Senin, 16 Juni 2008

Tasawuf

BERTASAWUF DI ABAD PLURAL


Pendahuluan
Sebagian kota besardi Negara Indonesia identik dengan perikehidupan plural. Makna plural dalam istilah ini adalah bebas bergerak dan bertoleransi tinggi terhadap manusia lainnya. Kebebasan dan sikap toleransi yang berlebihan pada kawasan ini pada akhirnya berdampak pada hidup yang jauh dari norma dan nilai agama. Selain itu pula manusia termotivasi hanya dengan rupiah dan meminggirkan nilai kasih sayang dan kemanusiaan.
Seperti halnya kehidupan dijakarta khususnya Jakarta pusat sebagaimana penulis pernah singgah disana beberapa bulan,terlihat dengan jelasdampak-dampak social dariperubahan dan gaya hidup berekonomi kapitalis. Dengan kawasan yang kumuh, sungai yang mengeluarkan kandungan parfum busuk, perumahan dan kontrakan mahal meskipun beridentitas sempit, sangat sederhana, sesek sumpek senggal-senggol bila memasuki sebuah gang ataupun pintu masuk. Ditambah lagi dengan pengganjal perut bernominalmahal serta lingkungan generasi penerus yang akrab dengan anggur, hidup glamour tanpa batasan muhrim.
Perikehidupan tersebut kiranya tidak hanya mealnda ibukota semata, melainkan telah meluas pada kawasan kota besar ditanah air.bahkan lebih diperparah lagi dengan perlakuan sebagian masyarakat barat yang berlebihan. Disinijuga nampaknya sudah menjadi kewajaran bahwa secara realistis dunia pendidikan nampaknya ikut berkabung dengan ulah manusia berpendidikan. Seperti halnya lembaga pendidikan berlebel islam semata-mata hanya lebih mementingkan aspek knowledge dengan memberanikan diri mengesampingkan nilai-nilai adiluhung.hal ini terbukti dengan sikap pendidik di perguruan tinggi dan maha siswanya kurang dibentuknya sebuah ikatan bathin dalam perihal penghormatan. Begitu juga dengan dosen agama menikmati makanan sambil berjalan menuju kelas atau pula menikmati makanan diemperan jalan raya dengan menghilangkan perasaanmalu meskipun dilakukan dengan apitan sungai dan selokan berair hitam. System pendidikan berbasis keteladanan rupa-rupanya telah luntur ditelan zaman. Dengan hanya melakuakn asah otak, mencukupi kebutuhan kognitif dan psikomotoriknya seraya mencemooh values pendidikan afektif.
Gambaran ini sesungguhnya tidak mendiskritkan bahwa pluralisme dan sikap toleran adalah negative seluruh unsurnya. Tetapi di wilayah sepertiinilah justru masih ada sebagian dari kehidupan menjadi penggemar masjid dan wilayah dzikir. Hal ini terbukti dengan masih terdapatnya alunan adzan di waktu shubuh dan membangunkan diwaktu tahajud,terbentuknya majelis ta’lim bahkan sebenarnya komunitas kecil ini selalu merapatkan barisan sehingga masjid dalam keadaan penuh jamaahnya dengan dilengkapi oleh berbagai Imam yang saling bergantian.
Potensi kecil inilah dapat dipandang bahwa meskipun kehidupan kota sanagt kompleks, tetapi sekelompok generasi inilah yang mampu menjadi penyeimbang kehidupan. Bahkan dengan istilah lain sebuah kehidupan keramaian di kota besar perlu di arahkan menuju masyarakat muslim yang islami, madani dan pengamal amalan sufi. Artinya bahwa mengarahkan masyarakat untuk mampu mengembangkan kehidupan seraya menebarkan dan meniti rahmat Illahi.
Ritual sufi secara perspektif modern bisa dilakukan dikawasan keramaian ataupun kehidupan glamour yang ada. Oleh sebabnya penerapan hidup tasawuf ini dimodernkan agar dapat diterima masyarakat serta tidak berlabel leter lex dengan berpakaian jubah, berjenggot bahkan berfikir serba sempit.
Pengertian Tasawuf
Tasawuf Memerlukan Bekal
Sebuah perjalanan tentunya meemrlukan bekal. Ada yang hanya mementingkan bekal materi semata, seperti uang, makanan, pakaian dan sebagainya. Serta ada juga yang memerlukan bekal non materi yakni niat dan keyakinan. Berbagai bekal apapun dapat bernilai begitu penting. Tetapi disisi lain sebuah bekal terkadang merepotkan dn membahayakan bagi pembawanya. Misalnya berbekal uang yang banyak dalam sebuah perjalanan jauh tentunya akan membahayakan jiwadikarenakan munculnya manusia lain yang berkehendak memilikinya.
Singgungan Al-qur’an terhadap manusia menyatakan bahwa sebaik-baik bekal adalah taqwa.hal ini berarti ketika manusia berjalan diatas bumi akan selalu mendapatkan sebuah ketenangan dan kebahagiaan meskipun menempuh berliku jalan dalamprosesnya. Disamping itu bekal taqwa bagi pribadi manusia akan mampu berfungsi sebagai pembangkit, penggerak dari segenap kekuatan nurani sehingga terkumpul dan mampu menempuh tantangan.
