanya, memaafkan yang menyulitkannya, tidak membebani mereka dengan target-target dan keinginan kita, serta tidak memaki atau memberi julukan-julukan yang buruk kepada anak, betapapun mereka telah menjengkelkan hati kita. Sehingga kreativitas dimungkinkan akan dapat dikembangkan.
Dalam mengembangkan kreativitas anak prasekolah orang tua harus memiliki kesadaran dan pengetahuan yang cukup. Anggapan orang tua bahwa semua kegiatan balita hanyalah bermain dan tidak berdampak pada pengembangan kecerdasan juga merupakan anggapan yang salah. Karena anggapan seperti itu memiliki implikasi yang sangat tidak menguntungkan yaitu pembatasan terhadap kegiatan mereka dan merupakan faktor yang melemahkan dorongan belajar mereka. Sehingga anak-anak tidak memiliki cukup kesempatan untuk mengembangkan kreativitasnya.
Untuk mengembangkan kreativitas pada anak prasekolah, orang tua harus menyediakan lingkungan yang menggairahkan. Orang tua seharusnya mencoba menggunakan prinsip-prinsip yang membantu anak-anak agar belajar dengan gembira atau lebih tepatnya “bermain sambil belajar” (Nano sunartyo, 2006 : 23). Karena hal tersebut tidak semata memberi keuntungan pada perkembangan intelek dan kreativitas anak, tapi juga bisa mempererat hubungan orang tua dengan anak.
Dengan menerapkan prinsip “bermain sambil belajar” anak akan menjadi lebih kreatif dan pada saat yang sama anak akan menjadi lebih gembira. Anak prasekolah yang diterapkan pola belajar dengan prinsip bermain sambil belajar senantiasa tidak merasa tertekan dan dipaksa untuk belajar. Pemaksaan terhadap anak akan menimbulkan prinsip lain yakni belajar sambil bermain-main. Dari kedua prinsip tersebut dapat ditarik kejelasan bahwa dalam mengembangkan kreativitas pada anak prasekolah hendaknya orang tua mampu mengemas belajar dalam lingkungan yang menyenangkan serta penuh kedamaian dan kasih sayang, yang pada akhirnya anak akan belajar dengan kebahagiaan dan keberhasilan.
Mengingat pentingnya tugas dan tanggung jawab keluarga dalam pembentukan anak-anak yang kreatif, maka orang tua harus dapat memenuhi kasih sayang serta menjaga dan mengembangkan potensi dasar kreativitas anak. Orang tua harus dapat memberikan perhatian yang penuh terhadap hal-hal yang dapat mendukung anak melakukan kegiatan kreatif. Dengan demikian apabila ditemukan anak terhenti kreativitasnya, maka lebih disebabkan karena ketidakwaspadaan orang tua terhadap perkembangan psikologis anak.
b. Lingkungan Sekolah
Setelah keluarga, lingkungan kedua adalah sekolah. Disekolah anak diatur dengan tata aturan yang ada dari mulai disiplin waktu, kerapihan, berpakaian, juga mata pelajaran yang telah diprogramkan dalam kurikulum sebagai upaya untuk memberikan stimulus baru bagi perkembangan kreativitas anak.
Menurut berbagai pendapat ahli, usia prasekolah merupakan masa yang paling optimal untuk merangsang kemampuan pikir atau dasar belajar pada anak. Tetapi kebanyakan orang terkadang bersikap meremehkan kemampuan anak. George W. Beadle mengatakan bahwa kebanyakan dari kita selalu memandang rendah kemampuan anak untuk belajar. Karena biasanya kita tidak pernah mau mendengarkan pendapat dan kemauan anak (Nano sunartyo, 2006 : 15). Dari hal tersebut, belajar bagi anak prasekolah hendaknya bersifat fleksibel dan kondisional dengan menghargai kemampuan anak. Selain itu pendidik berperan sebagai penampung aspirasi anak agar dapat berkembang bakat, minat, kecerdasan dan kreativitasnya.
Pendidikan sekolah merupakan lanjutan dan bantuan dari pendidikan keluarga (Nano sunartyo, 2006: 68). Adapun bentuk pendidikan bagi anak usia prasekolah meliputi Taman Kanak-Kanak, Kelompok Bermain dan Penitipan Anak (day care). Taman Kanak-Kanak terdapat dijalur pendidikan sekolah, sedangkan Kelompok Bermain dan Penitipan Anak berada dijalur pendidikan luar sekolah.
Di Taman Kanak-Kanak (TK) Kreativitas dapat dikembangkan. Sebab program pembelajaran di Taman Kanak-Kanak merupakan satu kesatuan program kegiatan belajar yang utuh (Soemiarti Patmonodewo, 2003: 68). Artinya program kegiatan belajar dalam Taman Kanak-Kanak bertemakan lingkungan disekitar kita seperti halnya panca indera, keluarga, rumah, sekolah, makanan dan minuman, kendaraan, pekerjaan, rekreasi, air dan udara, api, alat transportasi, alat komunikasi, gejala alam, pesisir serta pegunungan, dan sebagainya. Selain itu dalam aktivitas pembelajarannya juga telah menerapkan pembelajaan survey/praktek langsung, discovery learning yang terkemas dalam permainan. Dari berbagai tema yang terdapat dalam proses pembelajaran di Taman Kanak-Kanak akan sangat memberikan pengaruh bagi perkembangan Kreativitas anak.
Lingkungan sekolah yang baik bagi anak prasekolah adalah bebas dan menyenangkan. Artinya bahwa lembaga pendidikan bagi anak tidak membebani anak, tidak membius pemikiran originalnya, serta mampu menanamkan rasa percaya diri dan kemandirian anak (Syafinudin Al Mandari, 2004: 3).
Untuk mengembangkan kreativitas anak prasekolah, model pendidikan di Taman Kanak-Kanak seharusnya tidak disajikan secara indoktrinasi, namun dengan percobaan (eksperimen), pemahaman, latihan hingga penghayatan. Sehingga proses pembelajaran dilakukan dengan nyaman, komunikatif dan dialogis antara anak dengan teman maupun gurunya. Apabila proses pembelajaran dan pengembangan kreativitas anak dilakukan, maka dapat tercapai fungsi sekolah yang baik, yakni:
Fungsi sekolah selain dipandang sebagai stimulan (perangsang) utama berkembangnya kemampuan improvisasi anak, baik untuk mata pelajaran maupun aspek lain termasuk afektif dan psikomotorik, sekolah juga dapat menjadi media yang cukup baik untuk mengajarkan dan membiasakan anak melakukan pembauran dengan orang lain, masyarakat atau lingkungannya” (Syafinudin Al mandarin, 2004: 87).

Bermain merupakan kegiatan untuk menumbuh kembangkan kreativitas di Taman Kanak-Kanak. Dengan bermain anak akan merasa senang secara spontanitas sehingga mampu memberikan rasa aman secara psikologis pada anak. Begitu pula dengan suasana bermain aktif, anak akan memperoleh kesempatan yang luas untuk melakukan eksplorasi guna memenuhi rasa ingin tahunya serta anak bebas mengekspresikan ide-idenya.
Peran guru bagi pendidikan anak prasekolah sangat penting. Guru merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi berkembang tidaknya kreativitas bagi anak. Guru yang otoriter, menakutkan, menyebalkan akan membuat jengkel dan mengakibatkan anak prasekolah tidak nyaman. Untuk itu guru hendaknya mampu berperan tidak sebatas sebagai pengatur dan sumber informasi, tetapi guru seharusnya berperan sebagai fasilitator dan katalisator bagi anak (Adi W Gunawan, 2004: 165).
Peran guru sebagai fasilitator bagi anak prasekolah berarti guru di Taman Kanak-Kanak memfasilitasi proses pembelajaran yang berlangsung dikelas maupun diluar kelas. Guru mampu mendesain ruangan sekreatif mungkin, mempersiapkan sarana dan prasarana yang dibutuhkan anak, merancang proses pembelajaran, menetapkan materi apa yang akan dipelajari anak, apa hasil yang ingin dicapai, level berfikir apa yang ingin digunakan untuk memeriksa kemajuan anak. Dengan demikian peran guru sebagai fasilitator secara langsung mempersiapkan fasilitas belajar anak dengan maksud memacu anak untuk berfikir kreatif serta belajar sesuai dengan kemampuan anak yang bersifat fleksibel.
Peran kedua, guru sebagai katalisator dalam mendidik dan mengembangkan kretivitas anak prasekolah. Peran guru sebagai katalisator berarti guru membantu anak-anak dalam menemukan kekuatan, talenta, dan kelebihan yang dimilikinya. Oleh karena itu guru bertindak sebagai pembimbing, mengarahkan, dan mengembangkan aspek kepribadian, karakter, emosi serta aspek intelektual yang pada akhirnya anak diharapkan mampu berfikir kreatif.
Kreativitas perlu dikembangkan melalui proses pembelajaran di Taman Kanak-Kanak, agar anak mampu mengerti dan menemukan kesenangan serta kebahagiaan dalam menjelajahi dunia ilmu pengetahuan. Selain itu, anak-anak diharapkan benar-benar siap menjadi manusia pembelajar yang kreatif, manusia yang siap dan akan terus belajar seumur hidup mereka.
c. Lingkungan Masyarakat
Yang dimaksud lingkungan masyarakat sebagai pengaruh dalam mengembangkan kreativitas anak prasekolah adalah mencakup kondisi sosio kultural disekitar anak. Artinya dalam mengembangkan kreativitas anak prasekolah dipengaruhi oleh kondisi dan peranan kebudayaan dimasyarakat serta kondisi dari luar yang berinteraksi dengan manusia, dapat berwujud benda seperti udara, langit, bumi, iklim, air, dan sebagainya.
Meskipun didalam ayat Al-qur’an maupun hadits nabi tidak ada satu ayat pun yang menyatakan bahwa faktor lingkungan sebagai faktor pokok yang mempengaruhi pertumbuhan kepribadian dan kreativitas anak, tetapi banyak pendapat para ahli beserta ilmuwan muslim yang mengakui bahwa faktor lingkungan sangat berpengaruh dalam pertumbuhan watak, kreativitas dan tingkah laku anak. Sebagai contoh anak yang lahir di daerah yang beriklim panas akan sangat berbeda dengan anak yang dilahirkan didaerah tropis/dingin.
Anak yang dilahirkan dan dibesarkan didaerah yang beriklim panas, sudah barang tentu udara panas, intensitas cahaya matahari sangat tinggi, maka biasanya anak akan memiliki temperamen yang keras, pemarah, serta daya Kreativitasnya rendah (Maimunah Hasan, 2002: 178).
Menilik sejarah masa lampau, bahwa dalam kurun waktu tertentu lebih banyak tampil orang-orang yang unggul seperti seniman, ilmuwan atau tokoh-tokoh dalam bidang lain. Seperti zaman kebudayaan Yunani, zaman Renaisance atau Sriwijaya dan Majapahit di Indonesia. Tampilnya berbagai tokoh unggulan dalam kurun waktu tertentu agaknya proses kreativitas lebih dihargai dan diutamakan. Akhirnya yang menurut Silvano Arieti dinamakan dengan kebudayaan creativogenic, yakni kebudayaan yang menunjang, memupuk dan memungkinkan perkembangan kreativitas (Utami Munandar, 1999: 175).
Berkembangnya kreativitas anak prasekolah dipengaruhi oleh lingkungan masyarakat. Oleh karenanya, masyarakat harus dapat mengusahakan suasana atau iklim yang baik, yang menunjang pengembangan kreativitas anak-anak. Dalam hal ini iklim atau suasana yang baik adalah bahwa anak prasekolah merasa aman secara psikologis serta bebas untuk mengembangkan dan mengungkapkan diri dalam lingkungan dimana ia hidup. Selain itu masyarakat perlu menciptakan lingkungan yang mengandung tantangan bagi anak, seperti kegiatan refresing disertai dengan perlombaan, outbond, al-rihlah al-Ilmiyah, dan kegiatan sejenisnya. Atau juga tadabbur alam dengan menghafal suratan pendek dari Al-qur’an, menggali makna hingga menyebutkan berbagai ciptaan. Kegiatan tersebut selain mampu mengembangkan kreativitas anak prasekolah, juga dapat mengantarkan anak kepada tingkatan kecerdasan yang lebih maju seperti para pakar, sastrawan dan cendekiawan yang telah menghafal Al-Qur’an sejak kecil (Amal Abdussalam Al-khalili, 2005: 385).
Selain dengan keluarga, kerja sama juga perlu dilakukan dengan berbagai pihak. Bahkan salah satu cara yang paling ampuh untuk melaksanakan upaya kreatif pada anak melalui pembentukan suatu kemitraan antar masyarakat… (Jordan Ayan, 2003: 85). Jalinan kerja sama tersebut dapat dilakukan dengan sesama anggota masyarakat, pendidik profesional, Lembaga Sosial Masyarakat (LSM) maupun pemerintah setempat. Dari berbagai elemen tersebut, pengembangan Kreativitas anak usia prasekolah dalam masyarakat setidaknya mencakup tiga aspek pokok yakni kognitif, afektif dan generatif.
Anak usia prasekolah mempunyai kebutuhan kognitif. Aspek kognitif merupakan kegiatan otak untuk mengembangkan keterampilan berfikir sejak usia dini, sehingga anak prasekolah dilatih dan dibiasakan untuk dapat mengerahkan diri dalam belajar. Kebutuhan afektif perlu diperhatikan agar anak prasekolah memiliki sikap positif dalam kehidupan, mampu berhubungan dan berkomunikasi dengan sesama teman, serta tidak melanggar norma kesopanan dan kesusilaan dalam berkreasi. Sedangkan kebutuhan generatif adalah anak-anak tidak hanya menerima pengetahuan dan keterampilan semata, tetapi ingin menemukan dan mencipta cara-cara baru untuk mengidentifikasi dan memecahkan masalah.
Mengembangkan kreativitas perlu penanganan dan dukungan serius dari lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat. Apalagi melihat mutu pendidikan di Indonesia yang semakin menurun dan jiwa kreatif yang semakin memudar, seperti diungkapkan oleh Hans Jellen dan Klaus Urban dari hasil penelitiannya pada bulan Agustus 1987 terhadap anak usia 10 tahun dengan sample 50 anak di Jakarta “menunjukan bahwa tingkat kreativitas anak Indonesia memiliki urutan terendah dari 8 negara lainnya, seperti Negara filiphina, AS, Inggris, Jerman, India, RRC, Kamerun, Zulu dan Indonesia”.(Andang Ismail, 2005: 285).
Pengaruh lingkungan terhadap pengembangan kretivitas anak prasekolah lebih besar peranannya. Lingkungan memenuhi suasana hati dan keseluruhan cara memandang hidup bagi anak. Dengan lingkungan mampu memberikan rangsangan kuat pada perasaan, ide, wawasan terhadap orang yang ditemui oleh anak atau kejadian yang dialaminya. Maka dari itu dalam mengembangkan kreativitas anak prasekolah hendaknya pendidik ataupun orang tua lebih memahami dan belajar mengendalikannya agar upaya pengembangan kreativitas terlaksana maksimal.

C. Teknik-Teknik Pengembangan Kreativitas
Mengembangkan kreativitas anak prasekolah disesuaikan dengan tingkatan usia dan kemampuan yang dimilikinya. Usia prasekolah atau identik dengan istilah praoperasional dicirikan dengan adanya fungsi semiotik. Artinya bahwa pada kisaran usia ini anak lebih menekankan penggunaan simbol atau tanda untuk menjelaskan suatu obyek yang saat itu tidak bersama dengan subyek. Selain itu tahap usia perkembangan praoperasional juga dicirikan dengan dua tahapan usia, yakni : 2-4 tahun sering sekali dengan model berpikir simbolik. Sedangkan usia 4-7 tahun dicirikan dengan model berfikir intuisi.
Pengembangan kreativitas pada anak prasekolah tidak hanya meliputi bidang-bidang tertentu seperti bermain, menggambar dan bernyanyi semata. Tetapi kreativitas dalam bidang keberagamaan juga penting diperhatikan. Hal ini dimaksudkan agar anak semenjak usia prasekolah sudah mengenal nilai-nilai moral, kreatif untuk berperilaku positif serta mampu berinteraksi dengan teman ataupun orang yang lebih tua dengan sopan.
Dalam mengembangkan kreativitas bidang pendidikan agama semenjak anak prasekolah diperlukan nilai-nilai, sikap ataupun perbuatan secara simbolis. Pada masa ini anak berada pada kisaran usia 2-4 tahun. Seperti orang tua menanamkan kreativitas akan nilai sebuah kejujuran dan keikhlasan tidak semata-mata menyampaikan pengertian, tetapi mencontohkan/mengaplikasikan secara langsung sikap jujur dan ikhlas tersebut. Kemudian si anak diberikan kesempatan untuk mengungkapkan apa makna dari kejujuran dan keikhlasan.
Dari pemberian pendidikan tersebut, orang tua tidak hanya bersifat mendidik moral, etika atau nilai-nilai afeksi semata, tetapi secara tidak langsung mengembangkan kreativitas anak berdasarkan pendekatan nilai-nilai agama.
Selain itu, mengembangkan kreativitas pada anak usia prasekolah melalui proses belajar dan menggali sebuah pengalaman, diperlukan berbagai model pendekatan ataupun strategi pengembangannya. Adapun model belajar dalam mengembangkan kreativitas anak usia prasekolah antara lain melalui tiga tingkatan belajar kreatif yang menurut Treffinger, dimulai dari pemberian pemanasan, teknik sumbang saran dan teknik pertanyaan yang memacu gagasan (Utami Munandar, 2002: 276).
1. Pemberian pemanasan (Warming Up)
Pemberian pemanasan digunakan untuk menumbuhkan iklim atau suasana kreatif di Taman Kanak-Kanak yang memungkinkan anak untuk membuka dirinya, merasa bebas dan aman untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya. Adapun bentuk pemberian pemanasan disimbolkan secara mental. Maksudnya apabila sebelumnya anak didalam kelas dituntut untuk mengerjakan berbagai tugas yang berstruktur, seperti mengulang apa yang diucapkan guru, menghafal nama-nama kota, binatang, mengerjakan tugas lainnya yang hanya mempunyai satu jawaban yang benar seperti matematika dan berhitung, maka anak memerlukan switch mental dari proses pemikiran reproduktif dan konvergen ke proses pemikiran divergen dan imajinatif.
Suatu kegiatan yang bertujuan meningkatkan pemikiran dan tugas kreativ menuntut cara dan sikap belajar yang berbeda, lebih bebas, terbuka dan tertantang untuk berperan serta secara aktif dengan memberanikan diri dan senang memberikan gagasan sebanyak mungkin.
Model pemanasan dapat dilakukan dengan mengajukan pertanyaan terbuka yang menimbulkan minat dan rasa ingin tahu anak. Seperti “Apa saja yang kamu lakukan setelah bangun tidur?, (pertanyaan mengandung unsur kreativitas dalam bidang bersuci). Apa yang kamu lakukan dirumah?, (pertanyaan pemanasan yang mengandung nilai tolong menolong dirumah) Dan sebagainya. Selain itu, dapat pula mengajukan pertanyaan terhadap suatu masalah, misalnya alasan sering terjadinya pertengkaran antara teman disekolah. Atau dirangsang dengan mengajukan pertanyaan yang mendorong ungkapan pikiran dan perasaan yang berakhir terbuka, seperti: pertanyaan yang diawali dengan kata: andaikata, dapatkah, bagaimana (Utami Munandar, 2002: 227).
2. Sumbangsaran (Brainstorming)
Sumbang saran adalah sebuah model belajar kreatif yang memiliki prinsip tidak adanya sebuah kritik, kebebasan dalam memberikan gagasan, membuat gagasan sebanyak mungkin, serta kombinasi dan peningkatan gagasan (Utami Munandar, 2002: 278).
Mengembangkan kreativitas anak prasekolah melalui model sumbang saran hendaknya meniadakan suatu kritik. Hal dikarenakan sebuah kritik adalah bagian dari cara seseorang melakukan evaluasi dengan mencari identitas apa yang benar, apa yang salah, apa yang lemah, apa yang keliru pada sebuah jawaban dari pada memperhatikan apa yang baik.
Sebuah kritik yang diberikan terlalu cepat tanpa memberi kesempatan untuk mengembangkan suatu gagasan baru dapat mematikan kreativitas. Oleh karena itu mengembangkan kreativitas dengan teknik sumbang saran harus bersikap terbuka terhadap gagasan orang lain dan terhadap gagasan diri sendiri serta mampu memberikan kesempatan secara bergantian dalam berpendapat.
Belajar berkreativitas dengan bebas dalam memberikan gagasan serta memunculkan banyak gagasan lebih ditekankan pada aspek kuantitas. Artinya dengan semakin menghasilkan banyak gagasan, makin besar kemungkinan bahwa diantara sekian banyak gagasan ada beberapa yang baik, yang berkualitas.
Karena tuntutan akan kuantitas ini, gagasan sebaiknya dinyatakan dengan singkat, elaborasinya dapat menyusul. Karena sumbang saran yang baik berlangsung cepat, dengan semua anak aktif dan bersemangat memberi gagasan. Yang terpenting bahwa semua gagasan dicatat dengan cepat baru kemudian yang sama baru dikeluarkan.
Selain mampu mengembangkan kreativitas, memunculkan berbagai ide dan gagasan yang dimiliki anak, teknik sumbang saran juga dapat menyambung pada gagasan orang lain. Sehingga teknik ini merupakan salah satu manfaat terbesar untuk memacu dalam pemberian gagasan. Hal ini yang akhirnya akan menjadikan anak lebih kreatif dengan mampu menemukan sebuah ide ataupun penyelesaian suatu masalah.
Pengembangan kreativitas melalui teknik sumbang saran akan menumbuhkan rasa kebersamaan, tolong menolong serta persatuan, sehingga tidak adanya tuntutan persaingan sebab anak yang belum mampu menjawab akan tertolong oleh anak yang telah mampu menjawab.
3. Pertanyaan yang memacu gagasan
Pertanyaan yang memacu gagasan dikenal sebagai teknik daftar periksa yang dikembangkan oleh Alex Osborn dengan tujuan untuk meningkatkan gagasan (Utami Munandar, 2002: 281). Jenis pertanyaan yang dimaksud adalah berupa penggunaan kata kerja manipulatif guna memacu gagasan dan mengembangkan gagasan kreatif dengan melihat hubungan-hubungan baru, memanipulasi informasi dan gagasan untuk menghasilkan ide yang orisinal. Selain itu, penggunaan teknik pemberian pertanyaan yang memacu gagasan juga dapat menunjukan kemungkinan dan meningkatkan kelenturan pemikiran siswa.
Adapun jenis pertanyaan yang dapat diajukan kepada anak terdiri dari berbagai pertanyaan yang mengandung kriteria: menyesuaikan (adapt), mengubah (modify), memperbesar (magnify), memperkecil (minify), mengganti (substitute), menyusun kembali (rearrange), membalik (reverse), menggabung (combine) (Utami Munandar, 2002: 283).
Selain menggunakan kata bantu pertanyaan tersebut, jenis pertanyaan juga perlu diberikan dengan menggunakan pendekatan keimanan dan imagination. Seperti pertanyaan tentang malaikat yang berwujud abstrak, alasan pesawat dapat terbang dan menempuh perjalanan dalam jarak yang jauh dan sebagainya dengan maksud untuk menumbuhkan rasa penasaran akan sebuah jawaban dari suatu pengetahuan. Dari berbagai pertanyaan yang memacu gagasan sebagai pengembang kreativitas tentunya memberikan kesempatan dan kebebasan sepenuhnya terhadap anak untuk belajar menjawab, mencari solusi atas pertanyaan, dan menumbuhkan keberanian untuk belajar mengutarakan pendapatnya.

















BAB IV
KREATIVITAS DAN STRATEGI PENGEMBANGANNYA
MENURUT KAK SETO

Pengertian Kreativitas Menurut Kak Seto
Menurut Kak Seto, kreativitas memiliki definisi yang majemuk dan multidimensional serta tidak dibatasi dengan suatu pengertian yang sangat sempit. Tetapi spektrum kreativitas memiliki cakupan yang luas. Seperti halnya dilihat dari produknya merupakan sesuatu yang baru, meskipun bukan hasil yang betul-betul baru, tetapi kegiatan bersibuk diri untuk beraktivitas (prosesnya) yang dipentingkan pada anak prasekolah, yang dicirikan melalui ciri kognitif seperti fleksibility, originality, fluency, elaborasi, memiliki ciri afektif, tidak takut salah, bermoral, berfikir lebih luas lagi, serta keterampilan, yang didukung dan dipengaruhi oleh press secara internal maupun eksternal yang bersifat aman dan bebas berekspresi (Wawancara 20 Januari 2007).
Dari definisi diatas, bahwa kreativitas merupakan suatu proses bersibuk diri yang dilakukan oleh pribadi (anak) untuk menghasilkan sesuatu yang baru ataupun bersifat kombinasi, mengembangkan sesuatu dari produk yang baru dalam bentuk benda ataupun ide-ide, serta kegiatannya dipengaruhi oleh dorongan (press) baik internal maupun eksternal.
Bersibuk diri yang dilakukan oleh anak prasekolah menurut Kak Seto merupakan kegiatan berproses secara aktif guna memperoleh sebuah hasil dan mampu menciptakan serangkaian alternatif jawaban dari berbagai pertanyaan. Selain itu, kegiatan dinilai kreatif menakala dalam prosesnya termuat tiga bentuk sikap atau kegiatan yang bernilai kognitif, afektif maupun psikomotorik (Wawancara 20 Januari 2007).
Proses Kreatif dalam bentuk kognitif (yang berhubungan dengan pemikiran) memiliki makna bahwa kegiatan yang dilakukan anak dalam proses kreatif manakala anak menggunakan kemampuan otak dan daya pikirnya untuk merancang/berbuat sesuatu, memecahkan masalah hingga mampu menghasilkan sesuatu yang baru bagi anak. Bentuk kegiatan kognitif dikenal dengan istilah aptitude, yakni kegiatan yang berkaitan dengan kognitif atau kemampuan berfikir seperti menangkap suatu masalah, kelancaran, orisinalitas, dan elaborasi.
Sedangkan proses afektif dalam kreativitas (hal-hal yang berhubungan dengan emosi dan hati) atau yang dikenal dengan istilah non aptitude berarti suatu bentuk kegiatan yang berhubungan dengan sikap, perasaan, atau motivasi. Adapun ciri-ciri afektif dari kreativitas antara lain seorang anak memiliki rasa ingin tahu yang besar, berani mengambil resiko, bebas dalam berfikir dan sebagainya. Seperti dicontohkan oleh Kak Seto, Misalnya pencuri yang pandai mendongkrak pintu/membobol rumah, proses kegiatannya adalah kreatif tetapi bernilai negatif maka kegiatan pencuri tersebut tidak dapat dikatakan kreatif. Untuk aspek psikomotorik bahwa proses kreatif akan mampu menjadikan pribadi anak sebagai manusia yang terbiasa dan terampil dalam hal apapun baik mencipta, memunculkan gagasan, skill, memutuskan masalah, dan sebagainya.
Pada hakikatnya setiap anak adalah kreatif (Kak Seto, 2004: 10). Kreativitas yang dimiliki anak dapat dirasakan semenjak masih berada dalam kandungan ataupun setelah dilahirkan. Dalam hal ini, Kak Seto mengungkapkan bahwa aktifitas kreatif dalam kandungan ditandai dengan cepatnya si bayi merespon sebuah stimulus yang diberikan, baik melalui usapan tangan, sentuhan terhadap perut dan sebagainya. Sedangkan ciri kreatif yang terlihat diluar kandungan pada anak prasekolah secara garis besar terbagi menjadi beberapa bagian yakni; anak aktif dan peka terhadap apa yang terjadi disekitarnya, memiliki reaksi yang cepat terhadap respon, memiliki banyak keinginan, senang bertanya dan sebagainya (Wawancara, 20 Januari 2007).
Menurut Kak Seto, kreativitas yang dilakukan oleh anak prasekolah lebih diutamakan dan ditekankan pada aspek proses dari pada tuntutan dalam menghasilkan sebuah produk. Hal ini memiliki makna bahwa dengan proses yang dilalui anak prasekolah akan memberikan sumbangan tersendiri dalam mengembangkan pola berpikirnya, sehingga diakhir masa anak-anak mampu mencipta sebuah produk yang bernilai. Sedangkan bagi usia remaja dan manusia dewasa lebih dituntut pada sebuah hasil atau product tertentu sebagai wujud dari self actualitation dan kedinamisan dalam hidup (Wawancara 20 Januari 2007).
Berproses diusia prasekolah dapat memberikan sumbangan pengalaman baru, kesenangan dan pengetahuan bagi diri anak, yang dimungkinkan akan mampu memunculkan berbagai inisiatif dan sesuatu yang bermanfaat. Dengan melakukan proses kreatif diusia prasekolah ini anak juga akan mampu memiliki kelancaran dalam berfikir, menghadapi sebuah permasalahan, lentur dalam komunitas dimanapun mereka berada, hingga mampu mengembangkan ide-ide menjadi sebuah karya nyata yang orisinal.
Kemampuan berfikir kreatif dianalogikan dengan sebuah proses berfikir dihutan (Wawancara 20 Januari 2007). Istilah berfikir dihutan adalah merupakan kemampuan untuk berinisiatif terhadap sesuatu hal dengan mencari sebuah celah atau solusi melalui pencarian dan pemecahan kreatif serta menemukan sebuah penemuan. Proses berfikir dihutan dengan berkreasi, menurut Kak Seto merupakan gabungan dari berfikir mengembangkan IDEA. IDEA berarti imajinasi, data, evaluasi dan action.
Dalam melakukan sebuah aktifitas kreatif, seorang anak prasekolah tidak langsung melakukan action sesuai dengan kehendak yang diinginkannya. Tetapi diharapkan anak akan mampu mempertimbangkan sesuatu sikap dengan berimajinasi/berkhayal untuk mengangan-angan dalam melakukan aktifitas, serta menelaah data-data yang ada untuk dievaluasi, dipikirkan, dirasakan kcocokannya dalam menentukan langkah terbaik.
Berimajinasi dalam konsep IDEA adalah bagian dari pikiran yang berdaya. Artinya bahwa melalui imajinasi yang dilakukan anak prasekolah akan memberikan semangat tersendiri untuk maju berkembang dalam proses berpikir dan bernalar. Sebagai contoh, anak usia prasekolah memiliki kisaran daya ingatnya secara recognition dan evocation, akan cepat menjawab dan menginginkan sesuatu yang dikehendaki, seperti pertanyaan cita-cita, kemauan yang dikehendaki, kemampuan dan sebagainya. Hal inilah yang menjadikan anak prasekolah berkembang kreativitasnya melalui daya khayal yang dimilikinya serta motif instrinsik yang bermunculan. Selain itu menurut Kak Seto, berimajinasi yang menjadikan pikiran anak prasekolah berdaya akan mampu menghindarkan diri dari jebakan keadaan, namun menjadi imajinatif dalam upaya menemukan jalan keluar atas permasalahan yang ada. Maka dari itu imajinasi adalah bagian dari berfikir kreatif.
Konsep IDEA penting digunakan dalam pengambilan sebuah arah ataupun keputusan. Arah ataupun keputusan tentunya diambil dengan melalui pertimbangan yang matang, agar sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Berfikir kreatif melalui IDEA juga dapat mengantarkan seseorang anak kepada pribadi yang kreatif dan mampu berfikir divergen, yaitu kemampuan berfikir kreatif yang ditandai dengan adanya kelancaran berfikir atau menjawab (fluency), kelenturan dalam bersikap (fleksibilitas), keaslian dalam menghasilkan produk (orisinalitas) dan pendalaman (elaborasi) dalam berfikir.
Berawal dari berbagai konsep kreativitas yang ditawarkan Kak Seto diatas, maka istilah kreativitas tentunya tidak dapat dipisahkan antara komponen yang satu dengan yang lainnya. Artinya bahwa komponen tersebut bergandengan antara pribadi (person) anak itu sendiri, aktifitas anak dalam sebuah proses kreatifnya, dorongan-dorongan dari berbagai lingkungan sekitar, serta kemampuan memproduk dsn menhasilkan sebuah karya. Hal ini bisa diambil sebuah definisi bahwa kretivitas itu sebagai for p’s of creativity: person, process, press and product. Selain itu, produk yang dimaksud juga disesuaikan dengan kemampuan dan usia anak prasekolah yang berarti bahwa produk tentunya disesuaikan secara psikologis dan budaya, disamping produk untuk mengembangkan pola berpikir divergen.

Strategi 4 P (person, process, press, product) Menurut Kak Seto
Terkait dengan mengembangkan kreativitas anak, kita hendaknya berasumsi bahwa setiap anak pada dasarnya memiliki potensi kreatif dan kemampuan untuk mengungkapkan sesuatu secara kreatif, sesuai dengan bidang dan dalam kadar yang berbeda-beda. Menurut Maslow, manusia memiliki kemampuan untuk bersikap kreatif, spontan, penuh perhatian pada orang lain, penuh rasa ingin tahu serta kemampuan untuk berkembang secara terus menerus (Frank G Gobel, 1987: 96).
Kita dapat melihat dan mengamati bakat dan minat anak-anak yang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya. Ada yang mampu dan menyukai bidang musik, bahasa, matematika, melukis, retorika, dan lain sebagainya. Walaupun dalam kehidupan anak terdapat beragam kemampuan yang dimilikinya, tetapi yang terutama penting dalam dunia pendidikan adalah bahwa bakat kreatif sangat perlu untuk dikembangkan dan ditingkatkan sejak usia dini.
Mengembangkan kreativitas anak prasekolah diperlukan strategi yang ideal, yakni sebuah strategi diterapkan dengan menyesuaikan usia anak, kondisi lingkungan, dan perkembangan yang dimilikinya.
Secara umum, strategi mempunyai pengertian sebagai garis besar haluan dalam bertindak untuk mencapai sasaran yang telah ditentukan. Dewasa ini istilah strategi banyak digunakan dalam bidang pengajaran misalnya strategi proses pengajaran. Dihubungkan dengan mengembangkan kreativitas anak usia prasekolah, dalam skripsi ini strategi diartikan sebagai cara yang telah diatur dengan baik untuk menyampaikan suatu maksud, yang dilakukan oleh guru, orang tua maupun masyarakat kepada anak prasekolah untuk mencapai sebuah tujuan yaitu dapat berkembangnya kreativitas pada anak prasekolah.
Pengembangan kreativitas sangatlah penting ditanamkan pada anak prasekolah, sehingga anak akan menjadi manusia dewasa yang matang, kreatif, memiliki inovasi serta mampu mempunyai tingkat kecerdasan yang tinggi dan bermanfaat. Dengan strategi pengembangan kreativitas yang tepat maka akan mudah mengembangkan sikap kreatif terhadap anak prasekolah yaitu putra dan putri kita sebagai generasi penerus yang unggul.
Oleh karenanya, strategi mengembangkan kreativitas anak prasekolah seharusnya dikuasai oleh orang tua, guru, bahkan masyarakat. Terutama orang tua yang lebih serius berinteraksi dengan putra putrinya dirumah hendaknya memiliki kemampuan dan kreasi untuk mengembangkan dan mencari alternatif yang baik. Sedangkan guru terutama yang mengajar di play group atau Taman Kanak-Kanak harus menguasai strategi pembelajaran kreatif bagi anak prasekolah sehingga kemampuan, kecerdasan, keterampilan dan kreativitas anak prasekolah dapat berkembang. Dan di masyarakat hendaknya mampu menciptakan suasana lingkungan yang kreatif, sehingga ada keterpaduan antara orang tua (keluarga), guru (sekolah), dan masyarakat. Hal ini dimaksudkan agar pembentukan dan pengembangan kreativitas anak dapat terwujud.
Dalam mengembangkan kreativitas anak prasekolah, Kak Seto memiliki strategi yang dikenal dengan istilah 4 P, yakni kreativitas ditinjau dari aspek pribadi (person), proses (process), pendorong (press), dan produk (product). (Kak Seto, 2004: 12).
1. Pribadi
Menurut Kak Seto, kreativitas ditinjau dari pribadi (person) dalam diri setiap individu memiliki maksud bahwa suatu tindakan kreatif muncul dari keunikan keseluruhan kepribadian dalam interaksi dengan lingkungannya (Wawancara, 20 Januari 2007). Atau menurut Hulbeck, “creative action is an imposing of one’s own whole personality on the environment in a unique and characteristic way” (Utami Munandar, 1999: 20). Selain pengertian tersebut, Kak Seto (2004:13) juga menggambarkan dalam bentuk cerita bahwa dalam suatu pesta ulang tahun anak-anak, ada berbagai bentuk permainan diantaranya tebak ilmiah seribu jawaban. Kegiatan ini membuat semua anak mampu berfikir divergen dengan berbagai macam jawaban benar, sehingga semua anak dapat memberikan dan berebut jawaban serta menjadi dirinya sendiri. Dari kegiatan tersebut Kak Seto mendefinisikan kreativitas ditinjau dari segi pribadi anak dapat diartikan semua anak memiliki ciri-ciri dan sifat kreatif yang terdapat pada pribadi masing-masing.
Dari pengertian tersebut, pribadi kreatif tentunya muncul dari pribadi seseorang semenjak ia masih kecil dan bahkan masih dalam kandungan (Kak Seto, 2002: 13). Dalam arti yang konkret gerakan anggota tubuh, sikap dan perasaan anak-anak semenjak bayi dalam menjalin hubungan dengan lingkungan sekitarnya merupakan modal dari pribadi yang kreatif.
Dalam mengembangkan kreativitas dilihat dari aspek pribadi, aktifitas kreatif pada anak prasekolah menurut Kak Seto tidak dihalangi oleh sesuatu yang mengandung evaluasi eksternal yang dilakukan pada anak prasekolah, sikap memaksa, mendikte. Sebab hal ini akan menghalangi pribadi anak dalam berkreasi.
Menurut Kak Seto, aspek pribadi (person) berperan penting dalam pengembangan kreativitas anak (Wawancara 20 Januari 2007). Sebab kreativitas yang dilakukan oleh pribadi anak merupakan titik pertemuan yang khas antara atribut psikologis, yakni intelegensi, gaya kognitif, dan kepribadian/motivasi. Dari ketiga aspek tersebut secara bersamaan akan dapat melatarbelakangi individu yang kreatif.
Dimensi aspek intelegensi dan gaya kognitif memang hampir sama, karena kedua aspek tersebut bersumber dari otak. Akan tetapi secara prinsip fungsi dan kerja keduanya dapat dibedakan. Intelegensi meliputi kemampuan verbal, pemikiran lancar, pengetahuan, perencanaan, perumusan masalah, penyusunan strategi, keterampilan pengambilan keputusan dan keseimbangan serta integrasi intelektual secara umum. Gaya kognitif dari pribadi yang kreatif menunjukan kelonggaran dan keterikatan pada konvensi, menciptakan aturan sendiri, melakukan hal-hal dengan caranya sendiri, senang menulis, merancang dan lebih tertarik pada jabatan yang menuntut kreativitas. Sedangkan dimensi kepribadian dan motivasi meliputi ciri-ciri seperti kelenturan, dorongan untuk berprestasi dan mendapat pengakuan, keuletan dalam menghadapi rintangan dan sebagainya.
Apabila dihubungkan antara aspek pribadi dengan tiga atribut psikologis (intelegenci, gaya kognitif dan motivasi), maka keduanya merupakan sebuah kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisahkan dalam membentuk sebuah kepribadian seorang anak untuk kreatif. Disisi lain, ketiga atribut psikologis tersebut juga menjadi bekal utama pembentukan pribadi kreatif dalam membentuk anak menghasilkan produk.
Mengembangkan kreativitas ditinjau dari pribadi anak prasekolah bisa dilakukan dengan menggunakan model permainan yang menggugah berfikir anak secara divergen (Kak Seto, 1998: 101). Artinya bahwa melalui model permainan anak diharapkan memiliki kemampuan untuk memberikan jawaban yang unik dan orisinal serta kelancaran pemberian gagasan.
Model pengembangan kreativitas melalui permainan tersebut tentunya mampu memberikan kebahagiaan terhadap pribadi anak. Akan tetapi tidak semua permainan dapat terkategori positif. Permainan yang dapat memunculkan pribadi yang kreatif sehingga memunculkan ide-ide orisinal dan pribadi yang memiliki kelancaran dalam berpendapat, berkreasi, dan bertingkah yang dicontohkan oleh Kak Seto seperti halnya cerdas cermat kreatif dengan segudang jawaban, melengkapi gambar sehingga muncul ide-ide orisinal, cemerlang dan tidak malu dalam mengungkapkan jawaban, serta permainan konstruktif seperti penyusunan balok kayu membentuk sebuah formasi sesuai dengan selera anak (Wawancara, 20 Januari 2007).
Selain membahagiakan anak, pengembangan kreativitas melalui permainan juga dapat mempertajam keorisinilan karya atau ide. Sehingga anak prasekolah mampu mencipta sebuah karya yang unik, original serta inovatif. Hal ini juga dikemukakan oleh berbagai pakar, bahwa anak kurang dari 5 tahun memiliki daya pikir orisinalnya mencapai 90%.
Dengan strategi mengembangkan kreativitas dilihat dari sisi pribadi (person), diyakini bahwa setiap anak adalah kreatif dan perlu dikembangkan kreativitasnya dengan memerankan aspek intelegenci, gaya kognitif dan motivasi melalui model-model permainan secara kreatif dan konstruktif.
2. Proses
Maksud dari mengembangkan kreativitas anak usia prasekolah ditinjau dari prosesnya adalah kreativitas dapat dilihat sebagai kegiatan bersibuk diri yang berdaya guna (Kak Seto, 2004: 13). Selain itu Kegiatan bersibuk diri yang dilakukan oleh anak semata-mata tidak terlalu menekankan apa yang dihasilkan dalam proses tersebut. Namun demikian proses bersibuk diri tersebut akan lebih menghargai keasyikan individu yang timbul dari keterlibatannya dalam kegiatan yang penuh tantangan.
Kegiatan bersibuk diri yang biasanya dilakukan dengan beragam permainan, menggambar, menempel atau mewarnai dengan aneka warna dan lain sebagainya akan menjadikan anak prasekolah lebih kreatif. Bentuk kesibukan anak tersebut juga mampu menumbuhkan sikap untuk berani bereksperimen terhadap sesuatu yang dikagumi, sehingga anak memiliki keinginan untuk mencobanya. Selain itu anak yang diberi kebebasan untuk berproses akan berani dalam mengambil keputusan dan bersikap tidak takut gagal. Dari sikap sebagaimana terpapar diatas, menurut Kak Seto anak yang diberi kebebasan dalam berproses dan berfikir sesuai dengan keinginan orisinalnya akan dapat menghasilkan ilmuawan, teknokrat, teknolog, atau wiraswastawan yang tangguh, kreatif dan mampu melakukan terobosan baru untuk diri sendiri maupun lingkungan (Wawancara, 20 Januari 2007).
Menurut Kak Seto, seorang anak akan tumbuh kreatif apabila memperoleh suasana yang aman dan bebas secara psikologis dalam prosesnya (Wawancara 20 Januari 2007). Proses kreatif dikatakan aman bilamana seorang anak tidak mendapatkan tekanan kejiwaan dalam bentuk penilaian, anak diterima sebagaimana adanya dan diterima segala keunikanya. Sedangkan bebas dalam proses bersibuk diri berarti adanya kesempatan untuk dapat mengekspresikan gagasan-gagasannya secara simbolik tanpa terlalu banyak hambatan, seperti melukis bebas, membuat karangan, mencipta aneka bentuk dari bahan-bahan yang tersedia dan sebagainya.
Bentuk dari proses kreativitas yang dilakukan anak prasekolah dilakukan dengan berbagai coret mencoret, mewarnai, bermain tanah, dan sebagian terbentuk dari aktifitas fisik. Selain itu, menurut Kak Seto, sebuah sumbang saran dan pemberian berbagai pertanyaan juga perlu diberikan sebagai proses berpikir kreatif meskipun bentuk pertanyaanya sederhana. Karena kreativitas merupakan sebuah proses, maka sebuah proses kreatif dalam perwujudannya tidak selalu membahagiakan orang tua. Terutama bila proses tadi dipahami tidak dengan empati, namun dipahami dengan visi orang tua. Bila proses kreativitas anak hanya dinilai dengan visi orang tua semata, maka proses kreatif akan selalu dinilai sebagai hal yang merepotkan, merusak, atau mengganggu. Padahal aktivitas anak seperti itulah yang dapat mengembangkan kreativitasnya (Wawancara, 20 Januari 2007)
Oleh karena itu, berproses kreatif pada anak prasekolah dilakukan secara tahap demi tahap. Proses kreatif dilakukan sedikit demi sedikit, dari hal yang paling sederhana lalu dilengkapi, kemudian dikaji ulang, dibenarkan dan akhirnya dilanjutkan ke aktivitas selanjutnya. Dari keseluruhan proses kreatif membutuhkan waktu tersendiri dalam setiap tahapannya sehingga sesuatu hal dikerjakan tidak ada yang instan.
Kegiatan bersibuk diri secara kreatif sangat tepat apabila diterapkan bagi anak usia prasekolah. Karena diusia 2-6 tahun anak sudah mampu menikmati berbagai jenis aktivitas bermain, bernyanyi dan mengenal keindahan dalam bentuk warna.
Proses kreativitas pada anak prasekolah tidak semata menuntut untuk menghasilkan produk-produk baru. Akan tetapi melalui proses kreatif inilah seorang anak akan asyik dan semakin berminat untuk melakukan suatu kegiatan dan mampu menemukan hubungan antara satu gagasan dengan gagasan yang lain, sehingga pada saatnya nanti kegiatan tersebut akan mampu melahirkan produk-produk yang lebih bermakna.
Dalam istilah yang lain, mengembangkan kreativitas melalui strategi proses ini adalah memberikan kesempatan dan kebebasan untuk mencoba sebuah aktifitas sehingga anak akan berlatih untuk lancar dalam berfikir, longgar, original dan mampu mengembangkan sebuah ide menjadi kenyataan.
3. Pendorong (press)
Strategi yang kedua dalam mengembangkan kreativitas anak usia prasekolah adalah dengan memberikan press yakni memberikan dorongan atau motivasi. Motivasi yang dimaksud adalah suatu usaha yang disadari untuk menggerakan, mengarahkan, dan menjaga tingkah laku seseorang agar ia terdorong untuk bertindak melakukan sesuatu sehingga mencapai hasil atau tujuan tertentu (Kak Seto, 2002: 13).
Dalam berproses kreatif, anak prasekolah memerlukan press untuk menumbuhkan semangat dan kepribadian serba ingin tahu akan sesuatu. Oleh karena itu, Bentuk dorongan atau motivasi menurut Kak Seto terdiri dari berbagai macam hal yang mendukung proses kreatif, yakni berupa lingkungan, keadaaan, anggukan tanda setuju, jempol sebagai isyarat bagus, maupun perkataan/nasihat pendidik yang memungkinkan anak berkreasi (Wawancara seminar, 27 November 2005).
Pemberian dorongan atau motivasi yang diberikan kepada anak dapat berupa pengalaman-pengalaman, sikap orang tua yang menghargai kreativitas anak, tersedianya sarana dan prasarana yang menunjang sikap kreatif, dukungan, pemberian penghargaan, pujian, insentif, dan yang lainnya (Kak Seto, 2004: 14). Selain dorongan yang berasal dari luar (eksternal) seperti tersebut diatas, dorongan juga dapat berasal dari dalam (internal) yang berupa hasrat dan motivasi yang kuat pada diri anak itu sendiri untuk menghasilkan sesuatu.
Dorongan internal yang berasal dari diri anak sendiri biasa juga dikenal dengan istilah motif intrinsik, yakni motif yang mendorong anak untuk bertindak sesuatu yang berasal dari nilai-nilai yang terkandung dalam obyeknya itu sendiri (diri anak). Hasrat ataupun keinginan yang tumbuh pada anak prasekolah menjadi penting peranannya untuk mengembangkan kreativitas. Sebab keinginan berkreasi pada anak prasekolah sangat didahului oleh motif pribadi untuk berkehendak sehingga pribadi anak akan mencoba berproses secara kreatif.
Selain itu, dorongan yang berasal dari dalam/internal juga dipengaruhi oleh dorongan dari luar/eksternal. Dorongan dari luar akan senantiasa memberikan stimulus terhadap anak untuk berbuat dan melakukan sesuatu, mengungkapkan ide pemikirannya, sehingga berpengaruh terhadap produk yang dihasilkannya. Maka dari itu motivasi eksternal hendaknya diperhatikan dan disiapkan oleh lingkungan dalam arti pendidik dengan selalu menciptakan kondisi keamanan dan kebebasan psikologis anak.
Press secara kreatif diberikan dengan suasana aman dan bebas serta memberikan kesempatan terhadap anak untuk berkreasi (Wawancara 20 Januari 2007). Pemberian dorongan secara aman dan bebas dilakukan dengan memperhatikan kondisi psikologi anak. Seperti pemberian motivasi menurut kebutuhan anak prasekolah. yakni Dalam hal ini seorang pendidik dalam memberikan motivasi kepada anak harus terlebih dahulu mengetahui kebutuhan apa yang diperlukan anak yang akan dimotivasinya.
Dari pendapat tersebut maka pemberian dorongan kreatif terhadap anak prasekolah disesuaikan dengan kondisi yang dialami anak, serta pengambilan sikap untuk mendorong anak dengan Menerima individu sebagaimana adanya dengan segala kelebihan dan keterbatasannya dan memberikan pengertian secara empatis (Kak Seto, 2005: 15). Menerima individu sebagaimana adanya dengan segala kelebihan dan keterbatasannya berarti memberikan kesempatan secara luas terhadap minat anak, karena anak yang dihargai cenderung akan terhindar dari berbagai masalah psikologis serta akan tumbuh dan berkembang secara lebih optimal sehingga lebih siap dalam menghadapi berbagai masalah dan tantangan di masa depannya. Sedangkan memberikan pengertian secara empatis bermakna orang tua mampu mengenal dan menghayati perasaan anak, memahami pemikiran-pemikirannya, tindakan-tindakannya, serta melihat dari sudut pandang anak untuk tetap menerimanya . Dalam suasana seperti inilah anak akan dapat mengekspresikan dirinya, memiliki kesadaran, sehingga mampu membentuk hubungan dengan lingkungannya.
4. Produk
Strategi yang ke-empat sebagai usaha mengembangkan kreativitas anak prasekolah adalah strategi dilihat dari segi produk (product), yakni kemampuan individu untuk menghasilkan sesuatu yang baru atau bukan sesuatu yang baru sama sekali (Kak Seto, 1998: 62). Pengertian baru dalam menghasilkan suatu hasil karya tidak berarti benar-benar baru namun dapat berarti seseorang tetap meniru ide yang telah ada sebelumnya atau mengkombinasikan dari beberapa hal yang sebelumnya sudah ada.
Menurut Kak Seto, anak usia prasekolah sudah mampu mencipta suatu produk yang diinginkannya. Untuk dapat menghasilkan produk pada anak usia prasekolah dibutuhkan pengalaman dan suasana yang menarik bagi diri anak. pengalaman dan suasana yang menarik dapat diperoleh melalui berbagai lingkungan. Bilamana anak memiliki pengalaman dan pengetahuan banyak, maka anak akan cepat berproses kreatif dan menghasilkan produk yang baik.
Setiap anak yang kreatif mampu menghasilkan berbagai produk yang diinginkannya. Berbagai produk yang dihasilkan seorang anak sangat dipengaruhi oleh fantasi dan asosiasi (Wawancara, 20 Januari 2007). Fantasi berarti daya untuk menciptakan sesuatu didalam angan-angan terhadap sesuatu yang diimajinasikan. Sedangkan asosiasi adalah pembentukan hubungan antara gagasan, ingatan dan kegiatan panca indera.
Melalui fantasi, anak prasekolah akan mencoba mengangan tentang dirinya, bagaimana ia kalau menjadi dokter, bagaimana kalau dirinya menjadi polisi dan sebagainya sehingga keinginan anak akan terbayang dan ada usaha maupun motif instrinsik untuk menjadi apa yang diinginkannya. Sedangkan asosiasi dilakukan dengan menghubungkan berbagai peristiwa untuk memperoleh ide penyelesaiannya ataupun melakukan hubungan antara gagasan dan ingatan yang dilakukan dengan cara: menjajarkan, yakni mengambil satu gagasan dan mengadunya dengan ide lain; dari kontras yang timbul muncul ide baru, Memadukan: meminjam sifat atau aspek dari dua ide dan menyatukannya untuk bersama-sama membentuk ide, menyortir atau memilah: menggabungkan banyak ide untuk membentuk sebuah sintesis dipuncak atau dasar, ide yang benar-benar baru, yang menyatukan seluruh elemen, mengitari: dimulai dengan gambaran kabur ide baru, kemudian mempersempit pilihan untuk mendapatkan satu konsep pokok yang manjur”.
Dengan menerapkan kedua prinsip dasar tersebut, anak-anak dapat dituntun dan dibawa menuju ketingkat ketajaman berkreasi sehingga dapat mencipta suatu produk. Meskipun produk yang dihasilkan sangat sederhana seperti membuat garis, lengkungan hingga akhirnya mampu mewarnai dengan indah.
Menurut Kak Seto, sikap ekpresionis dalam berkreasi perlu diperhatikan. Karena kreatifitas yang dimiliki anak prasekolah identik bersifat ekspresionis. Maksud ekspresionis adalah suatu ungkapan bebas dan mandiri yang didalamnya tidak memiliki urgensi/kepentingan bagi kemahiran dan keaslian. Meskipun tidak memiliki urgensi yang pasti, kegiatan berekspresi digunakan sebagai latihan agar anak terbiasa berkreasi, berfikir dan mandiri. Sehingga kegiatan yang bersifat ekspresionis akan senantiasa menghasilkan berbagai produk seperti berekspresi membuat lagu, sajak, tarian dan lukisan, lakon atau permainan secara mendadak tanpa direncanakan/didahului oleh suatu maksud sebelumnya.
Dengan demikian, meskipun produk kreatif dinyatakan oleh para ahli lebih dipentingkan sebagai produk original ataupun asli, tetapi Kak Seto dalam menilai sebuah produk bagi anak prasekolah merupakan proses ekspresionis yang menghasilkan sebuah karya baru ataupun bernilai kombinasi, imitasi, mengembangkan sesuatu yang telah ada meskipun dihasilkan oleh anak dalam bentuk atau wujud yang sederhana.
Strategi 4 P Dalam Bermain Menurut Kak Seto
Bermain penting bagi pengembangan kreativitas anak prasekolah. Karena bermain merupakan dunianya anak-anak. Dimana dan dengan siapa anak-anak berkumpul, disitu pula akan muncul permainan, baik permainan kata, lelucon, mewarnai gambar dengan krayon serta aktivitas lain yang terlihat tampak remeh.
Istilah bermain sudah dikenal sejak zaman dahulu. Akan tetapi untuk membuat definisi yang tepat dari istilah bermain, tidak mudah untuk diungkap pengertiannya. Secara umum bermain sering dikaitkan dengan bentuk aktifitas anak-anak yang dilakukan secara spontan dalam suasana riang gembira. Menurut Kak Seto bermain memiliki lima pengertian:
a. Bermain adalah sesuatu yang menyenangkan dan memiliki nilai positif bagi anak.
b. Bermain tidak memiliki tujuan ekstrinsik namun motivasinya lebih bersifat intrinsik.
c. Bermain adalah bersifat spontan dan sukarela serta tidak ada unsur keterpaksaan dan bebas dipilih oleh anak.
d. Bermain melibatkan peran aktif keikutsertaan anak.
e. Bermain memiliki hubungan sistematik yang khusus dengan sesuatu yang bukan bermain, seperti misalnya Kreativitas pemecahan masalah, belajar bahasa, perkembangan sosial, dan sebagainya” (Kak Seto, 2004: 54-55).

Dalam pengertian tersebut, Kak Seto mendefinisikan secara tegas tentang pengertian bermain, yakni apabila suatu aktivitas yang dilakukan oleh anak terkesan menyenangkan dan anak akan terus melakukannya. Namun bila suatu aktivitas permainan tidak menyenangkan anakpun akan menghentikan permainan tersebut. Selain itu bermain juga melibatkan interaksi antara anak dengan orang lain, teman-temannya atau lingkungan disekitarnya serta bermain juga berfungsi sebagai play yakni sebagai sebuah aktivitas bermain mencari kesenangan tanpa mencari menang dan kalah, seperti halnya bermain konstruktif atau destruktif dan melamun.
Dari berbagai pengertian, bermain merupakan kegiatan yang menyenangkan dan spontan sehingga hal ini memberikan rasa aman secara psikologis pada anak. Begitu pula dalam suasana aktif dimana anak memperoleh kesempatan yang luas untuk melakukan eksplorasi guna memenuhi rasa ingin tahunya, anak bebas mengekspresikan gagasan-gagasannya melalui khayalan, drama, bermain konstruktif dan sebagainya. Maka dengan hal ini akan memungkinkan anak mengembangkan perasaan secara psikologis.
Bermain dalam mengembangkan kreativitas anak prasekolah dibagi dalam tiga tahapan. Tahapan-tahapan bermain ini tentunya disesuaikan dengan tingkatan usia anak prasekolah, kemampuan yang dimilikinya ataupun minat yang dimilikinya. Kak Seto membagi model permainan sebagai upaya mengembangkan kreativitas anak menjadi tiga tahapan yakni : usia 2-3 tahun, usia 3-6 tahun dan usia 6 tahun.
Tahapan pertama, anak usia 2-3 tahun merupakan masa sains of otonomy (wawancara, 20 januari 2007). Pada masa ini pribadi anak lebih menyukai berbagai kegiatan yang berhubungan dengan gerak fisik. Anggota tubuh dan motorik kasar merupakan alat yang digunakan untuk melakukan gerak fisik pada anak prasekolah. seperti halnya meraba, menyentuh, berlari, melompat, menendang dan sebagainya. Selain itu, usia ini sudah dapat membuat coretan benang kusut dan berhasil membuat garis lengkung.
Proses mengembangkan kreativitas pada usia tiga tahun pertama, rasa aman dan bebas dalam proses bermain secara psikologis merupakan kondisi penting bagi tumbuhnya kreativitas. Melalui kegiatan bermain anak diberikan kesempatan untuk mengekspresikan dorongan-dorongan kreatifnya sebagai kesempatan merasakan obyek-obyek dan tantangan untuk menemukan sesuatu dengan cara-cara baru.
Bermain bagi anak usia 2-3 tahun (sains of otonomy) lebih banyak dilakukan dengan proses bermain aktif. Maksud dari bermain aktif adalah melakukan jenis permainan dimana kegembiraan anak muncul dari apa yang telah dilakukakannnya oleh anak tersebut (aktifitas langsung). Bermain aktif yang dilakukan oleh anak usia 2-3 tahun terlihat melalui aktifitas bermain fisik untuk mengembangkan aspek motorik pada anak seperti berlari kejar-kejaran, memanjat, berayun-ayun, gerak dengan lagu dan sebagainya. Bermain aktif bila dilihat dari pengertian dan jenisnya merupakan kegiatan untuk mengembangkan otak (kognitif) yang mengandung manfaat educatif dan keterampilan (psikomotorik) yang bermanfaat kreatif bagi anak. Sebab secara langsung anak aktif melakukan kegiatan tersebut dengan berfikir dan berlatih.
Mengembangkan kreativitas pada usia tiga tahun pertama menurut Kak Seto dilakukan dengan menggunakan strategi 4 P dilihat dari prosesnya, yakni: pertama, orang tua/pendidik menyedikan tempat yang aman, luas dan bebas dari barang pecah belah atau membahayakan keselamatan anak, desain ruang di plong dan berikanlah buku-buku yang tidak mudah terlepas halaman-halamannya. (Wawancara, 20 Januari 2007). Strategi ini bermaksud untuk membiarkan anak bebas berekspresi dan belajar mengenal buku hingga mencoba membuka tiap halaman. Kedua, memperkenalkan dan menempel poster, gambar-gambar atau cat tembok dan sebagainya dengan beragam bentuk dan warna kontras dilangit-langit sebagai upaya membantu merangsang indra penglihatannya
Ketiga, kenalkan buku alfabet dengan ilustrasi warna yang kaya pada setiap halamannnya. Memperkenalkan dan membacakan buku bagi anak dapat menentukan seberapa cepat nantinya si anak mampu berbicara, membaca dan berKreativitas.
Setelah berproses dengan permainan, pemberian press juga dilakukan dengan berbagai cara. Menurut Kak Seto cara pemberian press disesuaikan dengan pengetahuan dan kesukaan anak, seperti mengangguk sebagai tanda setuju, menunjukan isyarat ibu jari sebagai tanda hebat, bergeleng sebagai tanda tidak setuju/jelek, melalui pemberian hadiah penunjang kreativitas, sentuhan, belaian dan dekapan hangat sebagai rasa aman dan kasih sayang terhadap anak.
Selain itu, Kak Seto dalam memberikan press terhadap anak prasekolah dilakukan dengan strategi dasa busana (wawancara, 20 Januari 2005). Artinya bahwa orang tua berkenan mengikuti dan memakai busana sesuai dengan tema permainan yang sedang dilakukan. Misalnya suatu permainan dengan tema perjuangan, orang tua hendaknya memakai busana yang identik dengan pejuang. Disamping alat permainan dan medianya.
Dasa busana merupakan suatu strategi bagi orang tua dalam mengembangkan kreativitas anak prasekolah. Strategi ini terdiri dari sepuluh busana (dasa busana) yang perlu dipergunakan dalam proses bermain ataupun dalam aktifitas keseharian. Bentuk strategi dasa busana meliputi: Busana anak sekolah menunjukan nilai sabar dan sahabat, busana hakim menunjukan nilai keadilan, busana dokter menunjukan nilai mampu merawat dan melayani, busana badut menunjukan nilai humoris, busana daster menunjukan seorang ibu menjadi dirinya sendiri dan sebagainya (Wawancara, 20 Januari 2007).
Setelah berproses kreatif, anak usia 2-3 tahun secara tidak langsung perlu dituntut sebuah product kreatif. Bentuk produk kreatif dapat berupa gambar, tulisan, gerakan, ucapan ataupun hasil karya lainnya meskipun dalam tataran paling sederhana. Menghasilkan suatu produk bagi anak usia 2-3 tahun dikandung maksud agar ditahun-tahun mendatang anak memiliki semangat menghasilkan sesuatu, serta produk yang dihasilkan tentunya lebih baik dan sempurna dibandingkan produk sebelumnya. Maka dari itu orang tua perlu menyediakan fasilitas sederhana, tidak perlu mahal, sehingga berbagai produk apapun bentuknya dapat dihasilkan.
Tahapan kedua, anak usia 3-6 tahun merupakan masa sains of inisiatif (Wawancara, 20 Januari 2007). Pada masa ini pribadi anak telah memiliki pikiran dengan berbagai macam rencana, ide-ide dan gagasan. Dengan berkembangnya fungsi panca indra dalam gerak motorik dan berbicara, anak usia prasekolah juga memiliki kapasitas untuk mengeksplorasikan lingkungan disekitarnya. Masa sains of inisiatif pada anak juga ditunjukan melalui kemampuan mengklasifikasikan sesuatu berdasarkan dua kriteria, seperti bentuk benda dan warna serta dapat membandingkan jumlah.
Anak Usia 3-6 tahun perlu dilatih ketajaman untuk menghasilkan IDEA (imagination, data, evaluasi dan action) (Wawancara, 20 Januari 2007). Dengan memiliki ketajaman memperoleh IDEA, anak dapat berkembang kreativitasnya, mampu mengerti bahwa suatu kejadian memiliki penyebab dan solusi, serta memiliki kemampuan untuk dapat membayangkan perasaan orang lain (tumbuhnya kecerdasan intrapersonal) maupun perasaan diri sendiri.
Dikisaran usia 3-6 tahunan, anak prasekolah telah mampu berdebat, berpendapat dan berdialog dengan lawan bicaranya. Untuk itu orang tua hendaknya mampu mengarahkan dengan mengajak anak untuk bermain sambil bercerita dan berpendapat, memperkenalkan berbagai buku-buku, dan berdialog (Wawancara, 20 Januari 2007).
Adapun jenis permainan untuk usia 3-6 tahun menurut Kak Seto (2004: 60) dibagi menjadi empat model yaitu: pertama, bermain kreatif seperti membuat lukisan/kaligrafi dengan krayon, menggambar, menulis. Maksud dari permainan ini adalah untuk memperlancar dan melatih tangan. Sebab masa ini (sekitar 4-5 tahun) telah mampu menggambar bentuk-bentuk tertentu yang biasanya merupakan gabungan dari bentuk geometrik misalnya gambar rumah.
Kedua, bermain imajinatif bentuknya semisal bermain drama, mengarang, menggambar binatang dan sebagainya. Bermain imajinatif dapat bersifat produktif dan kreatif . Pada kegiatan bermain imajinatif yang produktif dan kreatif , anak akan mampu memasukan unsur-unsur baru terhadap apa yang ia amati. Sedangkan bermain imajinatif reproduktif hanya bersifat pengulangan dari situasi yang diamati dalam hidup sehari-hari.
Selain bersifat produktif dan kreatif, bermain imajinatif memiliki beberapa manfaat lain, seperti halnya dapat membantu penyesuaian diri anak, dapat membantu pemahaman sosial pada diri anak, meningkatkan perkembangan bahasa serta memperoleh kesenangan dari kegiatan imajinatif yang dilakukan atas usaha sendiri.
Ketiga, bermain konstruktif seperti menyusun balok-balok, serta manipulative play yakni bermain dengan menggunakan alat-alat tertentu seperti obeng, gunting untuk menggunting dan menempel kertas atau kain, merakit kepingan kayu atau plastik, mencipta bentuk tertentu dari lilin mainan dan sebagainya. Dari kegiatan bermain konstruktif ini dimaksudkan agar anak dapat mengembangkan kemampuan untuk berdaya cipta (kreatif), melatih keterampilan motorik halus, melatih konsentrasi, ketekunan, daya tahan
Keempat, bermain pasif atau hiburan (amusement) yang merupakan jenis bermain dimana anak memperoleh kegembiraan melalui usaha yang dilakukan orang lain, misalnya menonton televisi, mendengarkan cerita/dongeng, menikmati musik, menonton pertunjukan wayang, menonton pagelaran dan hiburan, dan sebagainya.
Bermain pasif penting untuk mengembangkan kreativitas bagi anak prasekolah. Selain bernilai hiburan, bermain pasif juga merupakan sumbangan untuk pertambahan nilai bagi kegiatan yang dilakukan anak melalui bermain aktif. Manfaat bermain pasif antara lain anak akan memperoleh pengetahuan dan informasi, memenuhi kebutuhan anak yang tidak terdapat dalam kehidupan sehari-hari, dan mendapatkan bahan-bahan yang dapat diolah secara kreatif. Dengan demikian orang tua hendaknya mampu mengarahkan dengan mengajak anak untuk bermain sambil bercerita dan berpendapat, memperkenalkan berbagai buku-buku, dan berdialog (Wawancara, 20 Januari 2007).
Bentuk kegiatan bermain sebagai strategi kreatif untuk mengembangkan aspek kognitif dan afektif anak pada taraf sains of inisiatif dilakukan melalui beberapa hal:
a. Kenalkan anak dengan buku-buku yang menarik, kemudian bacakanlah setidaknya satu buku untuk setiap harinya. Tetapi jangan memaksa anak, melainkan cobalah membangun minatnya (Wawancara, 20 Januari 2007).
b. Sebagai taraf latihan dalam menggunakan ingatannya, cobalah untuk meminta anak bercerita kembali tentang isi buku tersebut (Seto Mulyadi, http://www.psikologiums.net/modules.com)
c. Ajarkanlah anak untuk mengenal matematika lewat obyek-obyek yang konkret,seperti menghitung anak tangga, mengetahui jumlah bulan, matahari dan lingkungan sekitar (Seto Mulayadi, http://www.psikologiums.net/modules.com).
d. Ajak anak-anak memahami tentang nilai-nilai, perilaku dan perasaannya sendiri serta memahami dan menghargai perasaan teman, orang tua maupun orang lain. (Dialog Seminar, 27 November 2005).
Pengembangan kreativitas melalui aktifitas bermain merupakan pemenuhan kebutuhan akan aktualisasi diri pada anak prasekolah. Oleh karenanya bentuk permainan hendaknya diarahkan dengan pendekatan permainan edukatif seperti yang dilakukan oleh Kak Seto melalui pembagian tahapan usia dalam memilih model permainan.
Tahapan ketiga, Usia 6 tahun keatas bagi anak prasekolah dinamakan masa sains of dustry (Wawancara, 20 Januari 2007). Masa ini merupakan masa yang banyak digunakan untuk mencipta dan berpendapat terhadap sesuatu hal. Bentuk ciptaan yang dihasilkan bisa berupa bentuk-bentuk tulisan, gambar ataupun pendapat dari anak tersebut.
Untuk mengembangkan Kreativitas dalam berpendapat, hingga mampu mengahsilkan ide-ide yang baik dan kritis, anak usia 6 tahun hendaknya dibawa kepada suatu pengalaman tertentu, misalnya menjaga adiknya dirumah. Setelah itu orang tua memberikan pertanyaan seputar kejadian yang telah terjadi dan solusi apa yang dilakukan anak (Wawancara, 20 Januari 2007). Bilamana solusi yang dilakukan anak bernilai positif, maka orang tua memberikan sanjungan dengan kasih sayang dan dorongan. Tetapi bila bernilai negatif, orang tua hendaknya meluruskan dan mengarahkan dengan tidak menyalahkan dan menampakan kemarahannya. Adapun tujuan dari kejadian tersebut adalah mendidik sekaligus mengembangkan kreativitas pola pikir pada anak dalam mengatasi sesuatu dan berpendapat sesuai dengan kemampuan ide yang dimilikinya.
Bermain dalam mengembangkan kreativitas pada usia 6 tahun menurut Kak Seto hendaknya diarahkan pada model permainan yang membutuhkan pemecahan masalah. Artinya bahwa kegiatan bermain memerlukan aktivitas fisik dan intelektual, seperti permaianan puzzle. Sehingga bermain merupakan belajar bagi anak yang dapat meningkatkan kemampuan dan mengembangkan dirinya.
Ide-ide dan pendapat yang dikemukakan anak akan bermanfaat tidak hanya dalam permainan semata, tetapi memiliki manfaat besar pula bagi pengembangan interaksi dengan teman ataupun orang lain. Maka dari itu pemberian strategi 4 P melalui kegiatan bermain bagi anak prasekolah menurut Kak Seto tentunya sama dengan model pembelajaran kreatif yang memberikan kesempatan anak untuk mengemukakan pendapat dengan cara brainstorming (curah pendapat) dan pemberian pertanyaan yang menggungah gagasan pada anak.

Identifikasi Pemikiran Kak Seto
Seorang tokoh dalam berbuat atau berfikir sesungguhnya dipengaruhi oleh keinginan-keinginan atau tekanan-tekanan yang bukan muncul dari dirinya sendiri. Hal tersebut dapat dilihat bagaimana tindakan-tindakannya secara mendalam dipengaruhi tidak hanya oleh dorongan internal yang berupa ide, keyakinan, konsepsi awal yang tertanam dalam dirinya, tetapi juga keadaan eksternal. Dengan demikian seorang tokoh tidak dapat membebaskan diri dari pengaruh lingkungannya (Eni Purwati, 1999: 106).
Oleh karena itu, proses identifikasi terhadap pemikiran Kak Seto ini dapat dilakukan dengan dua pendekatan, yaitu dari segi sumber pengambilan pemikiran dan hasil identifikasi pemikirannya. Dengan demikian dapat diambil suatu informasi tentang kedudukan atau karakteristik pemikiran Kak Seto dalam peta pemikiran para pemikir kreativitas anak prasekolah.
1. Sumber Pengaruh Pemikiran Kak Seto
Dalam bidang pengembangan kreativitas anak prasekolah, Kak Seto banyak dipengaruhi oleh dua kutub. Kutub pertama adalah para tokoh/psikolog dan pemikir kreativitas, dan kutub kedua adalah praktisi kreativitas dan pendidikan anak Indonesia (Wawancara, 20 Januari 2007).
Kutub pertama adalah para tokoh dan pemikir kreativitas yang telah banyak membentuk karakteristik dan paradigma berfikir Kak Seto. Antara lain dapatlah kiranya disebut beberapa nama, yaitu; Guilford, Utami Munandar, Conny Semiawan, yang dari beliau itu Kak Seto mengkaji pemikirannya dari dokumentasi yang ada. Lebih khusus lagi bahwa Utami Munandar adalah orang yang pertama kali memperkenalkan tentang kreativitas, sebagai pembimbing disertasi dengan tema kreativitas, dan beliau adalah salah satu dosen sekaligus guru besar Universitas Indonesia (UI) yang mendidik Kak Seto pada fakultas psikologi semenjak Sarjana (SI) hingga Doctor (S3). Selain itu, beliau juga menjadi motivator bagi Kak Seto untuk selalu belajar memperdalam kreativitas dan merupakan tokoh yang dihormatinya. Pemikiran-pemikiran tokoh tersebut juga banyak muncul dalam tulisan-tulisannya Kak Seto baik dalam buku, artikel, maupun makalah.
Tokoh kedua adalah seorang praktisi dan sekaligus tokoh pendidikan anak yaitu Pak Kasur. Pak Kasur adalah seorang tokoh pendidikan anak yang memiliki nama asli Suryono. Peran Pak Kasur dalam mendidik dan membimbing Kak Seto menjadikan beliau menjadi pecinta dunia anak-anak sejak lulus SMA, aktifis dalam acara anak (Ria Jenaka), pendidik TK dan Nakula Sadewa, hingga pada akhirnya Kak Seto melanjutkan studi pada Fakultas Psikologi, sekaligus sebagai psikolog dan praktisi pendidikan anak sampai sekarang.
Pemikiran Kak Seto banyak dipengaruhi oleh Pak Kasur dan bu Kasur khususnya pada bidang praktisi (wawancara, 20 Januari 2007). Diantara kesamaan yang ada antara lain model atau strategi dalam penerapan bermain, bernyanyi, dan bercerita/mendongeng. Bahkan model lagu anak-anak yang diciptakan Kak Seto berprinsip pada pak Kasur dan bu Kasur, yakni tidak dimunculkan huruf “R” sebab huruf ini adalah sulit manakala diucapkan oleh anak balita. Meskipun banyak lagu-lagu, strategi dan cerita yang dimodifikasi oleh Kak Seto yang diadopsi dari Pak Kasur. Dengan demikian prinsip dan wejangan mendidik anak-anak yang dimiliki Pak Kasur seperti “menang tanpa ngasorake” (dalam menasehati anak) dan istilah “kalau manis jangan langsung ditelan, kalau pahit jangan serta merta dimuntahkan” (http://www.tokohindonesia. Com) tetap dijadikan pegangan oleh Kak Seto dalam berdialog, bermain, berdebat dan belajar pada dunia anak.
Secara umum, pemikiran Kak Seto dapat digambarkan dalam komposisi sebagai berikut; pertama, dari segi pendidikan yang diperoleh, Kak Seto mendapat pendidikan ganda. Artinya, disamping mendapat pendidikan secara langsung dibangku kuliah dari jenjang SI hingga S3 pada fakultas psikologi, Kak Seto juga mendapat pendidikan pengalaman langsung sebagai praktisi pendidikan dan kreativitas bersama Pak Kasur, baik dalam pembelajaran di TK/Play Group maupun diacara hiburan dan kreativitas anak-anak di Indonesia hingga sekarang. Kedua, dari segi iklim intelektual dimana Kak Seto berkecimpung, maka pada saat sekarang iklim intelektual yang dikembangkan Kak Seto cenderung lebih menggeluti bisnis kreativitas dan artis dunia anak, dari pada aspek saintic, educator ataupun organisator (Wawancara, 20 Januari 2007).
2. Kritik Atas Pemikiran Kak Seto
Dari berbagai karya tulis yang telah penulis kaji, nampaknya Kak Seto tidak mengidentifikasi pemikirannya sebagai pembaharu yang bercorak khas tertentu. Akan tetapi beliau lebih menggeluti dunia praktisi sehingga alur berfikirnya bersifat pengembangan dan aplikatif dari teori-teori pakar yang sudah ada. Sehingga Kak Seto hanya mencipta tips atau strategi mendidik anak dan mengembangkan kreativitas sehingga tidak menciptakan teori-teori baru tentang kreativitas.
Analisis ini didasarkan pada suatu pertimbangan bahwa kompetensi Kak Seto adalah sebagai penggerak, motivator bukan sebagai pelopor/pencipta teori dalam pengembangan kreativitas anak-anak. Implikasi lebih luas adalah bahwa pemikiran Kak Seto masih bersifat statis dan kurang mengalami perkembangan yang berbeda. Hal ini dapat dilihat dari berbagai karya ilmiahnya seperti buku “Bermain dan Kreativitas”, sebagian besar isinya memiliki kesamaan dengan karya ilmiah yang lainnya seperti Memacu Bakat dan Kreativitas dan artikel ataupun makalah yang lain. Disamping itu strategi 4 P juga merupakan hasil adopsi dari Guilford dan Utami Munandar. Namun diakui oleh penulis gagasan Kak Seto telah mampu membangkitkan kembali semangat untuk senantiasa menghargai, melindungi, dan mengembangkan kreativitas semenjak anak masih kecil. Disamping itu menjadikan pengetahuan bahwa tolak ukur kecerdasan anak tidak hanya dilihat dari IQ (Intelegence Quation) semata tetapi dari CQ (Creativity Qoation).

.














BAB V
PENUTUP

A. Simpulan
Kesimpulan dari penelitian yang mengkaji pemikiran Kak Seto tentang pengembangan kreativitas anak prasekolah adalah sebagai berikut:
1. Kreativitas menurut Kak Seto adalah suatu proses bersibuk diri untuk menghasilkan sesuatu produk baik baru ataupun kombinasi yang dipengaruhi oleh dorongan/press sehingga seseorang memiliki fluency, fleksibility, elaborasi, dalam berfikir.
2. Strategi yang digunakan Kak Seto dalam mengembangkan kreativitas anak prasekolah adalah strategi 4 P (person, process, press, product) dan strategi dasa busana yang diaplikasikan dalam kegiatan bermain. Strategi 4 P tersebut merupakan bentuk strategi dalam mengembangkan kreativitas anak prasekolah ditinjau dari tiap pribadi anak memiliki kreativitas dan keunikan sejak lahir, kreativitas dapat dikembangkan hanya melalui proses/aktifitas yang bebas dan aman, dalam berproses kreatif anak prasekolah memerlukan press/dorongan, sehingga mampu menghasilkan sebuah produk. Sedangkan dasa busana adalah salah satu peran aktif orang tua untuk memberikan motivasi kreatif melalui sepuluh jenis pakaian dalam bermain serta mengikuti aktifitas kreatif anak agar mampu menghasilkan sesuatu yang orisinal.

B. Saran-saran
Dari berbagai pemikiran yang berkembang dalam penelitian ini, serta problematika yang muncul, maka penulis merumuskan rekomendasi dari hasil penelitian ini sebagai berikut:
1. Kepada para orang tua hendaknya dapat menjadi tauladan dan motivator bagi putra-putrinya dalam mengembangkan kreativitas. Bimbingan, rasa aman tanpa tekanan serta arahan yang benar pada anak akan mampu menumbuhkembangkan kreativitasnya yang bermanfaat kelak dihari depan.
2. Kepada para pendidik anak prasekolah (PAUD) hendaknya mampu menguasai strategi, memahami karakteristik anak didik serta menguasai materi pengembangan kreativitas yang akan diterapkan dan diberikan kepada anak didik.
3. Kepada masyarakat hendaknya mampu menciptakan suasana kreatif agar anak-anak kita dapat berkembang kreativitasnya dalam segala bidang. Karena masyarakat adalah lingkungan tempat berinteraksi yang lebih luas dibandingkan keluarga dan sekolah yang mempunyai pengeruh signifikan bagi perkembangan religiusitas anak.