Perjalanan perjuangan menuju medan tasawuf diperlukan bekal yang matang.sebab manakala perjalanan tasawuf ini didasari oleh kematangan olah fakir yang baik setidaknya akan dapat menjadi pengamal yang tidak keliru. Begitu sebaliknya, bilamana pengaruh tasawuf hanya beridentitas taqlid dan bernilai kejumudan semata maka tidak jarang yang memperoleh kekliruan dan bertolak belakang dengan ajaran aqidah. Untuk itu medan tasawuf secara otomatis memerlukan bekal dan kekuatan yang cukup, I’tikad dan kemapanan iman yang tidak diragukan agar memiliki fungsi dan peningkatan kemuliaan. Untuk menempuh medan besar ini, sayyid sabbiq dalam kitab Annashirul quwwah fil islam sebagaimana dikutip A. Munir dan Sudarsono (1994: 174-180) mengemukakan bahwa didalam membangun dinamika kekuatan keislaman guna mencapai kemenangan dalam berbagai perjuangan diperlukan enam unsure pokok yaitu: pertama Quwwatul Iman. Kata quwwatul iman mengandung arti memiliki sebuah landasan berupa kekuatan iman. Iman dalam hal ini adalah penetralisir. Bahwa dalam memahami, mengkaji dan mengamalkan ajaran sufi dengan predikat menuju kebenaran diperlukan iman.
Jalan tasawuf adalah salah satu bagian jalan penerang. Hal ini dilator belakangi bahwa bashiroh yang berada disebuah kamar kecil pada hati manusia dapat menerima pancaran cahaya illahi berkat adanya quwwatul iman yang ditumbuhkan secara maksimal. Pembuktian secara konkret dinyatakan dalam sebuah ayat Allah bahwa “barang siapa beriman kepada Allah maka Allah akan memberinya petunjuk kedalam hati” (qs al-atqhobun ayat 11).
Prinsip pembangunan quwwatul iman dapat di gugah dan dibangun kapanpun setiap insane itu berada. Misalnya pegawai/karyawan melakukan prinsip quwwatul iman melalui pembenahan diri artinya kekukatan itu muncul karena prinsip hidup itu bila dipandang adalah sebuah rumusan perputaran. Bahkan tidak ada manusia manapun yang mampu menghasilkan uang sebanyak mungkin hanya dinikmati oleh dirinya, tetapi secara otomatis dunia hanya dinikmati berapa persennya saja.
Selain itu, quwwatul iman bisa dibentuk dengan sebuah proses penyadaran diri bahwa kehidupan dunia adalah ibarat perahu terapung diatas air yang diperlukan ongkos dalam sebuah penyebarangan. Hal ini bermakna bahwa bila telah selesai menyeberang menjalani hidup, alam dunia sudah tidak lagi menerimanya dan secara pasti manusia harus turun dan pensiun untuk nongkrong didunia. Sehingga secara paksa harus berhadapan dengan malaikat yang amanah. Makna ongkos pada kalimat diatas adalah sebuah makna kiasi yang berarti uang sering menjadi biang kerok manusia sengsara. Hingga diakhirat kelak menurut sabda rasul dua kali manusia di tanyakan pertanggungjawabannya soal harta yakni dari mana hartamu engkau peroleh dan dikeluarkan untuk apa?. Sedangkan masalah yang lain hanya satu kali.
Kedua adalah quwwatul khuluq. Secara harfiah quwwatul khuluq berarti kekuatan akhlak atau sikap. Melalui pengertian tersebut quwwatul khuluq adalah sikap seseorang yang senantiasa kuat untuk memelihara akhlak yang mulia sehingga berusaha untuk mampu menghindarkan diri dari perbuatan tercela.
Quwwatul khuluk dapat diterapkan pada segala lapisan masyarakat. Apalagi masyarakat kota, yakni dengan menampilkan kemuliaan diri sebagai aktualisasi seorang pemimpin, seorang pedagang, sebagai manajer, sebagai pengusaha,sebagai orang tua dan sebagainya. Manakala seseorang memimpin haruslah berani menanggung resiko (pahit manisnya) atau siap merasakan penderitaan rakyatnya dan bersikap adi luhur. Begitu pula dengan pengusaha. Ia secara tidak langsung bertanggung jawab terhadap seluruh pekerjanya bahkan keluarga dari pekerjanya.
Menjadi pemimpin juga perlu memperhatikan apa dan bagaimana peran yang harus digerakannya. Dalam hal ini pemimpin harus mampu berperan sebagai pendidik dengan memainkan peran menjadi simbah, simbok dan babu (Priyo Widianto, ).
Pengertian simbah adalah nenek atau kakek kita telah lanjut usia. Sifat simbah perlu dimiliki oleh relasi pemimpin dengan pegawainya dengan didasari relasi cinta kasih tanpa batas layaknya hubungan simbah dengan cucunya. Menerima jika cucunya keliru dan menyanjung dan memberikan penghargaan bila berhasil. Relasi kedua adalah sebagai simbok. Artinya relasi antara pemimpin dengan rakyatnya harus berupaya agar pekerjanya memiliki keteraturan hidup dan istiqomah. Karena simbok adalah sosok yang mengajarkan banyak hal kepada anaknya semenjak bangun tidur hingga mau tidur lagi.
Ketiga adalah relasi babu. Yakni pemimpin harus siap melayani kebutuhan pegawainya secara total akan segala hak-haknya. Misalnya kesejahteraan perlu diperhatikan, jaminan kesehatan, jaminan hari tua dan lain-lain. Atau juga bisa menjadi batur (mbat baturing catur) artinya mampu diajak berdiskusi dengan mengesampingkan demo kekerasan.



Tidak ada komentar: